Farid Bastian
Fakultas Kedokteran, Universitas Abulyatama, Aceh, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Karakteristik Penderita Hernia Inguinalis di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh Pada Tahun 2024 Zahra Phonna; Farid Bastian; M. Hendro Mustaqim
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 4 No. 1 (2026): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v4i1.592

Abstract

Hernia merupakan kasus bedah yang sering ditemui pada negara berkembang. Lebih dari 800.000 operasi untuk perbaikan hernia inguinalis terjadi pertahunnya. Hernia inguinalis merupakan hernia yang paling sering diderita laki-laki yang berusia di atas 50 tahun dan pada bayi baru lahir (kongenital). Hernia inguinalis dapat dibedakan berdasarkan lokasinya (direct, indirect, dan femoralis). Mekanisme tersering yang dapat menyebabkan terjadinya kasus hernia adalah peningkatan tekanan intra abdomen dan memiliki riwayat lemahnya otot-otot abdomen. Dua hal diatas dapat berpengaruh langsung pada saat melakukan aktivitas yang menambah beban abdomen secara signifikan seperti saat mengejan, mengangkat beban yang di luar kapasitas, obesitas dan juga kehamilan. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui gambaran distribusi pendertita hernia inguinalis di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh pada tahun 2024. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 35 orang yang mengalami hernia inguinalis. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil analisis univariat menunjukkan distribusi frekuensi hernia inguinalis kategori usia paling banyak adalah usia dewasa (49%), kategori jenis kelamin paling banyak adalah laki-laki (83%), kategori pekerjaan paling banyak adalah bekerja (57%), kategori tatalaksana paling banyak adalah hernioraphy (66%). Kategori penyakit penyerta paling banyak adalah tanpa disertai penyakit penyerta (94%) dan penderita hernia inguinalis kongenital paling banyak adalah tidak disertai dengan hernia kongenital (91%).
Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Rokok Elektrik Di Kalangan mahasiswa Anggy Zaklikha; Farid Bastian; Nelly Marisa
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 3 No. 4 (2025): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v3i4.617

Abstract

Rokok elektrik yang juga dikenal dengan vape adalah perangkat elektronik yang berfungsi untuk mengubah cairan aerosol yang kemudian dihirup oleh penggunanya. Pengguna rokok elektrik mengklaim bahwa perangkat ini membantu mereka dalam mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok. Mereka menyakini bahwa rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok tembakau, karena tidak mengandung karbon monoksida dan tar seperti yang ada dalam rokok tembakau. Penelitian ini dilakukan karena perilaku mahasiswa yang masih terbilang mudah untuk terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Alasan lain, karena peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang diduga mempengaruhi para mahasiswa dalam mengkonsumsi rokok elektrik selain dari terbawa oleh lingkungan sekitar. Skripsi ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut mengenai faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan penggunaan rokok elektrik di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional), melibatkan 96 mahasiswa/mahasiswi yang menjalankan perkuliahan di universitas sekitar Kota Banda Aceh yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2025-Juni 2025, data dikumpulkan menggunakan kuesioner online melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penggunaan rokok elektrik yaitu laki-laki (70,8%) dan usia yang paling banyak penggunaan rokok elektrik yaitu 21-25 tahun (49%). Hasil penelitian juga didapatkan bahwa faktor yang paling berhubungan dengan penggunaan rokok elektrik pada mahasiswa adalah faktor lingkungan sosial dengan p-value 0,000. Faktor gaya hidup dengan p-value 0,000 dan faktor perilaku dengan p-value 0,000
Peningkatan Kesadaran Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis Paru Melalui Edukasi Kesehatan Farid Bastian; Ratih Ayu Atika; Syarifah Nora; Meri Lidiawati; Iziddin Fadhil; Satria Safirza; Elmiyati; Ade Kiki Riezky
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 3 No. 3 (2025): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v3i3.582

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui udara dan disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini masih menjadi persoalan kesehatan yang signifikan di Indonesia. Data dari WHO tahun 2023 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada posisi ketiga dalam jumlah kasus TB terbanyak di dunia. Penyakit TB paru merupakan penyakit yang dapat dengan mudah menular melalui droplet yang dilepaskan saat penderita batuk atau bersin. Pemahaman masyarakat mengenai tanda-tanda klinis, mekanisme penularan, dan pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan masih rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai TB paru. Edukasi dilakukan secara langsung melalui penyuluhan kepada pasien dan pengunjung di ruang tunggu poli rawat jalan, dengan pendekatan visual dan partisipatif. Hasil dari kegiatan ini mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh tentang TB paru dan masih adanya stigma negatif terhadap penderita, yang menjadi hambatan dalam penanganan penyakit. Melalui sosialisasi ini, masyarakat didorong untuk menerapkan gaya hidup sehat, mengenali gejala lebih awal, dan memberikan dukungan kepada penderita TB agar dapat menyelesaikan pengobatan secara konsisten dengan mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Tingkat keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh tingkat kepatuhan pasien, yang dapat ditingkatkan melalui pendekatan kolaboratif dan dukungan dari lingkungan sosial. Kegiatan ini menekankan pentingnya peran aktif tenaga kesehatan dan edukasi yang berkelanjutan dalam menurunkan angka kejadian dan penularan TB paru di masyarakat.