Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENINGKATAN KUALITAS HIDUP SISWA SMKN 1 LELEA KABUPATEN INDRAMAYU DALAM MENGATASI STRES PERKEMBANGAN MASA REMAJA Denrich Suryadi; Julyarno Chandra; Mikaella Audrey; Natasya Alodia; Cyindy Mulapoa; Andini Dwininta
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v5i1.18629

Abstract

SMKN 1 Lelea, which is located in area of Nagrak, Taman Sari Village, consists of 1,461 students who live in theLelea sub-district, Indramayu district. Counseling teacher team that handles the students of SMKN 1 needs help toprovide education about dealing with adolescent stress related to academic problems, personal/family problems andadolescent problems in general. The purpose of this PKM program is to provide psychoeducation about the stress ofadolescent development and how to deal with stress ef ectively. The current target of PKM is for students of SMKN 1Lelea class X, amounting to 461 people. The Project MBKM group in the Village that helps SMKN 1 Leleaconducted a survey on February 23, 2022 and designed two activities, namely psychoeducational activities on howstudents are able to cope with various stresses faced during adolescent development on March 21, 2022 andcounseling activities. peer group for class X students of SMKN 1 Lelea who need personal counseling which willtake place on March 24-30, 2022. The result of this activity is an increase in knowledge about stress, its impact andpractical ways of dealing with stress on adolescent development in students of SMKN 1 Lelea class X who areattended by 130 participants. While peer counseling activities were also attended by 17 students with feedback in theform of feeling calmer. relieved, happy, more motivated, less stressed, more able to introspect, open to problems andfeelings, increase knowledge, and get more support from the counseling process. ABSTRAK: SMKN 1 Lelea yang terletak di dusun Nagrak, Desa Taman Sari memiliki 1.461 siswa yang berdomisili dikecamatan Lelea kabupaten Indramayu. Tim guru BK SMKN 1 Lelea membutuhkan bantuan untuk memberikanedukasi mengenai penanganan stres remaja terkait dengan masalah akademik, masalah pribadi/keluarga dan masalahremaja pada umumnya. Tujuan program PKM ini untuk memberikan psikoedukasi mengenai stres perkembanganmasa remaja dan cara efektif mengatasi stres. Sasaran PKM saat ini pada siswa SMKN 1 Lelea kelas X yangberjumlah 461 orang. Kelompok MBKM Proyek di Desa yang membantu SMKN 1 Lelea telah melakukan surveipada tanggal 23 Februari 2022 dan merancang dua buah kegiatan yaitu kegiatan psikoedukasi mengenai bagaimanacara siswa/i mampu mengatasi berbagai stres yang dihadapi dalam masa perkembangan remaja pada tanggal 21Maret 2022 dan kegiatan konseling sebaya bagi siswa kelas X SMKN 1 Lelea yang membutuhkan konseling secarapribadi yang berlangsung pada tanggal 24-30 Maret 2022. Hasil kegiatan ini adalah bertambahnya pengetahuanmengenai stres, dampak dan cara praktis mengatasi stres perkembangan remaja pada siswa/i SMKN 1 Lelea kelas Xyang diikuti oleh 130 orang peserta. Hasil pre-test dan post-test untuk menunjukkan perbedaan pengaruh informasidalam seminar terlihat perubahan yang signifikan. Sedangkan kegiatan konseling sebaya juga diikuti oleh 17 orangsiswa dengan umpan balik berupa perasaan lebih tenang. lega, senang, lebih termotivasi, tidak tertekan, lebihmampu introspeksi diri, terbuka dengan masalah dan perasaan, menambah pengetahuan, dan mendapatkan lebihbanyak dukungan dari proses konseling tersebut.
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN KESEPIAN PADA REMAJA AKHIR DI JABODETABEK SELAMA PANDEMI COVID-19 Denrich Suryadi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v1i2.17894

Abstract

Selama masa pandemi Covid-19, pemerintah menetapkan banyak aturan pembatasan sosial untuk mengurangi risiko penyebaran virus Corona di Indonesia. Pembatasan sosial membuat metode pembelajaran daring dan membatasi remaja untuk berinteraksi sosial. Dampak dari pembatasan sosial tersebut adalah kemungkinan remaja mengalami kesepian karena dalam masa perkembangan psikososial, remaja membutuhkan pencarian identitas diri dan belajar mengembangkan keterampilan sosial mereka melalui interaksi dengan teman sebaya. Kesepian yang dialami ini dapat mempengaruhi harga diri remaja. Penelitian ini ditujukan untuk membuktikan hubungan antara harga diri dan kesepian pada remaja akhir selama masa pandemi Covid-19. Penelitian ini melibatkan 155 partisipan berusia antara 18-22 tahun dan berdomisili di Jabodetabek. Penelitian ini menggunakan the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) untuk mengukur harga diri dan the UCLA Loneliness Scale Ver. 3 untuk mengukur kesepian. Hasil penelitian yang menggunakan metode analisis the Pearson correlation test menunjukkan adanya hubungan negative antara harga diri dan kesepian yang berarti semakin tinggi harga diri seseorang, maka semakin rendah tingkat kesepian yang dialami. This means, the higher a person's self-esteem, the lower the loneliness they will experience.Kata kunci: harga diri, kesepian, remaja akhir.
GAMBARAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING INDIVIDU DEWASA AWAL DENGAN LATAR BELAKANG KELUARGA BERCERAI An Nisaa Clarissa Sapphira; Denrich Suryadi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v2i1.19134

Abstract

Perceraian terus menjadi masalah sosial yang serius dan mempengaruhi perkembangan anak-anak, terutama pada anak berusia remaja. Individu remaja mengalami peningkatan emosionalitas yang tidak seimbang, sensitivitas, serta berbagai karakteristik dari periode transisi yang membuat mentalitas remaja dari keluarga yang tidak lengkap menjadi sangat rentan. Menurut Amato (2000) dampak dari perceraian akan mempengaruhi psychological well-being anak. Meskipun demikian, sejumlah penelitian membuktikan bahwa penyesuaian diri anak dengan orangtua bercerai dapat dilihat dari salah satu aspek penting, yaitu bagaimana kualitas hubungan yang terjalin antara anak dengan orangtua sebelum dan sesudah bercerai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran psychological well-being individu dewasa awal yang mengalami perceraian orangtua di usia remaja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara interview yang melibatkan lima orang individu dewasa awal dengan rentang usia 20-21 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelima subyek memiliki psychological well-being yang baik. Selain itu, keempat subyek telah menerima perceraian orangtua tersebut, hanya satu subyek yaitu NA yang masih belum bisa menerima sepenuhnya kenyataan tersebut.
Efektivitas Aktivitas Seni terhadap Penurunan Perilaku Menyimpang pada Tunagrahita Dewasa di Panti X, Jakarta Barat Indriani Indriani; Dindi Maulysa Rahmat; Novenda M. M. Lontoh; Denrich Suryadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i4.628

Abstract

Tunagrahita merupakan gangguan perkembangan yang ditandai dengan keterbatasan fungsi intelektual dan perilaku adaptif, terutama pada individu yang tinggal di panti dengan dukungan terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas aktivitas seni terhadap penurunan perilaku menyimpang seperti agresi, menyakiti diri, dan perilaku repetitif pada tunagrahita dewasa di Panti X, Jakarta Barat. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan desain eksperimen one-group pretest-posttest. Enam partisipan dipilih berdasarkan kriteria perilaku yang teridentifikasi melalui hasil observasi. Intervensi dilakukan selama tiga hari melalui enam sesi aktivitas seni yang mencakup berbagai kegiatan mengenal emosi menggunakan kertas emosi dan origami bergambar, menarik garis bergambar, mendengarkan musik relaksasi, membuat kolase dari kacang hijau, karya dari stik kayu, membuat boneka kaos kaki, serta melukis dan mewarnai. Data dikumpulkan dan partisipan dievaluasi menggunakan instrumen Aberrant Behavior Checklist (ABC) yang diisi oleh pendamping pada periode waktu sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dari enam partisipan mengalami penurunan perilaku menyimpang. Penurunan signifikan terjadi pada dimensi perilaku stereotipik dan hiperaktif. Dimensi iritabilitas dan ucapan tidak tepat mengalami penurunan, tetapi tidak signifikan. Sementara itu, dimensi penarikan diri tidak menunjukkan perubahan berarti.