Ahmad Taufik
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Ideological Contestation on the Production of Gender Exegesis within Institutional Quranic Interpretation in Indonesia Bambang Husni Nugroho; Ahmad Mustaniruddin; Ahmad Taufik
Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis Vol. 25 No. 2 (2024): Juli
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qh.v25i2.5388

Abstract

The exegetical products concerning women in institutional Quranic interpretations in Indonesia are significantly influenced by ideological contestation, cultural and social structures, and the political authority behind the exegetical writing teams. Consequently, textual comprehension may become biased and not entirely objective. Given this, exploring the ideological aspects underlying the production of religious texts is of paramount importance. This study employs a descriptive-analytical method with Michael Foucault's power relations approach to uncover the ideological dimensions behind exegetical production. Through this approach, the research addresses how societal social structures and state ideologies can influence the production of exegeses regarding women's roles and status in institutional interpretations in Indonesia. The study found that the interpretation of women's leadership in the Thematic Quranic Exegesis of Indonesian Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia is not only influenced by factors such as gender, women's characteristics, perceived female inability to address state issues, and the entrenched patriarchal culture in Indonesia, but also by motives of ideological contestation underlying interpretative production. Contextually, this exegesis was produced by the Ministry of Religious Affairs in 2009 during a presidential election contest between male and female candidates. The research concludes that exegetical production in Indonesia is affected by social contexts and power ideologies. The primary contribution of this study lies in tracing the aspects of ideological contestation, societal social structures, and the role of those in power behind the emergence of gender-related exegetical products in Indonesia.
Argumen Metode Tafsir Mawdu’i: (Geneologi, Signifikansi, dan Sistematika Penafsiran) Ahmad Taufik
At-Tibyan Vol 2 No 1 (2019): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v2i1.13

Abstract

Penelitian ini menegaskan bahwa tafsīr mawḍū’i dapat menjadi metode alternatif di tengah keterbatasan metode tafsir tahlili, ijtimali, dan muqaran yang cenderung parsial dan atomis. Sebab, tafsīr mawḍū’i mampu mengidentifikasi ayat-ayat dalam topik yang sama dan dapat mengurai permasalahan secara lebih jelas dan spesifik. Metode seperti itu sangat dibutuhkan, mengingat persoalan sosial-keagamaan yang semakin kompleks dan perlu diselesaikan sesegera mungkin. Penggunaan metode tafsir tematik memiliki argumentasi yang kuat. Sebab, elemen utama tafsir ini disinyalir telah ada sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup dan berlanjut sampai masa Salaf Saleh. Bahkan, dalam kitab tafsir mu’tabar yang ditulis Ibnu Katsir dan Thabari telah ditemukan beberapa unsur penafsiran tematik. Kendati demikian, sistematika tafsir tematik mulai berkembang pada abad XIV dan terus digunakan hingga saat ini. Dalam tulisan ini, penulis akan mengurai geneologi, signifikansi, dan sistematika tafsir tematik, sebagaimana yang telah diformulasikan oleh para sarjana klasik dan kontemporer.
PERBANDINGAN PEMIKIRAN TAFSIR KH. HUSEIN MUHAMMAD DAN FAQIHUDDIN ABDUL KODIR MENGENAI  AYAT-AYAT GENDER DALAM AL-QUR’AN Rusli Efendi; Ahmad Taufik
At-Tibyan Vol 7 No 1 (2024): AT-TIBYAN: Journal of Qur'an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/wh35t405

Abstract

Problematika kepemimpinan perempuan dan poligami pada era modern terus menjadi perbincangan yang kontroversi, makna kepemimpinan perempuan dan poligami banyak terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadits, yaitu  QS. al-Baqarah [2]: 30, QS. al-Nisa’ [4]: 34, dan QS. al-Nisa’ [4]: 3. Dua persoalan ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama dan sarjana muslim Indonesia bahkan muslim dunia. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan  melihat perbedaan pemikiran antara KH. Husein Muhammad dan Faqihuddin Abdul Kodir dalam QS. al-Baqarah[2] : 30, QS. al-Nisa’[4]: 3 dan 34, yang berkaitan dengan dua polemik ini. Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa poligami menurut Faqihuddin Abdul Kodir  tidak termasuk sunnah Nabi Muhammad SAW., praktik poligami dapat menzalimi perempuan. Sedangkan menurut KH. Husein Muhammad poligami QS. al-Nisa’[4] :3, mengatakan bahwa boleh berpoligami dengan memperketat syarat, keadilan secara material (al-qisṭ) dan mental-psikologis (al-‘adl). Menurut Faqihuddin Abdul Kodir  bahwa di dalam QS. al-Baqarah [2]: 30, dan QS. al-Nisa’ [4]: 34 bersifat taghlib (memasukkan perempuan pada kata/kalimat bentuk laki-laki). Kata pemimpin di muka bumi ini, perspektif Faqihuddin Abdul Kodir berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Sedangkan menurut KH. Husein Muhammad sangat setuju tentang penerapan ideologi matriarki, akan tetapi beliau sangat mengharapkan yaitu tentang wujud atau implementasi tidak berat sebelah antara laki-laki dan perempuan.
PENAFSIRAN AYAT WARISAN PERSPEKTIF GENDER (STUDI KOMPARATIF PENAFSIRAN ‘ALI AL-SHABUNI DAN MUHAMMAD SYAHRUR) Suharni Awaliyah; Ahmad Taufik; Baharudin Baharudin
At-Tibyan Vol 8 No 2 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/nyfsjq79

Abstract

Penelitian ini membahas persoalan warisan dalam syariat Islam. Para ulama fikih berpendapat bahwa warisan untuk laki-laki lebih besar dibandingkan dengan untuk perempuan. Pandangan ini dikritisi oleh para feminis seperti Aminah Wadud, Fatimah Mernisi, dan Munawir Sjadzali. Mereka berpendapat bahwa pandangan tersebut tidak adil dan bias gender. Menurut mereka, pembagian warisan seharusnya ditentukan oleh kondisi dan keadaan ahli waris serta berdasarkan prinsip kesetaraan dan bukan berdasarkan perbedaan gender. Melalui artikel ini, penulis akan mengkaji secara kritis-komparatif bagaimana para mufasir memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tentang warisan dalam tinjauan kesetaraan gender. Mufasir yang dipilih adalah Muhammad ‘Ali al-Shabuni dan Muhammad Syahrur. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif berbasis kepustakaan. Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan disajikan secara deskriptif-komparatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Syahrur lebih progresif-kontekstual dalam menafsirkan ayat-ayat waris dibandingkan dengan al-Shabuni yang cenderung tekstual. Menurut al-Shabuni, warisan untuk laki-laki dua kali lebih besar daripada untuk perempuan dan ketentuan ini tidak dapat diubah dan tidak dapat dinalar oleh akal karena nash al-Qur’an yang menyatakan hal tersebut sudah jelas. Menurutnya, ayat tersebut sudah memuat nilai kesetaraan gender dalam hal tanggung jawab. Tanggung jawab seorang laki-laki lebih besar daripada perempuan, sehingga wajar jika laki-laki mendapat bagian lebih besar pula daripada perempuan. Sedangkan menurut Syahrur, perempuan berhak mendapatkan harta warisan yang setara dengan laki-laki. Melalui teori batasnya, Syahrur memandang bahwa kesetaraan gender dalam pembagian harta warisan berarti membagi harta tersebut secara merata tanpa mempertimbangkan tanggung jawab dan kondisi ahli waris.