Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Pemahaman Konsep IPA Siswa di SMP Swasta Masyarakat Damai Paskalius Halawa; Hardikupatu Gulo; Novelina Andriani Zega; Yaredi Waruwu
Emasains : Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Vol. 15 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/emasains.v15i1.5705

Abstract

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menuntut siswa tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu memahami konsep secara mendalam melalui aktivitas ilmiah dan keterlibatan aktif dalam proses belajar. Namun, hasil observasi di SMP Swasta Masyarakat Damai menunjukkan bahwa pemahaman konsep IPA siswa masih rendah, ditandai dengan nilai rata-rata hasil belajar di bawah KKM, partisipasi belajar yang pasif, serta kurangnya kemampuan mengaplikasikan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam meningkatkan pemahaman konsep IPA siswa kelas VII. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental dan desain One-Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian adalah 32 siswa kelas VII-A yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen berupa tes objektif untuk mengukur pemahaman konsep IPA. Analisis data meliputi perhitungan skor pemahaman konsep dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman konsep IPA siswa. Rata-rata nilai pre-test sebesar 59,53 meningkat menjadi 75,62 pada post-test. Persentase kategori “baik” meningkat dari 40,62% menjadi 87,50% dan muncul kategori “sangat baik” sebesar 3,12%. Nilai N-Gain sebesar 0,38 termasuk dalam kategori efektivitas sedang. Selain itu, peningkatan terjadi pada semua indikator pemahaman konsep, yaitu menjelaskan, menerapkan, mengelompokkan, dan merepresentasikan konsep IPA. Temuan ini membuktikan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep IPA melalui aktivitas kolaboratif, interaksi kelompok, dan tanggung jawab individu dalam menguasai materi. Dengan demikian, model Jigsaw dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang relevan dan direkomendasikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SMP.
BIMBINGAN EDUKASI KEPADA MASYARAKAT DALAM PEMBUATAN SABUN CAIR GUNA MENINGKATKAN PENGHASILAN TAMBAHAN DI DESA ONODALINGA KECAMATAN ULUGAWO KABUPATEN NIAS Famahato Lase; Rikardo Number Wandis Hulu; Sesilia Putri Kurnia Wati Tafonao; Fenida Zalukhu; Fani Riski Zega; Hanna Grace Telaumbanua; Paskalius Halawa; Augustus Bawamenewi; Pius Metalius Telambanua; Darman Hulu
Journal of Community Service (JCOS) Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jcos.v2i2.998

Abstract

Keterampilan membuat sabun cuci cair dapat diberikan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan memberi bimbingan edukasi kepada mereka. Tujuan penelitian pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberi edukasi kepada masyarakat agar mampu: memahami dengan baik cara membuat sabun cair, memahami dengan baik bahan-bahan yang diperlukan, dan terampil membuat sabun cair. Metode yang digunakan adalah pemberian contoh secara langsung, peserta layanan adalah masyarakat Desa Onodalinga Kecamatan Ulugawo, Kabupaten Nias dan pemberi bimbingan edukasi adalah para mahasiswa Universitas Nias yang sedang melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan bimbingan seorang dosen. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: 1) layanan bimbingan edukasi kepada masyarakat sangat ampuh dalam memberikan pengetahuan, sikap dan keterampilan membuat sabun cair; 2) bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat sabun cair sangatlah praktis, mudah dan murah mendapatkannya, yakni: texapon, garam atau natrium clorida (NaCl), citrun, pewarna makanan, ethylen diamine tetra acetic acid (EDTA), essensial oil jeruk nipis, camperlan/ foamboaster, parfum, dan air, serta alat yang dugunakan adalah  wadah (ember, baskom dan lain-lain) dan sendok besar untuk mengaduk (kayu, bambu, plastik, dan lain-lain; dan 3) cara membuat sabun cair, yakni bahan-bahan di atas dilarutkan dalam air satu-satu dan didiamkan selama beberapa jam dan jadilah sabun cair pencuci piring.