Popy Nur Elisa
Universitas Bojonegoro

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tinjauan Yuridis Terhadap Praktik Love Scamminng Sebagai Bentuk Penipuan di Datting Apps Miranda Damayanti; Asri Elies Alamanda; Popy Nur Elisa
Jurnal Hukum Sasana Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Hukum Sasana: June 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/sasana.v12i1.4700

Abstract

Abstrak: Perkembangan teknologi digital membawa dampak signifikan terhadap pola interaksi sosial masyarakat, salah satunya melalui penggunaan aplikasi kencan daring. Namun, kemajuan ini tidak lepas dari potensi penyalahgunaan, seperti praktik love scamming, yaitu tindakan manipulasi emosional yang dilakukan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang berlebihan untuk mendapatkan kepercayaan korban, yang pada akhirnya bermuara pada tindak penipuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik love scamming dapat dikualifikasikan sebagai bentuk penipuan dalam perspektif hukum positif di Indonesia, pertanggungjawaban pidana bagi pelaku, serta bentuk perlindungan hukum yang dapat diberikan kepada korban. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa love scamming dalam aplikasi kencan daring memenuhi unsur-unsur tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) maupun Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban pidana sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, sementara korban berhak memperoleh perlindungan hukum berupa pemulihan kerugian materiil maupun non-materiil. Dengan demikian, diperlukan penguatan regulasi serta literasi digital masyarakat agar dapat meminimalisir risiko penipuan dengan modus love scamming di ruang digital.
Eksploitasi Perempuan dan Relasi Kuasa dalam Film Sleep Call Popy Nur Elisa; Irma Mangar
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 9 No. 1 (2026): MARCH
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v9i1.13423

Abstract

This study aims to analyze the forms of economic and sexual exploitation of women as represented in the film Sleep Call and to examine the criminalization and legal protection of such practices under Law Number 21 of 2007 on the Eradication of Trafficking in Persons and Law Number 12 of 2022 on Sexual Violence Crimes. This research employs a normative juridical method using statutory and conceptual approaches, supported by Marxist-Socialist feminist perspectives as an analytical framework to examine power relations and women’s vulnerability. The novelty of this study lies in integrating legal analysis with film as a medium representing covert exploitation in modern labor relations. The findings reveal that economic exploitation occurs through debt bondage, leading to forced labor, fulfilling the elements of human trafficking, while sexual exploitation occurs through sextortion, fulfilling the elements of sexual exploitation crimes. Indonesian positive law has normatively criminalized these practices and provides legal protection through punishment and victim recovery mechanisms. This study highlights the importance of strengthening law enforcement and victim protection to ensure legal certainty and safeguard women from covert exploitation.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk eksploitasi ekonomi dan seksual terhadap perempuan yang direpresentasikan dalam film Sleep Call, serta mengkaji kriminalisasi dan perlindungan hukum terhadap praktik tersebut berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, serta didukung oleh perspektif feminisme Marxis-Sosialis sebagai pisau analisis untuk memahami relasi kuasa dan kerentanan perempuan. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis hukum positif dengan media film sebagai representasi praktik eksploitasi terselubung dalam relasi kerja modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksploitasi ekonomi terjadi melalui praktik penjeratan utang (debt bondage) yang berujung pada kerja paksa dan memenuhi unsur tindak pidana perdagangan orang, sedangkan eksploitasi seksual terjadi melalui praktik sextortion yang memenuhi unsur tindak pidana eksploitasi seksual. Hukum positif Indonesia secara normatif telah mengkriminalisasi praktik tersebut serta memberikan perlindungan hukum melalui mekanisme pemidanaan dan pemulihan korban. Penelitian ini menegaskan pentingnya optimalisasi penegakan hukum dan penguatan perlindungan korban guna menjamin kepastian hukum dan perlindungan terhadap perempuan dari praktik eksploitasi terselubung.