Mulyati Mulyati
Dinas Kesehatan Kota Cimahi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Manajemen Self Care dalam Pencegahan dan Penatalaksanaan Terdampak Demam Berdarah (DBD) Iin Inayah; Fauziah Rudhiati; Mulyati Mulyati; Yayat Suryati; Murtiningsih Murtiningsih
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 9, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v9i2.528

Abstract

Demam berdarah (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue di mana penularannya melalui melalui gigitan nyamuk aedes aegypti yang dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Nyamuk aedes aegypti banyak ditemukan di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, hal ini dikarenakan nyamuk ini sangat mudah berkembang biak di daerah yang tergenang air. Penyakit demam berdarah memiliki tanda dan gejala seperti demam, perdarahan di bawah kulit, nyeri ulu hati bahkan dapat menyebabkan dengue syok sindrom dan kematian pada penderitanya. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang manajemen self care pencegahan dan  penatalaksanaan demam berdarah. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk Manajemen Self Care dalam Pencegahan dan Penatalaksanaan Terdampak Demam Berdarah (DBD). Metode yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan dengan tatap muka, ceramah, tanya jawab dan diskusi online dengan platform zoom, tentang penyakit demam berdarah, pencegahan serta penatalaksanaan demam berdarah. Sebelum dan sesudah penyuluhan keluarga pasien diberikan kuesioner untuk menilai pengetahuan keluarga tentang materi yang disampaikan. Kuesioner diberikan pada 220 warga wilayah binaan puskesmas, terdapat peningkatan dari rata-rata pre test 70 menjadi 95 pada post test, meningkat 25%. Kegiatan pengabdian ini berjalan dengan baik, keluarga pasien sangat antusias dan mereka berkomitmen untuk menerapkan Langkah-langkah pencegahan dan penatalaksanaan demam berdarah sehingga kejadiaan yang saat ini dialami tidak terulang kembali.
Faktor Determinan Yang Berhubungan dengan Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Oleh Perawat di Rumah Sakit I Karawang 2026 Achmad Khusaeri; Iin Inayah; Achmad Setya Roswendi; Mulyati Mulyati; Tantan Hadiansyah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026): OKTOBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63210

Abstract

Latar Belakang: Pelaporan insiden keselamatan pasien oleh perawat di Rumah Sakit I Karawang belum optimal. Hanya 64,65% perawat memiliki pelaporan insiden baik, sedangkan 35,35% belum baik. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan rendahnya beberapa dimensi budaya keselamatan pasien dalam kategori baik, yaitu staffing and workload (6,06%), management support (18,18%), handoffs and transitions (29,29%), supervisor support (30,30%), dan response to error (37,37%). Tujuan: Menganalisis faktor determinan yang berhubungan dengan pelaporan insiden keselamatan pasien oleh perawat di Rumah Sakit I Karawang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 99 perawat. Sembilan dimensi budaya keselamatan pasien berdasarkan Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) versi 2.0 dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Responden didominasi usia 26–35 tahun (67,68%), perempuan (74,75%), dan berpendidikan Ners (55,56%). Dimensi kategori baik adalah teamwork (85,86%) dan open communication (75,76%). Teamwork (p=0,078) dan staffing and workload (p=0,323) tidak berhubungan, sedangkan tujuh dimensi lainnya berhubungan signifikan. Lima determinan independen adalah supervisor support (AOR=60,196; p=0,009), handoffs and transitions (AOR=23,201; p=0,004), overall perception of patient safety (AOR=21,382; p=0,001), response to error (AOR=11,673; p=0,005), dan organizational learning (AOR=11,393; p=0,001). Supervisor support paling dominan. Kesimpulan: Kelima dimensi tersebut merupakan determinan independen yang berhubungan dengan pelaporan insiden, dengan supervisor support sebagai determinan paling dominan. Saran: Rumah sakit disarankan memprioritaskan penguatan supervisor support, handoffs and transitions, response to error, organizational learning, dan overall perception of patient safety untuk meningkatkan konsistensi pelaporan insiden.
Pengaruh Kepemimpinan dan Motivasi Terhadap Kinerja Dokumentasi Asuhan Keperawatan: Studi Kuasi-Eksperimen Pada Perawat di Timor-Leste Gonzalo José Teixeira; Iin Inayah; Gunawan Irianto; Mulyati Mulyati; Murtiningsih Murtiningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026): OKTOBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63299

Abstract

Kualitas dokumentasi asuhan keperawatan dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan dan motivasi perawat. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan persepsi kepemimpinan, motivasi, dan kinerja dokumentasi asuhan keperawatan setelah pelatihan penguatan kepemimpinan dan motivasi. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Sebanyak 28 perawat pelaksana dipilih dengan total sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi (n=14) dan kontrol (n=14). Intervensi diberikan selama tiga minggu. Instrumen terdiri atas kuesioner kepemimpinan 23 item, motivasi 23 item, dan lembar observasi kinerja dokumentasi 10 item. Analisis menggunakan uji t dan regresi linear sederhana. Pada kelompok intervensi, skor kepemimpinan meningkat dari 65,64 menjadi 80,00, motivasi dari 68,21 menjadi 81,14, dan kinerja dokumentasi dari 45,07 menjadi 67,79. Kelompok kontrol menunjukkan perubahan yang kecil. Regresi sederhana menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara kepemimpinan maupun motivasi dengan kinerja dokumentasi (R²=0,994 dan 0,993; p<0,001). Model regresi berganda signifikan secara keseluruhan (R²=0,964; p<0,001), tetapi ditemukan multikolinearitas ekstrem (VIF=199,894; tolerance=0,005), sehingga koefisien individual model berganda tidak dapat diinterpretasikan secara andal. Temuan mendukung perlunya penguatan kepemimpinan dan motivasi, dengan interpretasi kausal yang tetap dibatasi oleh ukuran sampel dan desain penelitian.