Emilia Silvana Sitompul
Prodi DIII Kebidanan Tapanuli Utara, Poltekkes Kemenkes Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMANFAATAN PANGAN LOKAL KOMBINASI IKAN DAN SAYUR DENGAN LITERASI DIGITAL UNTUK PENCEGAHAN STUNTING Juana Linda Simbolon; Emilia Silvana Sitompul; Hetty Panggabeaan; Putri Pakpahan; Cicilia Aritonang; Dumaria Dumaria
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34560

Abstract

Abstrak: Stunting menjadi permasalahan gizi di Indonesia. Angka Kejadian Stunting di Indonesia tahun 2022 adalah 21,6%, di Tapanuli Utara 27,4%. Di desa Sitampurung Kecamatan Tarutung ditemui 9 orang balita stunting umur 6–24 bulan. Pencegahan stunting sangat efektif dibandingkan dengan pengobatan stunting, salah satu intervensi spesifik stunting adalah memberikan MPASI yang kaya protein hewani, ikan kaya akan protein dengan pengolahan dan penyajian yang bervariasi. Pengabdian masyarakat bertujuan untuk mengoptimalkan pengetahuan ibu dalam penggunaan pangan lokal berbasis ikan dan sayur dengan pendekatan edukasi dan literasi digital sebagai upaya pencegahan stunting. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, pelatihan melalui demonstrasi. Mitra dalam kegiatan ini adalah Desa Sitampurung serta 25 ibu dengan anak usia 6 bulan - 2 tahun. Metode evaluasi menggunakan kuesioner dengan test di awal dan test diakhir, dengan indikator peningkatan pengetahuan ibu tentang manfaat pangan lokal kombinasi ikan dan sayur untuk pencegahan stunting. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan ibu berpengetahuan baik tentang pangan lokal dalam mencegah stunting test awal (12%) dan test akhir (92%). Pemanfaatan pangan lokal yang didukung literasi digital dapat menjadi solusi preventif terhadap stunting yang dapat dilaksanakan di desa.Abstract: Stunting represents a nutritional issue in Indonesia. Indonesia's stunting rate in 2022 was 21.6%, in North Tapanuli 27.4%. In Sitampurung Village, Tarutung District, 9 toddlers with stunting aged 6–24 months were found. Prevention of stunting is very effective compared to treatment of stunting. One of the specific interventions for stunting is providing complementary foods (MPASI) rich in animal protein. Fish is rich in protein with varied processing and presentation. The goal of community service is to optimize women with children knowledge regarding to use of local food based on fish and vegetables with an educational and digital literacy approach as an attempt to prevent stunting. The techniques employed include counseling, training through demonstrations. Collaborators in this activity are Sitampurung Village and 25 mothers with children aged 6 months - 2 years. The evaluation method employed involves distributing questionnaires (pre-test and post-test), with indicators of increasing mothers' knowledge about the benefits of local food combinations of fish and vegetables for preventing stunting. The activity's results indicated an increase in mothers having good knowledge regarding local food for prevention stunting increasing from 12% on the initial test to 92% on the final test. Utilizing local food supported by digital literacy can be a preventive solution against stunting that can be implemented in villages.
PEMANFAATAN TANAMAN OBAT “REBUSAN KOMBINASI DAUN SENDOK DAN RIMPANG KUNYIT” DALAM PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM Juana Linda Simbolon; Emilia Silvana Sitompul; Antetti Tampubolon; Angel Rachel Hutabarat; Gerin Ruth Amelia Lumbantoruan; Juita Simanjuntak
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 5 (2026): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i5.42035

Abstract

Abstrak: Ruptur perineum merupakan komplikasi pasca persalinan pervaginam, secara global tercatat 2,7 juta kasus tahun 2020, di Indonesia dialami oleh 75% ibu melahirkan pervaginam. Di Puskesmas Sipahutar 21,6% ibu melahirkan mengalami luka perineum tahun 2025. Ibu nifas membutuhkan perawatan luka perineum, karena jika tidak dirawat dapat menyebabkan infeksi, kematian, berdampak kepada aspek ekonomi. Daun sendok (Plantago Mayor L.) dan rimpang kunyit (Curcuma Longa L.) merupakan tanaman berkhasiat obat yang memiliki senyawa kimia metabolit sekunder. Kombinasi kedua tanaman ini dapat melengkapi aktivitas antibakteri dalam proses penyembuhan luka perineum. Namun, bukti khusus mengenai penggunaan kombinasi kedua tanaman dalam bentuk rebusan untuk perawatan luka perineum masih terbatas. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu nifas mengenai pemanfaatan rebusan kombinasi kedua tanaman sebagai bagian dari perawatan luka perineum, yang melibatkan 30 ibu melalui metode penyuluhan, demonstrasi, dan praktik. Pengetahuan dievaluasi menggunakan 20 pertanyaan melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan adalah proporsi ibu dengan pengetahuan baik meningkat dari 16,7% pada tes awal menjadi 73,3% pada tes akhir.Abstract: Perineal rupture is a common postpartum complication following vaginal delivery, with an estimated 2.7 million cases globally in 2020. In Indonesia, approximately 75% of women delivering vaginally experience perineal tears, and at Sipahutar Community Health Center, 21.6% of delivering mothers sustained perineal wounds in 2025. Adequate perineal wound care is essential for postpartum women, as neglect can lead to infection, severe morbidity, and economic burden. Greater plantain (Plantago major L.) and turmeric rhizome (Curcuma longa L.) are medicinal plants containing bioactive secondary metabolites. Their combination may provide complementary antibacterial activity that supports perineal wound healing. However, specific evidence on the use of their combined decoction for perineal wound care remains limited. This activity aimed to improve postpartum women’s knowledge regarding the use of a combined decoction of these plants as part of perineal wound care. Thirty postpartum women participated through health education, demonstration, and hands-on practice. Knowledge was assessed using a 20-item questionnaire administered as pre-test and post-test. The proportion of women with good knowledge increased from 16.7% at baseline to 73.3% after the intervention.