Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTEGRASI KEARIFAN LOKAL MELAYU JAMBI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STRATEGI, IMPLEMENTASI, DAN DAMPAK TERHADAP KARAKTER RELIGIUS SISWA Randi Randi; Baili Baili; Ulfa Adilla; Mabruri Mabruri; Joni Juliandra
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2023): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i1.59589

Abstract

Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi respons strategis terhadap krisis karakter, disorientasi nilai, dan marginalisasi identitas budaya di era globalisasi. Penelitian ini bertujuan mengungkap bentuk, strategi, implementasi, dan dampak integrasi kearifan lokal Melayu Jambi dalam pembelajaran PAI di sekolah menengah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multipel di tiga sekolah negeri dan swasta di Kota Jambi dan Kabupaten Muara Bungo. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen pembelajaran. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Melayu Jambi yang teridentifikasi meliputi falsafah adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah, nilai sekapur sirih sebagai simbol penghormatan dan etika komunikasi, tradisi gurindam sebagai media dakwah kontekstual, serta praktik gotong royong dan toleransi beragama dalam kehidupan masyarakat. Strategi integrasi dilakukan melalui pemetaan kompetensi dasar berbasis konteks lokal, pembelajaran berbasis proyek keagamaan-budaya, penggunaan naskah dan artefak budaya sebagai sumber belajar, serta kolaborasi dengan tokoh adat dan pemuka agama. Dampak integrasi terlihat pada penguatan karakter religius siswa, peningkatan motivasi belajar, internalisasi nilai akhlakul karimah yang kontekstual, serta terbentuknya identitas keislaman yang inklusif dan berakar pada budaya lokal. Kendala utama meliputi keterbatasan kompetensi guru dalam menggali dan memetakan kearifan lokal secara pedagogis, minimnya modul ajar terstandar, dan tekanan kurikulum nasional yang padat. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kurikulum muatan lokal PAI berbasis Melayu Jambi, pelatihan guru integratif, dan kolaborasi lembaga pendidikan dengan komunitas adat untuk memastikan keberlanjutan praktik. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis pada model pedagogi kontekstual-keagamaan dan kontribusi praktis bagi perumusan kebijakan pendidikan agama yang responsif terhadap keragaman budaya Indonesia.
PEMBELAJARAN REFLEKTIF DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK MENGEMBANGKAN KESADARAN MORAL SISWA DI BUNGO Yuyun Sinta Nara; Baili Baili; Mabruri Mabruri; Sugeng Kurniawan; Sriani Sriani
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 5 No. 1 (2022): Volume 5 Nomor 1 Juni Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i1.60032

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran strategis dalam pembentukan karakter dan kesadaran moral peserta didik, namun implementasinya di lapangan masih sering terjebak pada pendekatan tekstual-hafalan yang kurang menyentuh dimensi internalisasi nilai. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas dan dinamika implementasi pembelajaran reflektif dalam mata pelajaran PAI untuk mengembangkan kesadaran moral siswa di Kabupaten Bungo, Jambi. Menggunakan desain mixed-methods explanatory sequential, penelitian melibatkan 120 siswa dan 8 guru PAI dari tiga SMP/MTs yang dipilih secara purposif. Instrumen meliputi Skala Kesadaran Moral (SKM), jurnal refleksi, pedoman wawancara mendalam, lembar observasi, dan rubrik penilaian proyek moral. Intervensi berlangsung selama 12 minggu dengan model pembelajaran reflektif yang diintegrasikan dalam modul PAI berbasis Kurikulum Merdeka. Hasil kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan pada skor kesadaran moral siswa (p < 0,01), terutama pada dimensi empati, tanggung jawab sosial, penalaran etis, dan regulasi diri. Temuan kualitatif mengungkap empat tema utama: (1) pergeseran paradigma dari hafalan menuju pemahaman kontekstual, (2) jurnal refleksi sebagai media internalisasi nilai, (3) dialog reflektif sebagai katalis empati antar-siswa, dan (4) tantangan struktural berupa keterbatasan waktu, variasi kompetensi guru, dan beban administratif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran reflektif dalam PAI efektif mengembangkan kesadaran moral ketika didukung oleh desain pedagogis terstruktur, kontekstualisasi kearifan lokal Bungo, dan pendampingan guru yang konsisten. Rekomendasi ditujukan kepada pengambil kebijakan, lembaga pelatihan guru, dan peneliti lanjutan untuk mengembangkan modul reflektif PAI yang terstandarisasi serta melakukan studi longitudinal.