Firdasari Desfiani
Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE PHENOMENON OF AMBIGUITY IN ONLINE NEWSPAPER HEADLINES ON KOMPAS.COM Muhammad Rikzan Maulana; Firdasari Desfiani; Najma Syauqi Chafid; Nailatul Mafazah; Redika Cindra Reranta
Jurnal SOMASI (Sosial Humaniora Komunikasi) Vol. 7 No. 1 (2026): Juli 2026
Publisher : CERED Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53695/js.v7i1.1457

Abstract

This study aims to identify and analyze the phenomenon of grammatical ambiguity in the headlines of the online newspaper Kompas.com. Ambiguity in news headlines has become an interesting phenomenon in the digital era because it can affect readers' understanding of the information conveyed. This study uses a qualitative approach with a descriptive method to analyze 10 news headlines from Kompas.com from October 2 to November 2, 2025. Data collection techniques use the observation method with note-taking, while data analysis refers to the concept of syntactic-level grammatical ambiguity, including phrase, clause, and sentence structures. The results of the study show that grammatical ambiguity in Kompas.com headlines appears in various forms, including unclear subject-object-predicate relationships, uncertain word references, the absence of relational markers, and dense sentence structures without conjunctions. These findings indicate that although Kompas.com is a highly credible media outlet, the phenomenon of ambiguity still occurs due to the pressure to create headlines that capture readers' attention. This study contributes to the field of applied linguistics, particularly media discourse analysis, and can serve as a reference for journalism practitioners in crafting effective news headlines without sacrificing clarity of meaning.
Strategi Mitigasi Bencana dalam Sastra Lisan Bali: Eksplorasi Terhadap Mitologi Bedawang Nala, Anantaboga, dan Basuki Vina Vitri alawiyah; Nalal Muna; Arina Kharisatul Kamilah; Firdasari Desfiani; Abdul Mukhlis
Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11 No 2 (2026): Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indones
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v11i2.6423

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi mitigasi bencana yang tertanam dalam tradisi lisan Bali melalui mitologi Bedawang Nala, Anantaboga, dan Basuki. Penelitian ini didasarkan pada pandangan bahwa kearifan lokal berfungsi sebagai sumber pengetahuan penting bagi masyarakat dalam memahami lingkungan mereka dan menanggapi bencana alam. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan studi pustaka digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dari berbagai sumber tertulis yang berkaitan dengan mitologi Bali, sastra lisan, kearifan lokal, dan mitigasi bencana. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi nilai-nilai budaya, simbol, dan pesan yang terkait dengan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Temuan menunjukkan bahwa mitologi Bedawang Nala, Anantaboga, dan Basuki berfungsi tidak hanya sebagai narasi kosmologis tetapi juga sebagai representasi bagaimana masyarakat Bali memahami fenomena alam seperti gempa bumi dan tsunami. Bedawang Nala digambarkan sebagai kekuatan dahsyat di dalam bumi, sementara Anantaboga dan Basuki melambangkan unsur tanah dan air, yang mencerminkan pengetahuan tradisional tentang hubungan antara manusia, alam, dan potensi bencana. Lebih lanjut, mitos-mitos ini mengandung nilai-nilai kewaspadaan, kesiapan, dan penghormatan terhadap keseimbangan lingkungan, yang telah diturunkan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan dan praktik budaya. Studi ini juga menunjukkan bahwa sastra lisan Bali memainkan peran yang lebih luas daripada sekadar melestarikan warisan budaya, berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pengetahuan lokal yang mendukung kesadaran ekologis dan literasi bencana. Oleh karena itu, kearifan lokal yang terkandung dalam mitos-mitos ini tetap relevan dan dapat berkontribusi pada pengembangan upaya mitigasi bencana berbasis budaya di masyarakat kontemporer.