Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi mitigasi bencana yang tertanam dalam tradisi lisan Bali melalui mitologi Bedawang Nala, Anantaboga, dan Basuki. Penelitian ini didasarkan pada pandangan bahwa kearifan lokal berfungsi sebagai sumber pengetahuan penting bagi masyarakat dalam memahami lingkungan mereka dan menanggapi bencana alam. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan studi pustaka digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dari berbagai sumber tertulis yang berkaitan dengan mitologi Bali, sastra lisan, kearifan lokal, dan mitigasi bencana. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi nilai-nilai budaya, simbol, dan pesan yang terkait dengan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Temuan menunjukkan bahwa mitologi Bedawang Nala, Anantaboga, dan Basuki berfungsi tidak hanya sebagai narasi kosmologis tetapi juga sebagai representasi bagaimana masyarakat Bali memahami fenomena alam seperti gempa bumi dan tsunami. Bedawang Nala digambarkan sebagai kekuatan dahsyat di dalam bumi, sementara Anantaboga dan Basuki melambangkan unsur tanah dan air, yang mencerminkan pengetahuan tradisional tentang hubungan antara manusia, alam, dan potensi bencana. Lebih lanjut, mitos-mitos ini mengandung nilai-nilai kewaspadaan, kesiapan, dan penghormatan terhadap keseimbangan lingkungan, yang telah diturunkan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan dan praktik budaya. Studi ini juga menunjukkan bahwa sastra lisan Bali memainkan peran yang lebih luas daripada sekadar melestarikan warisan budaya, berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pengetahuan lokal yang mendukung kesadaran ekologis dan literasi bencana. Oleh karena itu, kearifan lokal yang terkandung dalam mitos-mitos ini tetap relevan dan dapat berkontribusi pada pengembangan upaya mitigasi bencana berbasis budaya di masyarakat kontemporer.