Eka Noviana
Institut Teknologi Nasional

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Film Pendek Rajah Sunda: Media Pelestarian Budaya yang Mencerminkan Etika dan Sopan Santun Syahda Nabila; Eka Noviana
Jurnal Desain Komunikasi Visual Vol. 2 No. 3 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/dkv.v2i3.4751

Abstract

Rajah adalah satu warisan budaya sejenis mantra yang digunakan untuk memulai berbagai kegiatan seperti pekerjaan, menanam padi, membuka lahan baru, mengisahkan cerita pantun, sebagai permohonan izin kepada para penguasa. Namun kini jika di bandingkan dengan zaman sekarang rajah Sunda lebih terbilang sebagai do’a pembuka dan do’a penutup. Lebih dari sekedar doa rajah Sunda juga mengandung nilai etika yang tinggi. Dikenal dengan budaya yang menyiratkan nilai-nilai sopan santun. Rajah sunda juga masuk kedalam tradisi lisan yang merupakan bagian dari tujuan pemajuan kebudayaan. Namun minimnya informasi dan kuatnya pengaruh budaya populer membuat rajah dipandang kuno, tidak relevan dengan kehidupan masa kini dan sering diasosiasikan dengan hal-hal mistis, membuat rajah semakin banyak ditinggalkan. Pelestarian budaya lokal melalui media kreatif sangat penting untuk mempertahankan identitas, juga sebagai bentuk adaptasi budaya di tengah perubahan zaman. Sampai saat ini kajian mengenai rajah Sunda masih sangat terbatas, belum banyak penelitian yang mengeksplorasi rajah Sunda dalam bentuk sinematik khususnya film sebagai media edukasi dan pelestarian budaya. Maka dari itu film pendek dapat menjadi media eksplorasi dan edukasi, menjadi pendukung dalam perancangan ini agar penonton mendapatkan informasi serta edukasi dengan durasi yang pendek. Dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan apresiasi generasi muda terhadap rajah Sunda sebagai bagian dari warisan budaya lisan. Proses perancangan dari film pendek ini terbagi menjadi tiga tahap yaitu: pra-prosuksi, produksi, dan post-produks. Perancangan ini membuktikan bahwa rajah berhasil dihadirkan bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bentuk etika dan sopan santun yang relevan di kehidupan sekarang, Dengan demikian perancangan ini memiliki implikasi penting dalam Upaya pelestarian budaya Sunda. Dengan mengangkat nilai etika dan sopan santun dalam bentuk narasi dan puitis film ini tidak hanya berfungsi sebagai media edukasi tapi juga menjadi media reflektif yang mampu perantara kepada generasi muda dengan warisan leluhur.
Analisis Komparatif Multimodalitas Kampanye Advokasi Pekerja Kreatif: Studi Kasus CRNY dan SINDIKASI Paramitha Anisa Agustina; Eka Noviana
Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain Vol. 3 No. 4 (2026): Juli : Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/abstrak.v3i4.1126

Abstract

The creative sector is widely promoted as a strategic driver of economic growth, yet creative workers continue to experience structural vulnerabilities such as project-based employment, income instability, and limited social protection. This study aims to examine how visual communication strategies in advocacy campaigns construct narratives about the value of creative labor and economic rights within different sociopolitical contexts. The research employs a qualitative descriptive approach using multimodal discourse analysis through representational, interactive, and compositional metafunctions. The data consist of purposively selected Instagram posts from Creative Rebuild New York and Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi. The findings indicate that Creative Rebuild New York constructs creative workers as professional economic subjects through minimalist aesthetics and individual framing aligned with policy legitimacy, whereas Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi emphasizes collective solidarity and mass mobilization through action-oriented visuals and contrasting colors. The study concludes that visual advocacy strategies are not neutral, but rather reflect distinct political orientations in advancing the rights of creative workers.