Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRANSFORMASI KEUANGAN SYARIAH DIGITAL DAN TANTANGAN TATA KELOLA SYARIAH : SEBUAH CRITICAL LITERATURE REVIEW Liza Ulfiana; Sa’idi Sa’idi; Shofyan Hadi; Nurhayanti Nurhayanti; Veni Sofia; Devfy Kartikasari
ISTISMAR Vol. 9 No. 1 (2026): Juni
Publisher : LPPM Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32764/sbyky659

Abstract

Digital transformation has driven fundamental changes in the Islamic finance industry through the adoption of technologies such as financial technology (fintech), artificial intelligence, blockchain, and smart contracts. these developments present both opportunities and challenges for the implementation of Sharia governance. This study aims to analyze the evolution of digital Islamic finance and identify Sharia governance challenges using a critical literature review approach. The research data consists of scholarly literature sourced from reputable journals, academic books conference proceeedings, and relevant official documents. Analysis was conducted using qualitative content analysis, involving a critical synthesis of findings from prior research. The results indicate that digitalization enhances operational challenges regarding regulatory gaps, the validity of digital contracts, algorithmic transpaency, cybersecurity, and the limited competencies of Sharia Supervisory Boards. The importance of developing on "Adaptive Sharia Governance" model that integrates Sharia principles with technology-driven governance to ensure Sharia compliance while supporting the sustainability of the digital Islamic finance industry. Keywords : Transformation, Digital Sharia Finance, Sharia governance
Gagasan Hole in the Wall dari Sugata Mitra dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Mandiri Berbasis Artificial Intelligence Zaenal Abidin; Syaiful Dinata; Veni Sofia; M. Rizkoni Salis; Erwinsyah Satria
Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Bakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/judikdas.v5i2.5671

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan telah menghadirkan perubahan dalam lingkungan pembelajaran, khususnya dalam cara peserta didik mengakses, mengeksplorasi, dan membangun pengetahuan. Kondisi tersebut memiliki relevansi dengan gagasan Hole in the Wall yang dikembangkan oleh Sugata Mitra, yang menekankan pentingnya akses terhadap teknologi, rasa ingin tahu, eksplorasi, interaksi, dan kemandirian dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi gagasan Hole in the Wall terhadap perkembangan pembelajaran mandiri berbasis kecerdasan buatan pada berbagai jenjang pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data diperoleh melalui penelaahan berbagai sumber ilmiah yang berkaitan dengan gagasan Hole in the Wall, pembelajaran mandiri, regulasi diri, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan, serta perubahan peran pendidik. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dan interpretatif melalui proses identifikasi, pengelompokan, perbandingan, dan sintesis terhadap konsep serta temuan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat kesinambungan konseptual antara gagasan Hole in the Wall dan pembelajaran mandiri berbasis AI, terutama dalam pemberian ruang bagi peserta didik untuk mengakses pengetahuan, mengembangkan rasa ingin tahu, melakukan eksplorasi, dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran. AI memperluas konsep tersebut melalui kemampuan interaksi yang memungkinkan peserta didik memperoleh penjelasan, umpan balik, dan alternatif perspektif secara lebih dinamis. Namun, pemanfaatan AI secara efektif membutuhkan kemampuan regulasi diri, literasi digital, berpikir kritis, dan pendampingan pendidik. Pada jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, penerapan AI perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, AI lebih tepat diposisikan sebagai sarana penguat pembelajaran mandiri daripada sebagai pengganti pendidik atau proses berpikir peserta didik. Kajian ini menegaskan bahwa relevansi gagasan Hole in the Wall pada era AI terletak pada prinsip pemberian ruang kepada peserta didik untuk mengeksplorasi dan membangun pengetahuan secara aktif, kritis, reflektif, dan bertanggung jawab.