Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Potensi Lendir Belut (Monopterus albus) dan Lendir Bekicot (Achatina fulica) Dalam Formulasi Gel Topikal untuk Terapi Luka Bakar: Systematic Literature Review Herlin Sulita; Serwan Ahmadi
Jurnal Sains Kesehatan Vol 33, No 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/jsk.33.1.9-26

Abstract

Luka bakar merupakan masalah kesehatan yang berisiko menyebabkan infeksi sekunder, keterlambatan penyembuhan jaringan, dan komplikasi kulit. Lendir belut (Monopterus albus) dan lendir bekicot (Achatina fulica) diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah potensi biologis lendir belut dan lendir bekicot serta pengembangannya dalam formulasi gel topikal untuk terapi luka bakar. Metode yang digunakan adalah systematic literature review terhadap 18 artikel primer yang diperoleh dari PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, Scopus, Garuda, dan SINTA pada periode 2018–2026. Artikel yang dianalisis meliputi studi in vivo, in vitro, in silico, dan studi formulasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa lendir bekicot mengandung glycosaminoglycan, achasin, hyaluronic acid, dan heparan sulfate yang berperan dalam hidrasi jaringan, pembentukan kolagen, regenerasi matriks ekstraselular, dan re-epitelisasi. Sementara itu, lendir belut mengandung albumin, glikoprotein, lektin, dan antimicrobial peptides yang berkontribusi terhadap aktivitas antimikroba, proliferasi fibroblas, angiogenesis, dan regenerasi jaringan. Beberapa studi praklinis menunjukkan bahwa formulasi berbasis lendir belut maupun lendir bekicot berpotensi mempercepat penyembuhan luka dan luka bakar. Secara umum, lendir belut cenderung berperan pada fase inflamasi dan awal proliferasi, sedangkan lendir bekicot lebih dominan mendukung fase proliferasi dan remodeling jaringan. Dengan demikian, kedua biomaterial tersebut berpotensi sebagai kandidat bahan aktif formulasi gel topikal untuk terapi luka bakar. Namun, diperlukan penelitian lanjutan dan uji klinis untuk mengonfirmasi efektivitas serta keamanannya pada manusia.Kata Kunci: gel topikal, lendir bekicot, lendir belut, luka bakar, penyembuhan luka
Analisis DRPs Penggunaan Obat Tuberkulosis Paru pada Pasien Rawat Jalan RSUD X Periode 2024 Adinda Dwinka Az-Zahra; Gina Lestari; Tri Yanuarto; Herlin Sulita
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2026): NOVEMBER
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i4.156

Abstract

Tuberkulosis  paru merupakan penyakit infeksi yang memerlukan pengobatan yang tepat untuk mencapai keberhasilan terapi. Ketidaktepatan penggunaan obat dapat menyebabkan Drug Related Problems (DRPs) yang berpotensi memengaruhi efektivitas dan keamanan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian, kategori, dan persentase DRPs pada penggunaan obat TB paru pasien rawat jalan di RSUD X periode Januari–Desember 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dan resep pasien TB paru dewasa usia 18–59 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 80 pasien. Identifikasi DRPs dilakukan berdasarkan klasifikasi Cipolle yang meliputi perlunya tambahan obat, obat tanpa indikasi, dosis terlalu rendah, dan dosis terlalu tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien laki-laki lebih banyak yaitu 42 pasien (52,5%), dengan kelompok usia terbanyak 48–57 tahun sebanyak 25 pasien (31,25%). Dari 80 pasien, ditemukan 13 pasien (16,25%) mengalami DRPs, terdiri atas obat tanpa indikasi sebanyak 7 pasien (8,75%) dan dosis terlalu rendah sebanyak 6 pasien (7,5%). Sementara itu, kategori perlunya tambahan obat dan dosis terlalu tinggi tidak ditemukan. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pasien tidak mengalami DRPs, namun masih ditemukan permasalahan terkait ketepatan indikasi dan dosis obat yang memerlukan evaluasi untuk mendukung keberhasilan terapi TB paru.