Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Dua Anak Dengan Cerebral Palsy Spastic Hemiplegia Sinistra Dini Nur Alpiah; Katon Galih Wicaksono; Samuel Rolan Siregar; Tsabitah Ayu Nismara; Bunga Damayanti; Herana Herana; Maria Eno Rahayu Wibawaningrum
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61325

Abstract

Cerebral Palsy (CP) is a permanent disorder of movement and posture development caused by a non progressive injury to the developing brain. The spastic type is the most common form of CP, and hemiplegic distribution is frequently encountered in pediatric physiotherapy practice. This case study aims to compare the assessment, physiotherapy diagnosis, intervention, and outcomes of two children diagnosed with Cerebral Palsy Spastic Hemiplegia Sinistra who have different clinical profiles. The first subject was a six year and two month old girl without comorbidities, while the second subject was a five year and one month old girl with microcephaly and epilepsy as comorbid conditions. Assessment used the Modified Ashworth Scale, range of motion measurement with a goniometer, and the Gross Motor Function Classification System. Results showed that the first subject was classified as GMFCS Level III with dominant spasticity in the left upper limb and an equinus gait pattern, while the second subject was classified as GMFCS Level IV with more extensive motor involvement and unstable postural control. After receiving physiotherapy consisting of range of motion mobilization, stretching, weight bearing exercises, and basic motor stimulation, both subjects showed progress at different rates. The subject without comorbidities progressed faster than the subject with neurological comorbidities. This study concludes that comorbid conditions such as microcephaly and epilepsy can worsen functional limitations in children with CP, so physiotherapy planning should be individually tailored to each child's clinical profile.
Pengaruh Tandem Walking Exercise terhadap Keseimbangan pada Lansia untuk Mengurangi Risiko Jatuh : Literature Review Robiatun Amaliyah Ranti; Maria Eno Rahayu Wibawaningrum; Muhammad Ilham Maulana; Bunga Damayanti; Aliya Dwi Latifa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10764

Abstract

Lansia mengalami berbagai perubahan fisiologis akibat proses penuaan, terutama pada sistem penglihatan, vestibular, somatosensorik, dan muskuloskeletal yang berperan penting dalam menjaga postur tubuh dan keseimbangan. Penurunan fungsi pada sistem-sistem tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan keseimbangan dan kejadian jatuh yang berdampak pada kualitas hidup lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas latihan jalan tandem (tandem walking exercise) dalam meningkatkan keseimbangan pada lansia. Metode yang digunakan berupa tinjauan naratif dengan mengkaji berbagai penelitian yang diperoleh dari basis data Google Scholar. Studi yang ditelaah meliputi penelitian dengan desain pre-eksperimental serta eksperimen pre-test dan post-test dengan kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan dalam pengukuran keseimbangan pada penelitian-penelitian tersebut meliputi Berg Balance Scale (BBS) dan Timed Up and Go Test (TUGT). Hasil analisis menunjukkan bahwa latihan jalan tandem memberikan peningkatan yang signifikan terhadap kemampuan keseimbangan lansia setelah dilakukan secara rutin sebanyak dua hingga tiga kali per minggu selama dua sampai empat minggu. Peningkatan skor keseimbangan terlihat pada sebagian besar penelitian yang dianalisis. Selain itu, hasil uji statistik secara konsisten menunjukkan nilai p-value < 0,05, yang mengindikasikan adanya pengaruh signifikan latihan jalan tandem terhadap peningkatan keseimbangan. Latihan ini juga terbukti efektif dalam memperbaiki stabilitas postural, meningkatkan keseimbangan fungsional, serta mengurangi risiko jatuh pada lansia. Dengan demikian, latihan jalan tandem dapat direkomendasikan sebagai salah satu bentuk intervensi sederhana, aman, mudah dilakukan, dan mandiri untuk membantu meningkatkan keseimbangan serta mendukung kesehatan dan kemandirian lansia dalam menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal.