Dispepsia merupakan salah satu gangguan saluran cerna yang dapat dipengaruhi oleh peruban pola makan selama bulan Ramadhan. Perubahan waktu makan, konsumsi makanan berlemak, pola tidur yang berubah, serta kebiasaan makan berlebihan saat berbuka berpotensi meningkatkan keluhan dispepsia dan memengaruhi penggunaan obat di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren penjualan obat dispepsia pada periode sebelum, saat, dan setelah Ramadhan di Apotek X. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis observasional deskriptif menggunakan data penjualan obat dispepsia di Apotek X, Pulau Lombok, pada periode Februari hingga April 2025. Sampel penelitian ditentukan secara purposive sampling meliputi golongan antasida, H2 bloker, dan Proton Pump Inhibitor (PPI). Data diperoleh dari sistem pencatatan penjualan obat secara elektronik dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjualan obat dispepsia meningkat dari 33,3% sebelum Ramadhan menjadi 38,2% saat Ramadhan, kemudian menurun menjadi 28,5% setelah Ramadhan. Golongan antasida merupakan obat yang paling banyak terjual pada seluruh periode pengamatan, karena efeknya yang cepat, mudah diperoleh, dan harganya terjangkau. Penjualan antasida meningkat dari 727 unit menjadi 788 unit saat Ramadhan, kemudian menurun menjadi 495 unit setelah Ramadhan. Penjualan PPI meningkat dari 383 unit menjadi 455 unit saat Ramadhan, sedangkan H2 bloker meningkat dari 106 unit menjadi 165 unit setelah Ramadhan. Temuan ini menyimpulkan bahwa terdapat perubahan tren penjualan obat dispepsia selama periode Ramadhan, sehingga penting bagi apotek untuk melakukan perencanaan stok obat dan edukasi penggunaan obat secara rasional.