Fawwaz Aqila Putri
S1 Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Mataram

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TREN PENJUALAN OBAT DISPEPSIA : PERIODE SEBELUM, SAAT, DAN SETELAH RAMADHAN Fawwaz Aqila Putri; Lina Permatasari; Amira Amira
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57018

Abstract

Dispepsia merupakan salah satu gangguan saluran cerna yang dapat dipengaruhi oleh peruban pola makan selama bulan Ramadhan. Perubahan waktu makan, konsumsi makanan berlemak, pola tidur yang berubah, serta kebiasaan makan berlebihan saat berbuka berpotensi meningkatkan keluhan dispepsia dan memengaruhi penggunaan obat di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren penjualan obat dispepsia pada periode sebelum, saat, dan setelah Ramadhan di Apotek X. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis observasional deskriptif menggunakan data penjualan obat dispepsia di Apotek X, Pulau Lombok, pada periode Februari hingga April 2025. Sampel penelitian ditentukan secara purposive sampling meliputi golongan antasida, H2 bloker, dan Proton Pump Inhibitor (PPI). Data diperoleh dari sistem pencatatan penjualan obat secara elektronik dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjualan obat dispepsia meningkat dari 33,3% sebelum Ramadhan menjadi 38,2% saat Ramadhan, kemudian menurun menjadi 28,5% setelah Ramadhan. Golongan antasida merupakan obat yang paling banyak terjual pada seluruh periode pengamatan, karena efeknya yang cepat, mudah diperoleh, dan harganya terjangkau. Penjualan antasida meningkat dari 727 unit menjadi 788 unit saat Ramadhan, kemudian menurun menjadi 495 unit setelah Ramadhan. Penjualan PPI meningkat dari 383 unit menjadi 455 unit saat Ramadhan, sedangkan H2 bloker meningkat dari 106 unit menjadi 165 unit setelah Ramadhan. Temuan ini menyimpulkan bahwa terdapat perubahan tren penjualan obat dispepsia selama periode Ramadhan, sehingga penting bagi apotek untuk melakukan perencanaan stok obat dan edukasi penggunaan obat secara rasional.
REVIEW ARTIKEL : PEMILIHAN ANALGESIK AMAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN GINJAL KRONIK (GGK) Baiq Putri Aryana; Fawwaz Aqila Putri; Baiq Aulia Ali; Bintang Lestari; Halimatussakdiyah Halimatussakdiyah; Marina Ulfa; Tuhfatul Ulya
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57773

Abstract

Gangguan ginjal kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) merupakan kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal sehingga memengaruhi proses eliminasi obat, termasuk analgesik. Penggunaan analgesik pada pasien CKD memerlukan perhatian khusus karena penurunan laju filtrasi glomerulus dapat meningkatkan risiko akumulasi obat dan metabolit toksik yang berpotensi memperburuk kerusakan ginjal. Permasalahan utama dalam manajemen nyeri pada pasien CKD adalah terbatasnya pilihan analgesik yang aman serta tingginya risiko nefrotoksisitas akibat penggunaan obat tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau bukti ilmiah terkait keamanan penggunaan analgesik dan rekomendasi pemilihan obat berdasarkan tingkat keparahan gangguan fungsi ginjal. Metode penelitian yang digunakan adalah narrative review dengan penelusuran literatur melalui basis data PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan ResearchGate pada rentang publikasi tahun 2015–2025. Dari hasil penelusuran diperoleh lebih dari 50 artikel, kemudian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi hingga diperoleh 5 artikel utama yang relevan untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa asetaminofen (parasetamol) merupakan analgesik non-opioid yang paling aman digunakan pada pasien CKD dengan nyeri ringan hingga sedang karena memiliki risiko nefrotoksisitas yang rendah. Pada kelompok opioid, buprenorfin, fentanil, dan metadon dinilai lebih aman karena tidak menghasilkan akumulasi metabolit aktif yang signifikan. Sebaliknya, NSAID, morfin, dan kodein tidak direkomendasikan karena berisiko memperburuk fungsi ginjal dan menyebabkan toksisitas sistemik. Dengan demikian, pemilihan analgesik pada pasien CKD harus dilakukan secara individual melalui pemantauan klinis dan fungsi ginjal secara berkala.
ARTICLE REVIEW : PERBANDINGAN FARMAKOKINETIKA OMEPRAZOLE, PANTOPRAZOLE DAN ESOMEPRAZOLE SEBAGAI OBAT GOLONGAN PPI Baiq Citra Azzahra Qotrunnada; Diouf Maulana Dwi Putranto; Fawwaz Aqila Putri; Halimatussakdiyah Halimatussakdiyah; Nadia Magfira Nurmalasanti; Sabita Tarinda; Syahrani Febrianti; Wiwin Azariani; Candra Dwipayana Hamdin
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.60201

Abstract

Proton Pump Inhibitor (PPI) seperti omeprazole, pantoprazole, dan esomeprazole banyak digunakan dalam terapi GERD, tukak peptikum, dan infeksi Helicobacter pylori. Efektivitas PPI dipengaruhi oleh parameter farmakokinetik, terutama bioavailabilitas, metabolisme melalui CYP2C19, serta variabilitas antarindividu. Artikel review ini bertujuan membandingkan karakteristik farmakokinetika ketiga PPI dan menjelaskan implikasi klinisnya terhadap efektivitas serta keamanan terapi. Metode yang digunakan adalah kualitatif non-eksperimental dengan desain kajian literatur (literature review) dari jurnal nasional dan internasional tahun 2015–2025 melalui Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Publish or Perish, dengan inklusi artikel klinis manusia yang melaporkan Cmax, Tmax, AUC, dan bioavailabilitas. Hasil kajian menunjukkan esomeprazole memiliki bioavailabilitas lebih tinggi dan lebih stabil, serta variabilitas metabolik paling rendah sehingga memberikan kontrol asam yang lebih cepat dan konsisten. Pantoprazole menunjukkan bioavailabilitas stabil dan risiko interaksi obat terendah karena afinitas kecil terhadap CYP2C19, menjadikannya pilihan aman pada pasien polifarmasi. Omeprazole memiliki variabilitas farmakokinetik terbesar akibat ketergantungan tinggi pada metabolisme CYP2C19, sehingga responsnya paling dipengaruhi polimorfisme genetik dan gangguan fungsi hati. Polimorfisme CYP2C19 meningkatkan AUC dan durasi efek terutama pada omeprazole, serta lebih kecil pada pantoprazole dan esomeprazole. Secara keseluruhan, pemilihan PPI ideal harus mempertimbangkan parameter farmakokinetika, status metabolik pasien, kondisi klinis, dan risiko interaksi obat untuk mencapai terapi yang efektif dan aman.