Halimatussakdiyah Halimatussakdiyah
S1 Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Mataram

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

REVIEW ARTIKEL : PEMILIHAN ANALGESIK AMAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN GINJAL KRONIK (GGK) Baiq Putri Aryana; Fawwaz Aqila Putri; Baiq Aulia Ali; Bintang Lestari; Halimatussakdiyah Halimatussakdiyah; Marina Ulfa; Tuhfatul Ulya
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57773

Abstract

Gangguan ginjal kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) merupakan kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal sehingga memengaruhi proses eliminasi obat, termasuk analgesik. Penggunaan analgesik pada pasien CKD memerlukan perhatian khusus karena penurunan laju filtrasi glomerulus dapat meningkatkan risiko akumulasi obat dan metabolit toksik yang berpotensi memperburuk kerusakan ginjal. Permasalahan utama dalam manajemen nyeri pada pasien CKD adalah terbatasnya pilihan analgesik yang aman serta tingginya risiko nefrotoksisitas akibat penggunaan obat tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau bukti ilmiah terkait keamanan penggunaan analgesik dan rekomendasi pemilihan obat berdasarkan tingkat keparahan gangguan fungsi ginjal. Metode penelitian yang digunakan adalah narrative review dengan penelusuran literatur melalui basis data PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan ResearchGate pada rentang publikasi tahun 2015–2025. Dari hasil penelusuran diperoleh lebih dari 50 artikel, kemudian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi hingga diperoleh 5 artikel utama yang relevan untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa asetaminofen (parasetamol) merupakan analgesik non-opioid yang paling aman digunakan pada pasien CKD dengan nyeri ringan hingga sedang karena memiliki risiko nefrotoksisitas yang rendah. Pada kelompok opioid, buprenorfin, fentanil, dan metadon dinilai lebih aman karena tidak menghasilkan akumulasi metabolit aktif yang signifikan. Sebaliknya, NSAID, morfin, dan kodein tidak direkomendasikan karena berisiko memperburuk fungsi ginjal dan menyebabkan toksisitas sistemik. Dengan demikian, pemilihan analgesik pada pasien CKD harus dilakukan secara individual melalui pemantauan klinis dan fungsi ginjal secara berkala.
ARTIKEL REVIEW: IDENTIFIKASI TANAMAN JAMBU BIJI BERBASIS ETNOMEDISIN UNTUK MENGOBATI GANGGUAN PENCERNAAN Halimatussakdiyah Halimatussakdiyah; Neneng Rachmalia Izzatul Mukhlishah; Marina Ulfa; Baiq Mufida Lisya Fatiha
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57984

Abstract

Gangguan pencernaan merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami masyarakat dan dapat memengaruhi kualitas hidup. Data Global Burden of Disease (GBD) tahun 2019 menunjukkan terdapat 2.276,27 juta kasus prevalensi gangguan pencernaan secara global dengan prevalensi terstandarisasi usia sebesar 27.911,70 per 100.000 penduduk serta 443,53 juta kasus baru. Tingginya angka kejadian tersebut mendorong pemanfaatan tanaman obat tradisional sebagai alternatif pengobatan, salah satunya jambu biji (Psidium guajava L.). Tanaman ini secara empiris digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan pencernaan seperti diare, gastritis, dan konstipasi karena mengandung senyawa metabolit sekunder, antara lain polifenol, flavonoid, tanin, karoten, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan tanaman jambu biji dalam pengobatan gangguan pencernaan berdasarkan kajian literatur. Metode yang digunakan adalah narrative review dengan penelusuran artikel melalui basis data Google Scholar, ResearchGate, dan ScienceDirect pada rentang tahun 2017–2025. Seleksi literatur dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan diperoleh limah belas artikel yang memenuhi syarat. Hasil kajian menunjukkan bahwa bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun, terutama untuk pengobatan diare dengan nilai Use Value (UV) berkisar antara 0,16–2,44 yang menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang berbeda di setiap wilayah. Selain untuk diare, daun, buah, dan batang jambu biji juga dimanfaatkan dalam pengobatan gastritis, konstipasi, dan wasir. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa jambu biji memiliki potensi sebagai tanaman obat tradisional dalam pengobatan berbagai gangguan pencernaan.
ARTICLE REVIEW : PERBANDINGAN FARMAKOKINETIKA OMEPRAZOLE, PANTOPRAZOLE DAN ESOMEPRAZOLE SEBAGAI OBAT GOLONGAN PPI Baiq Citra Azzahra Qotrunnada; Diouf Maulana Dwi Putranto; Fawwaz Aqila Putri; Halimatussakdiyah Halimatussakdiyah; Nadia Magfira Nurmalasanti; Sabita Tarinda; Syahrani Febrianti; Wiwin Azariani; Candra Dwipayana Hamdin
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.60201

Abstract

Proton Pump Inhibitor (PPI) seperti omeprazole, pantoprazole, dan esomeprazole banyak digunakan dalam terapi GERD, tukak peptikum, dan infeksi Helicobacter pylori. Efektivitas PPI dipengaruhi oleh parameter farmakokinetik, terutama bioavailabilitas, metabolisme melalui CYP2C19, serta variabilitas antarindividu. Artikel review ini bertujuan membandingkan karakteristik farmakokinetika ketiga PPI dan menjelaskan implikasi klinisnya terhadap efektivitas serta keamanan terapi. Metode yang digunakan adalah kualitatif non-eksperimental dengan desain kajian literatur (literature review) dari jurnal nasional dan internasional tahun 2015–2025 melalui Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Publish or Perish, dengan inklusi artikel klinis manusia yang melaporkan Cmax, Tmax, AUC, dan bioavailabilitas. Hasil kajian menunjukkan esomeprazole memiliki bioavailabilitas lebih tinggi dan lebih stabil, serta variabilitas metabolik paling rendah sehingga memberikan kontrol asam yang lebih cepat dan konsisten. Pantoprazole menunjukkan bioavailabilitas stabil dan risiko interaksi obat terendah karena afinitas kecil terhadap CYP2C19, menjadikannya pilihan aman pada pasien polifarmasi. Omeprazole memiliki variabilitas farmakokinetik terbesar akibat ketergantungan tinggi pada metabolisme CYP2C19, sehingga responsnya paling dipengaruhi polimorfisme genetik dan gangguan fungsi hati. Polimorfisme CYP2C19 meningkatkan AUC dan durasi efek terutama pada omeprazole, serta lebih kecil pada pantoprazole dan esomeprazole. Secara keseluruhan, pemilihan PPI ideal harus mempertimbangkan parameter farmakokinetika, status metabolik pasien, kondisi klinis, dan risiko interaksi obat untuk mencapai terapi yang efektif dan aman.