Baiq Aulia Ali
S1 Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI ETNOMEDISIN PENGOBATAN PENYAKIT PENCERNAAN DI DESA KOTARAJA NUSA TENGGARA BARAT Baiq Aulia Ali; Nadia Magfira Nurmalasanti; A’yuni Guban Juniarza; Afifah Tasya Kamila; Bintang Lestari; Neneng Rachmalia Izzatul Mukhlishah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57742

Abstract

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat. Namun, seiring perkembangan zaman, pengetahuan ini berpotensi mengalami penurunan  akibat perubahan pola hidup masyarakat serta belum terdokumentasi secara sistematis. Oleh karena itu, kajian etnomedisin diperlukan untuk menginventarisasi dan mendokumentasikan pemanfaatan tumbuhan obat yang masih digunakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ramuan, sumber bahan, cara pengolahan dan penggunaan, serta tingkat kepentingan tumbuhan obat dalam pengobatan penyakit pencernaan di Desa Kotaraja, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif terhadap lima orang informan (belian) yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif menggunakan metode Index of Cultural Significance (ICS). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 18 jenis ramuan yang digunakan untuk mengobati penyakit pencernaan, meliputi diare, konstipasi, maag, dan perut kembung. Ramuan tersebut terdiri atas 27 bahan tumbuhan dan 3 bahan non-tumbuhan. Cara pengolahan yang paling umum adalah diparut, sedangkan cara penggunaan yang paling banyak dilakukan adalah diminum. Sumber bahan sebagian besar diperoleh dengan cara membeli. Nilai ICS tertinggi diperoleh jeruk nipis, kunyit, dan bunga pukul empat yang menunjukkan tingkat kepentingan tinggi dalam pengobatan tradisional masyarakat. Disimpulkan bahwa praktik etnomedisin dalam pengobatan penyakit pencernaan di Desa Kotaraja masih digunakan secara luas dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pengobatan berbasis bahan alam serta sebagai upaya pelestarian pengetahuan lokal masyarakat.
REVIEW ARTIKEL : PEMILIHAN ANALGESIK AMAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN GINJAL KRONIK (GGK) Baiq Putri Aryana; Fawwaz Aqila Putri; Baiq Aulia Ali; Bintang Lestari; Halimatussakdiyah Halimatussakdiyah; Marina Ulfa; Tuhfatul Ulya
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57773

Abstract

Gangguan ginjal kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) merupakan kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal sehingga memengaruhi proses eliminasi obat, termasuk analgesik. Penggunaan analgesik pada pasien CKD memerlukan perhatian khusus karena penurunan laju filtrasi glomerulus dapat meningkatkan risiko akumulasi obat dan metabolit toksik yang berpotensi memperburuk kerusakan ginjal. Permasalahan utama dalam manajemen nyeri pada pasien CKD adalah terbatasnya pilihan analgesik yang aman serta tingginya risiko nefrotoksisitas akibat penggunaan obat tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau bukti ilmiah terkait keamanan penggunaan analgesik dan rekomendasi pemilihan obat berdasarkan tingkat keparahan gangguan fungsi ginjal. Metode penelitian yang digunakan adalah narrative review dengan penelusuran literatur melalui basis data PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan ResearchGate pada rentang publikasi tahun 2015–2025. Dari hasil penelusuran diperoleh lebih dari 50 artikel, kemudian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi hingga diperoleh 5 artikel utama yang relevan untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa asetaminofen (parasetamol) merupakan analgesik non-opioid yang paling aman digunakan pada pasien CKD dengan nyeri ringan hingga sedang karena memiliki risiko nefrotoksisitas yang rendah. Pada kelompok opioid, buprenorfin, fentanil, dan metadon dinilai lebih aman karena tidak menghasilkan akumulasi metabolit aktif yang signifikan. Sebaliknya, NSAID, morfin, dan kodein tidak direkomendasikan karena berisiko memperburuk fungsi ginjal dan menyebabkan toksisitas sistemik. Dengan demikian, pemilihan analgesik pada pasien CKD harus dilakukan secara individual melalui pemantauan klinis dan fungsi ginjal secara berkala.