Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Survei Implementasi Strategi Pembelajaran dalam Keterlibatan Belajar Anak Autis di PKBM Mata Hati Bandar Lampung Angella Cecilia; Ratna Tri Utami; Annisa Purwanggi
Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus Vol. 10 No. 1 (2026): JPKK
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jpkk.v10i1.1530

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi strategi pembelajaran dan keterlibatan belajar anak autis di PKBM Mata Hati Bandar Lampung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Subjek penelitian adalah seluruh guru yang mengajar anak autis di PKBM Mata Hati Bandar Lampung berjumlah 10 orang dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner skala Likert yang terdiri atas 30 butir pernyataan mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan strategi pembelajaran, keterlibatan belajar anak, serta evaluasi dan refleksi guru. Validitas instrumen dilakukan melalui expert judgement, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan Alpha Cronbach dan menunjukkan kategori reliabel. Analisis data menggunakan statistik deskriptif berupa persentase. Hasil penelitian menunjukkan temuan utama bahwa penggunaan media visual dan contoh konkret merupakan strategi paling dominan dalam meningkatkan keterlibatan belajar anak autis (80%), diikuti penguatan positif dan pengelolaan lingkungan belajar yang terstruktur. Namun, penerapan strategi pembelajaran secara terpadu belum dilakukan secara konsisten. Keterlibatan belajar anak autis berada pada kategori cukup baik, terutama pada aspek pemahaman materi melalui dukungan visual. Evaluasi dan refleksi guru telah dilakukan, tetapi pencatatan perkembangan anak serta evaluasi berbasis data masih terbatas. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan integrasi strategi pembelajaran dan dokumentasi perkembangan anak secara sistematis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran anak autis.
Pelatihan Kader Pendidikan Antikorupsi Berbasis Student Centered Learning di SMP Negeri 3 Natar Dalman Dalman; Angella Cecilia; Adam Muhammad Razak; Ridwan Ridwan
Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (Pamas) Vol 10, No 3 (2026): Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (PAMAS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/pamas.v10i3.6842

Abstract

Corruption is a problem that can hinder development and undermine integrity in society. Therefore, anti-corruption education needs to be introduced from an early age through learning activities that provide students with direct experiences. This activity aimed to describe the implementation of anti-corruption cadre training based on Student Centered Learning (SCL) at SMP Negeri 3 Natar and to describe changes in students' awareness and participation after participating in the activity. The activity employed an action research approach combined with SCL through the stages of problem identification, action planning, implementation and observation, reflection, and follow-up. The participants were students selected as anti-corruption education cadres. Data were collected through observation, interviews, and documentation and analyzed qualitatively through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that students demonstrated enthusiasm during the training, became more capable of recognizing dishonest behavior in everyday life, and showed greater courage to express opinions and reject behaviors that were inconsistent with anti-corruption values. Group discussions and poster-making activities provided students with opportunities to actively understand and disseminate the values of honesty, responsibility, courage, caring, and discipline. Thus, anti-corruption cadre training based on SCL can serve as a contextual and participatory alternative for character education in schools. Continuous implementation and support from the entire school community are needed so that anti-corruption values can develop into part of the school culture