Fitri Ayuningtyas
Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Law Enforcement Against Spatial Planning Violations in Housing Development: Challenges, Governance, and Regulatory Compliance Arie Sigit; Nur Handayati; Fitri Ayuningtyas; Vieta Imelda Cornelis
Jurnal Ilmiah Hukum dan Hak Asasi Manusia Vol 5 No 2 (2026): January
Publisher : Penerbit Goodwood

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/jihham.v5i2.6865

Abstract

Purpose: This study aims to analyze the implementation of law enforcement against spatial planning violations in housing development, identify the factors affecting its effectiveness, and examine strategies to strengthen legal compliance in sustainable housing development.Research Methodology: This study employed a qualitative method using an empirical juridical approach. Data were collected through in-depth interviews, document analysis, observation, and literature review. The data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and SaldaƱa, including data reduction, data display, and conclusion drawing, with source and method triangulation to ensure credibility. Results: The findings indicate that law enforcement against spatial planning violations has not been fully effective due to weak institutional coordination, limited supervision, inadequate integration of spatial data, and inconsistent implementation of legal sanctions. Administrative sanctions remain the dominant enforcement mechanism, while preventive monitoring and public participation require significant improvement.Conclusions: Effective law enforcement requires integrated governance, stronger institutional capacity, consistent supervision, updated spatial planning instruments, and active collaboration among government agencies, law enforcement institutions, and developers.Limitations: This study is limited to a qualitative analysis of housing development cases and does not include comparative regional analysis or quantitative measurement of law enforcement effectiveness.Contributions: This study contributes to the development of spatial planning law by providing practical recommendations for strengthening law enforcement, improving spatial governance, and supporting sustainable housing development policies in Indonesia.
Tindak Pidana Kohabitasi dalam KUHP Baru: Antara Privasi, Moralitas, dan Penegakan Hukum Agung Dwi Prasetia; Wahyu Prawesthi; Sri Sukmana Damayanti; Fitri Ayuningtyas
Binamulia Hukum Vol. 15 No. 2 (2026): Binamulia Hukum (article in press)
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37893/jbh.v15i2.1487

Abstract

Pengesahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menandai transisi fundamental dalam tata hukum pidana Indonesia, beralih dari paradigma individualistik-liberal warisan kolonial menuju paradigma komunal-nasionalistik yang berorientasi pada nilai-nilai keseimbangan. Salah satu manifestasi paling kontroversial dari pergeseran ini adalah kriminalisasi kohabitasi melalui Pasal 412, yang mempidana pasangan tidak menikah yang hidup bersama layaknya suami istri. Artikel ini mengkaji ketegangan antara upaya negara dalam menegakkan moralitas publik dan kewajiban melindungi hak privasi warga negara. Terdapat kesenjangan yang signifikan antara das Sollen (tatanan ideal negara yang menuntut kesucian institusi perkawinan) dan das Sein (realitas empiris masyarakat plural di mana kohabitasi, perkawinan informal, dan hambatan administratif semakin marak). Menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, komparatif, serta analisis manfaat-biaya (cost-benefit analysis), kajian ini menemukan bahwa meskipun pembentuk undang-undang mencoba menyeimbangkan intervensi negara melalui mekanisme delik aduan absolut guna mencegah persekusi, rumusan Pasal 412 tetap membawa risiko overkriminalisasi yang masif. Kebijakan paternalisme moral ini tidak hanya berbenturan dengan instrumen hak asasi manusia internasional, khususnya Pasal 17 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), tetapi juga berpotensi menciptakan diskriminasi struktural terhadap kelompok rentan, serta membebani sistem peradilan pidana secara tidak proporsional.