Ni Luh Yuni Naintina
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Buleleng

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PERENCANAAN OBAT DI PUSKESMAS PORIS GAGA LAMA PERIODE JANUARI – DESEMBER 2023 Evanti Indriastuti; Reza Ismail Abdul Rahman; Lestari Nugrahini; Ni Luh Yuni Naintina; Boy Yunaidy; Silvia Anggraeni
Jurnal Kesehatan Sundaram Vol. 3 No. 2 (2026): JKS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/tktqdx38

Abstract

Perencanaan obat merupakan tahap dalam pengelolaan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan obat-obatan dalam pelayanan kesehatan untuk menghindari kekosongan obat. Sehingga perlu dilakukan analisa perhitungan secara tepat agar obat yang tersedia sesuai dengan kebutuhan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kesesuaian perencanaan obat terhadap realisasi pada RKO 2023 sedangkan untuk tujuan khusus adalah untuk mengetahui kesesuaian perencanaan obat baru, obat kombinasi dan jumlah pemakaian terhadap realisasinya. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan metode konsumsi. Data yang diambil merupakan data sekunder secara retrospektif berupa data perencanaan obat periode Januari – Desember Tahun 2023 dan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) Puskesmas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan perencanaan obat di Puskesmas Poris Gaga Lama pada tahun 2023 terdapat kesesuaian antara perencanaan obat dengan realisasinya sebesar 64,76 %. Kemudian pada perencanaan obat baru dan obat kombinasi terdapat kesesuaian sebesar 0% yang disebabkan tidak terdatanya penggunaan untuk obat baru dan obat kombinasi dan untuk jumlah pemakaian terdapat kesesuaian dengan realisasi sebesar 81,90% disebabkan adanya peningkatan pasien. Kesimpulan bahwa perencanaan obat dipuskesmas Poris Gaga Lama masih perlu diperhatikan kembali diharapkan perlu dilakukan pelatihan mengenai pengelolaan obat kepada seluruh petugas pengelola obat di Puskesmas.
EDUKASI SWAMEDIKASI NYERI YANG AMAN DAN RASIONAL PADA MASYARAKAT Ivans Panduwiguna; Boy Yunaidy; Ahmad Sahlan Baniu; Retno Lisnawati; Silvia Anggraeni; Ni Luh Yuni Naintina
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sundaram Vol. 4 No. 1 (2026): JPMS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/jpms.v4i1.89

Abstract

Swamedikasi nyeri merupakan praktik yang umum dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan nyeri ringan hingga sedang dengan menggunakan obat bebas atau obat bebas terbatas tanpa resep dokter. Praktik ini pada dasarnya dapat memberikan manfaat berupa kemudahan akses pengobatan, penghematan biaya, dan percepatan penanganan keluhan ringan. Namun, swamedikasi yang tidak disertai pengetahuan yang memadai berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan, seperti kesalahan pemilihan obat, penggunaan dosis yang tidak tepat, durasi pemakaian yang terlalu lama, serta risiko efek samping dan interaksi obat. Konsep rasional dalam swamedikasi mencakup pemilihan obat yang sesuai dengan jenis dan tingkat nyeri, penggunaan dosis yang tepat, memperhatikan aturan pakai, serta memahami batasan kapan swamedikasi dapat dilakukan dan kapan harus dirujuk ke tenaga kesehatan. Analgesik yang umum digunakan dalam swamedikasi, seperti parasetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), memiliki profil manfaat dan risiko yang berbeda, sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi individu, termasuk usia, penyakit penyerta, dan penggunaan obat lain. Melalui edukasi yang terstruktur, masyarakat diharapkan mampu mengenali jenis nyeri yang masih dapat ditangani dengan swamedikasi dan nyeri yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Edukasi juga menekankan pentingnya membaca label obat, memahami kandungan zat aktif, serta menghindari penggunaan obat secara berlebihan atau bersamaan tanpa dasar yang jelas. Peran tenaga kesehatan, khususnya apoteker, sangat strategis dalam memberikan informasi yang benar dan mudah dipahami kepada masyarakat terkait penggunaan obat nyeri.