Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformasi Manajemen Sarana Prasarana Dan Relasi Eksternal Sebagai Determinan Daya Saing FKIP Universitas Satya Wiyata Mandala Di Era Disrupsi Digital Maria Goreti Kilmas; Rudolf Kempa; Paul Arjanto
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1266

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi manajemen sarana prasarana dan relasi eksternal sebagai determinan daya saing Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Satya Wiyata Mandala di era disrupsi digital. Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah kondisi sarana prasarana yang belum optimal, sistem informasi akademik yang masih manual, serta perlunya penguatan kemitraan eksternal sebagai pilar daya saing institusi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang mencakup delapan tema: kondisi sarana prasarana, pengelolaan sarana prasarana, relasi eksternal, pengelolaan relasi eksternal, masalah dan kesenjangan, transformasi yang dilakukan, dampak terhadap daya saing, serta refleksi dan visi ke depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, sarana prasarana berada dalam fase transisi transformasi digital, ditandai oleh optimalisasi laboratorium teknologi informasi dan pengembangan sistem informasi manajemen akademik, namun perpustakaan dalam kondisi rusak dan sistem informasi akademik masih berjalan manual; kedua, relasi eksternal memiliki fondasi kuat dengan tiga belas sekolah mitra aktif, kemitraan strategis internasional, dukungan tujuh pemerintah kabupaten, dan alumni sebagai mitra strategis; ketiga, transformasi kedua pilar tersebut berfungsi sebagai determinan daya saing yang tercermin dari pengakuan kompetensi digital lulusan dan keterlibatan mahasiswa dalam program nasional. Hambatan struktural utama adalah keterbatasan anggaran dan ketergantungan pada yayasan. Penelitian menyimpulkan bahwa ekosistem kemitraan eksternal yang telah terbangun perlu dikonversi menjadi sumber daya yang mendukung percepatan transformasi digital sarana prasarana.  
Evaluasi Pendidikan Berbasis Kebutuhan Masyarakat Di SMP Negeri 1 Kairatu Maria Goreti Kilmas; Sundun Triwardani; Hendelina Wael; Emma Rumahlewang; Izaak Hendrik Wenno
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1589

Abstract

Penyelenggaraan pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal memerlukan evaluasi yang komprehensif agar program yang dilaksanakan sekolah benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mampu meningkatkan mutu layanan pendidikan secara berkelanjutan. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah masih terdapatnya kesenjangan antara program pendidikan yang diselenggarakan sekolah dengan harapan dan kebutuhan nyata masyarakat setempat, khususnya di wilayah kepulauan Maluku. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penyelenggaraan pendidikan berbasis kebutuhan masyarakat di SMP Negeri 1 Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, dengan menggunakan model evaluasi Context, Input, Process, dan Product. Penelitian menerapkan pendekatan gabungan kuantitatif dan kualitatif dengan desain penjelasan berurutan, melibatkan seratus sembilan puluh satu responden yang terdiri atas guru, siswa, orang tua, tokoh masyarakat, dan komite sekolah. Data dikumpulkan melalui angket berskala Likert, wawancara mendalam, observasi, serta studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis kualitatif secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan berada pada kategori cukup baik dengan nilai rata-rata keseluruhan tiga koma dua delapan. Kompetensi pendidik memperoleh nilai tertinggi sebagai kekuatan utama sekolah, sedangkan keterlibatan masyarakat dan ketersediaan sarana prasarana menjadi aspek yang paling memerlukan perhatian. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi pendidik, tetapi juga oleh kemitraan sekolah dengan masyarakat, relevansi kurikulum terhadap potensi lokal, dan kelengkapan sarana pembelajaran, sehingga menghasilkan rekomendasi strategis bagi kebijakan pendidikan di wilayah tersebut.