Tingginya angka perputaran karyawan di industri retail menjadi tantangan signifikan yang memengaruhi stabilitas operasional organisasi. Studi ini diarahkan untuk menganalisis sejauh mana dampak workload dan work stress terhadap keinginan keluar karyawan (turnover intention) di sektor retail. Penelitian ini menerapkan desain kuantitatif dengan berfokus pada populasi seluruh karyawan CV. XYZ. Melalui teknik penarikan sampel yang ditentukan, diperoleh sampel sebanyak 40 orang responden. Instrumen kuesioner digunakan sebagai perangkat utama untuk menjaring data dari responden, yang kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linear berganda melalui perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, workload tidak memiliki pengaruh nyata terhadap keinginan keluar karyawan (t hitung = -0,946; p = 0,350 > 0,05). Fenomena ini mengindikasikan bahwa volume tugas yang padat dan ritme kerja yang cepat di industri retail cenderung dipandang sebagai konsekuensi logis dari profesi tersebut, sehingga tidak menjadi faktor pendorong mandiri bagi karyawan untuk mengundurkan diri. Sebaliknya, stres kerja secara parsial terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan yang kuat terhadap keinginan keluar karyawan (t hitung = 6,185; p = 0,000 < 0,05), yang menegaskan bahwa ketegangan emosional dan tekanan psikologis menjadi pemicu utama munculnya niat penarikan diri dari organisasi. Melalui pengujian simultan, workload dan work stress terbukti berpengaruh secara nyata terhadap keinginan keluar karyawan (F hitung = 21,088; p = 0,000 < 0,05), dengan kombinasi kedua variabel tersebut memberikan kontribusi besar (R-Square sebesar 53,3%) dalam menjelaskan fluktuasi intensi mengundurkan diri. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa penanganan perputaran karyawan di sektor retail tidak dapat bertumpu pada pengurangan volume kerja semata, melainkan memerlukan intervensi manajemen stres yang komprehensif serta penciptaan iklim kerja yang suportif guna menjaga kesejahteraan mental karyawan.