Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan Stunting melalui Pembentukan Pos Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Rita Gusmiati; Gustin, Rahmi Kurnia; Alwi, Nike Puspita; Alhamda, Syukra; Hidayati, Lisa; Wenny, Dwi Mutia; Thusdiyah, Halimah; Wulandari, Lara
Jurnal Abdidas Vol. 5 No. 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v5i6.1055

Abstract

Prevalensi stunting di Puskesmas Singgalang adalah sebesar 16,3%, dimana belum tercapainya Target Nasional Indonesia prevalensi stunting yaitu sebesar 12,5%. Berdasarkan Perpres nomor 72 tahun 2021, Pemerintah Indonesia memasukkan sanitasi sebagai salah satu strategi utama penurunan stunting. Sedangkan capaian Sanitasi di Puskesmas Singgalang masih belum mencapai target yaitu sebesar 67,6%, dimana hal ini masih jauh dari capaian target Nasional yaitu 100%.  Strategi STBM- Stunting merupakan solusi yang dapat di laksanakan dalam penyelesaian permasalahaan yang ada di Nagari Singgalang. Solusi tersebut merupakan upaya yang sistematis untuk dapat terjadinya perubahan perilaku yang higienis, saniter dan mencegah stunting. Metode yang digunakan pada pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah: Melakukan advokasi terkait pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, Pembentukan kader Pos STBM, Membentuk Pos STBM, Melakukan pelatihan kepada kader tentang metode pemicuan 5 pilar STBM dan 3 pilah pencegahan stunting, Memberikan penyuluhan dan promosi kesehatan dengan menggunakan media leaflet serta pemasangan billboard terkait perubahan perilaku pada masyarakat tentang hygiene, sanitasi dan stunting, Menilai pengetahuan dan sikap Masyarakat tentang Stunting dan sanitasi, Melakukan monitoring dan evaluasi sanitasi setelah dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat. Adapun hasil dan pencapaian dari kegiatan Pengabdian Masyarakat ini adalah terbentuknya Pos STBM, Telah dilatihnya 13 orang kader Pos STBM, peningkatan pengetahuan Masyarakat tentang sanitasi dan stunting manjadi 84,3%, dan pelaksanaan monitoring Pos STBM minimal 1 bulan sekali. Diharapkan kegiatan Pos STBM ini dapat dilakukan secara mandiri oleh kader pos STBM dengan support dari Masyarakat dan Puskesmas sehingga Pos STBM dapat dikatakan sebagai kegiatan usaha Kesehatan bersumber daya Masyarakat (UKBM).
Edukasi “Stop Bullying” Wujudkan Generasi Emas yang Sehat Jiwa Rinancy, Hariet; Nataria, Desti; Gustin, Rahmi Kurnia
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i4.18776

Abstract

ABSTRAK Bullying merupakan salah satu perilaku penyimpangan sosial yang marak dilakukan oleh anak usia sekolah yang memiliki dampak serius bagi korban bullying baik secara fisik maupun psikologis. Pentingnya edukasi tentang stop bullying pada anak adalah karena pada usia sekolah anak barada pada tahapan esensial dalam kehidupan, dimana anak memiliki angan yang sangat besar untuk menghadapi hal baru dan akan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Pengabdian masyarakat yang dilakukan berupa edukasi pada siswa SD sebanyak 29 orang. Pengabdian Masyarakat ini merupakan salah satu kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang bullying sebagai upaya pembentukan generasi emas yang sehat jiwa. Hasil evaluasi kegiatan pengabdian masyarakat didapatkan bahwa pengetahuan siswa tentang perilaku bullying sebelum dilakukan edukasi hampir separuh 44,8% memiliki pengetahuan kurang baik dan setelah diberikan edukasi pengetahuan siswa meningkat, dimana lebih dari separuh 55,2% siswa memiliki pengetahuan baik. Pemberian edukasi tentang bullying dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang bullying sehingga dapat mencegah terjadinya bullying antar siswa. Harapanya adalah sekolah dapat melanjutkan pemberian edukasi tentang bullying dengan cara yang lebih menarik serta membuat program yang terjadwal untuk memberikan edukasi tentang bullying. Kata Kunci: Bullying, Pengetahuan,Siswa  ABSTRACT Bullying is one of the social deviant behaviors that is rampant among school-age children that has a serious impact on victims of bullying both physically and psychologically. The importance of education about stop bullying in children is because at school age children are at an essential stage in life, where children have a very large desire to face new things and will be easily influenced by the environment. Community service was carried out in the form of education for 29 elementary school students. This community service is one of the Tri Darma Perguruan Tinggi activities which aims to increase students' knowledge about bullying as an effort to form a mentally healthy golden generation. The results of the evaluation of community service activities found that students' knowledge of bullying behavior before education was almost half 44.8% had poor knowledge and after education was given, students' knowledge increased, where more than half 55.2% of students had good knowledge. Providing education about bullying can increase students' knowledge about bullying so that it can prevent bullying between students. The hope is that schools can continue to provide education about bullying in a more interesting way and create a scheduled program to provide education about bullying. Keywords: Bullying, Knowledge, Students
Deteksi dini kesehatan mental emosional remaja sebagai upaya mewujudkan generasi emas yang sehat jiwa Rinancy, Hariet; Eni, Rosmi; Gustin, Rahmi Kurnia; Nataria, Desti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1714

Abstract

Background: Adolescence is a turbulent period of transition, both physically, psychologically, and socially. Amid these changes, it is not uncommon for adolescents to face various challenges that can impact their mental and emotional health. Mental health disorders, such as depression, anxiety, or eating disorders, often begin in adolescence, but unfortunately, they often go undetected or are ignored. Early detection is crucial because prompt intervention can prevent these conditions from worsening. Adolescents experiencing mental health problems may exhibit subtle symptoms, such as behavioral changes, decreased academic performance, social withdrawal, or changes in sleep and eating patterns. Ignoring these signs can have long-term impacts on adolescents' lives, including problems with interpersonal relationships, difficulties in education and careers, and an increased risk of risky behaviors such as risky sexual behavior, substance abuse, or even suicide. Purpose: To identify emotional mental health disorders in adolescents as a first step in realizing a mentally healthy golden generation. Method: This descriptive quantitative study describes emotional mental health problems in adolescents. The study was conducted at MAN 1 Padang Pariaman Regency. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 251 respondents. Data collection used the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Results: Most of the 139 adolescents (55.4%) showed abnormal scores on emotional symptoms, most of the 154 adolescents (61.3%) showed borderline scores on behavior, less than half of the adolescents (37%) had normal scores for hyperactivity, most adolescents (66.9%) showed abnormal scores for social problems, and the majority of adolescents (94%) showed normal scores for prosocial behavior. Conclusion: The majority of adolescents in this study experienced emotional mental health problems, so appropriate interventions are needed for adolescents. Suggestion: Schools, when implementing any intervention program, should use these prosocial behaviors as a foundation of strengths to encourage positive changes in other aspects of difficulties. For example, teaching helpful behaviors can improve problematic social relationships.   Keywords: Adolescents; Early Detection; Emotional; Mental Health.   Pendahuluan: Masa remaja adalah periode transisi yang penuh gejolak, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Di tengah perubahan ini, tidak jarang remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional mereka. Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan, sering kali dimulai pada usia remaja, namun sayangnya, sering kali tidak terdeteksi atau diabaikan. Deteksi dini menjadi sangat krusial karena intervensi yang cepat dapat mencegah kondisi ini menjadi lebih parah. Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin menunjukkan gejala yang tidak selalu jelas, seperti perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau perubahan pola tidur dan makan. Mengabaikan tanda-tanda ini bisa berdampak jangka panjang pada kehidupan remaja, termasuk masalah dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam pendidikan dan karier, hingga peningkatan risiko perilaku berisiko seperti perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat atau bahkan bunuh diri. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan mental emosional pada remaja sebagai langkah awal dalam mewujudkan genarasi emas yang sehat jiwa. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggambarkan masalah kesehatan mental emosional remaja. Penelitian dilakukan di MAN 1 Kabupaten Padang Pariaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 251 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). Hasil: Sebagian besar 139 remaja (55.4%) menunjukKan skor abnormal pada gejala emosi, sebagian besar 154 remaja (61.3%) menunjuKkan skor borderline pada perilaku, kurang dari setengah remaja (37%) berada pada skor normal untuk hiperaktivitas, sebagian besar remaja (66.9%) menunjukkan skor abnormal untuk masalah teman sebaya dan mayoritas ramaja (94%) menunjukkan skor normal untuk prososial. Simpulan: Mayoritas remaja pada penelitian ini mengalami masalah kesehatan mental emosinal, sehingga perlu diberikan intervensi yang tepat pada remaja. Saran: Sekolah dalam memberikan setiap program intervensi yang diluncurkan harus menggunakan perilaku prososial ini sebagai fondasi kekuatan untuk mendorong perubahan positif pada aspek kesulitan lainnya. Misalnya, mengajarkan perilaku tolong-menolong dapat meningkatkan hubungan teman sebaya yang bermasalah.   Kata Kunci: Deteksi Dini; Emosional; Kesehatan Mental; Remaja.