Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN TENAGA KESEHATAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA ODS DI PUSKESMAS SUNGAI SARIK. Yuderna, Vivi; Eni, Rosmi
Ensiklopedia of Journal Vol 6, No 2 (2024): Vol. 6 No. 2 Edisi 3 Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v6i3.2111

Abstract

Abstract: Mental Health is a condition where an individual can develop physically, mentally, spiritually and socially so that the individual is aware of his own abilities, can deal with pressure, can work productively, and is able to contribute to his community without any mental disturbance. ODS (People with Schizophrenia) is a mental disorder characterized by very basic deviations and differences in thoughts, accompanied by unnatural emotional expressions. The research was conducted in July-August 2023 at the Sungai Sariak health center. The research sample was 48 people with a sampling technique using total sampling. The statistical test used Chi Square for the degree of significance (p value < α 0.05), with a P value of 0.010. The research results found that the majority (68.2%) had poor family support and the majority (65%) of staff support was poor. There is a relationship between family support and health workers and compliance with taking medication at the Sungai Sariak Community Health Center 2023Keywords: Family support, health worker support, ODS
Studi Kasus Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Diabetes Mellitus Tipe II Di Wilayah Kerja Puskesmas Pariaman Adila, Siti; Sinthania, Debby; Anggia Sari, Dwi Happy; Eni, Rosmi
Jurnal Keperawatan Medika Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Keperawatan Medika
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jkem.v2i2.45

Abstract

Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi Insulin. International Diabetes Federation (IDF) mengatakan terdapat 463 juta orang pada usia 20 – 79 didunia menderita Diabetes Mellitus, dimana Indonesia menempati peringkat 7 dan 10 negara dengan jumlah penderita terbanyak yaitu sebesar 10.7 juta Data dari Puskermas Pauh kota Pariaman tahun 2023 angka kejadian Diabetes Mellitus tahun sebanyak 219 kasus. Hasil rekam medis Puskesmas Pauh Kota Pariaman mengalami peningkatan selama 3 tahun terakhir yaitu 547 kasus. Tujuan penelitian agar mampu memberikan asuhan keperawatan keluarga dengan Diabetes Mellitus tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2023. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan melakukan Asuhan Keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi. Penelitian dilaksanakan Selama 7 hari dari tanggal 14 -21 Februari. Hasil penelitian ditemukan diagnosa yaitu ketidakstabilan Kadar glukosa darah, intoleransi aktivitas, dan defisit pengetahuan. Hasil evaluasi didapatkan perubahan tingkat pengetahuan dan kemandirian keluarga dalam asuhan keperawatan keluarga dengan Diabetes Mellitus. Saran dari peneliti diharapkan keluarga dapat lebih memperhatikan pola makan yang sehat dan selalu mengontrol kesehatan secara rutin dipelayanan kesehatan.
Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn. J Dengan Resiko Perilaku Kekerasan Rahmah, Syafrina; Sinthania , Debby; Miswarti; Eni, Rosmi
Jurnal Keperawatan Medika Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Keperawatan Medika
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jkem.v3i1.244

Abstract

Berdasarkan pengambilan data awal di Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang didapatkan bahwa masalah resiko perilaku kekerasan pada tahun pada tahun 2021 terletak pada peringkat ke 2 yaitu 1.781 jiwa, dan tahun 2022 terdapat 1.284 jiwa, dan tahun 2023 mengalami penurun yaitu 464 jiwa. Tujuan penelitian adalah menerapkan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Prof.HB. Saanin Padang.Studi Kasus dilakukan selama 6 hari dari tanggal 26 Februari s/d 2 Maret 2024. Pasien yang berjumlah 1 orang berinisial Tn. J Diagnosa pertama yang muncul yaitu Resiko Perilaku Kekerasan. Strategi pelaksanaan pasien dengan risiko perilaku kekerasan ada 4 cara antara lai: 1 latihan cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik: tarik nafas dalam dan pukul kasur bantal), 2 : (latihan minum obat), 3 : (latihan secara verbal 3 cara yaitu mengungkapkan, meminta, dan menolak dengan benar), 4 : (latihan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan berdoa). Pada saat dilakukan implementasi selama 5 hari didapatkan hasil pasien sudah dapat mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara tarik napas dalam dan pukul kasur dan bantal. Hasil evaluasi tindakan tersebut yaitu maslah resiko perilaku kekerasan teratasi. Pada penelitian ini diharapkan Tn. J memahami pemberian perawatan jiwa, begitu juga dengan peneliti, rumah sakit dan Pendidikan diharapkan bisa menambah wawasan sebagai acuan dalam memberikan asuhan keperawatan jwa secara optimal.
Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Halusinasi Pendengaran Dhea Ramayela; Anggia Sari, Dwi Happy; Eni, Rosmi; Sinthania, Debby
Jurnal Keperawatan Medika Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Keperawatan Medika
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jkem.v3i1.249

Abstract

Gangguan jiwa merupakan gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi jiwa dengan manifestasi dari bentuk penyimpangan perilaku akibat adanya distorsi emosi sehingga ditemukan ketidakwajaran dalam bertingkah laku. Halusinasi adalah persepsi klien yang salah melalui panca indra terhadap lingkungan tanpa adanya stimulus atau rangsangan yang nyata. Berdasarkan data yang didapat di RSJ Prof. HB Saanin Padang diagnosis keperawatan terbanyak pada tahun 2023 dengan masalah keperawatan halusinasi (96,2%). Tujuan penelitian studi kasus ini adalah mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan jiwa berdasarkan tahapan pendokumentasian asuhan keperawatan. Penelitian ini dimulai tanggal 26 Februari s.d. 2 Maret 2024 di Ruang Flamboyan Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Padang, dengan metode studi kasus. Hasil pengkajian pada Tn. R yaitu tanda dan gejala yang ditemukan pada klien berupa mendengar bisikan-bisikan halus. Setelah evaluasi didapatkan hasil bahwa klien mampu mengontrol halusinasinya berupa cara menghardik, meminum obat secara teratur, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan harian. Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat mengelola klien dengan masalah keperawatan jiwa dilakukan dengan optimal
PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG BUDIDAYA, KHASIAT DAN MANFAAT LEBAH MADU GALO-GALO GENIOTRIGONA THORACICA DAN HETEROTRIGONA ITAMA BAGI KESEHATAN PADA KELOMPOK TANI TRISULA MUDA KENAGARIAN API-API PASAR BARU KECAMATAN BAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN Gusni, Jufrika; Miswarti, Miswarti; Eni, Rosmi; Jasmi, Jasmi
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 2 (2025): Vol. 7 No. 2 Edisi 1 Januari 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i2.2775

Abstract

Many studies have confirmed the benefits of galo-galo bee honey for health, even BPOM has determined geniotrigona thoracica and heterotrigona itama honey as one type of medicine. In addition, thoracica and itama honey also contain various important minerals such as calcium, magnesium, sodium, copper, manganese, iron, potassium, and phosphorus. In addition, galo-galo bee honey also contains various vitamins, such as vitamins B1, B2, K and C, as well as several enzymes that are good for digestion and can heal wounds. The Trisula Muda Forest Farmer Group is a farmer group initiated by the Kenagarian Api-Api Kecamatan, Bayang Pes-sel District. There are still many problems that are still felt by this farmer group, including group members not knowing how to cultivate, the efficacy and benefits of galo-galo bee honey for health. The target of the Community Partnership Program with partners focuses on increasing the knowledge of farmer group members regarding the cultivation, efficacy and benefits of galo-galo bee honey for health. To achieve this, it is necessary to hold counseling and to the young trisula farmer group. Extension is carried out by bringing in professional experts on the cultivation of Galo-galo bees by assessing the pre and post knowledge of the members of the farmer group. The output targets produced from this Community Partnership Program include: publication through accredited national scientific journals, articles in the mass media, posters, and videos of implementation with a duration of ± 5 minutes Keyword: beekeeping, benefits of honey, Health
Pengaruh Penerapan Terapi Kognitif Terhadap Tanda Dan Gejala Serta Kemampuan Mengontrol Perilaku Kekerasan Klien Skizofrenia Miswarti, Miswarti; Maidawilis, Maidawilis; Gusni, Jufrika; Eni, Rosmi; Rahayu, Metha Kemala; Afnihazi, Ridhyalla; Nopita, Yanti
Jurnal Warta Dharmawangsa Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/wdw.v19i1.6013

Abstract

Studi Kasus : Asuhan Keperawatan Jiwa pada Tn.K Dengan Isolasi Sosial Nabila, Maftu; Miswarti; Afnuhazi, Ridhyalla; Eni, Rosmi
Jurnal Keperawatan Medika Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Keperawatan Medika
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jkem.v3i2.203

Abstract

Skizofrenia adalah gangguan mental yang ditandai dengan distorsi dalam berfikir, persepsi, emosi, bahasa, konsep diri dan perilaku. Sebagian besar dari gejala negatif pasien dengan skizofrenia dapat berupa isolasi sosial. Isolasi sosial merupakan suatu kondisi dimana individu terjadi penurunan interaksi atau bahkan tidak dapat berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas,2018) prevelensi gangguan jiwa di indonesia sumatera barat berada diurutan keempat yaitu sebanyak 9,1%. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn K Dengan Isolasi Sosial Diagnosa Medis Skizofrenia di Wisma Nuri RSJ Prof HB Saanin Padang Tahun 2024. Metode yang digunakan yaitu dengan studi kasus yang meliputi pengkajian, diagosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Penelitian ini dilakukan diruangan Nuri dimana diruang tersebut ada dua orang pasien isolasi sosial dan Tn K dipilih sebagai pasien kelolaan karena pasien memiliki hampir semua tanda gejala isolasi sosial. Beberapa diagnosa keperawatan yang muncul yaitu isolasi sosial, harga diri rendah, halusinasi, dan defisit perawatan diri. Guna mengatasi masalah keperawatan yang timbul, diberikan tindakan keperawatan menggunakan strategi pelaksana. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa pasien mampu berkenalan jika di bantu oleh perawat. Kesimpulan dari penanganan isolasi sosial yang tetap diperlukan adalah pendekatan dan tercipta hubungan saling percaya. Dan diharapkan perawat diruang nuri dapat memperhatikan komunikasi dengan pasien sehingga hasil asuhan keperawatan lebih optimal.
Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku bullying pada anak usia sekolah: A systematic literature review Eni, Rosmi; Rinancy, Hariet; Siagian, Siti Hotna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.816

Abstract

Background: Bullying is violent behavior carried out by individuals or groups on an ongoing basis against someone who is considered weak or helpless, either physically or psychologically. At school age children are at an essential stage in life, where children have a very large desire to face new things and will be easily influenced by the environment. Purpose: To determine the factors that influence bullying behavior in school-age children. Method: Systematic literature review research sourced from database sources, namely Google Scholar, Pubmed, and Science Direct. The keywords used are bullying, factors, and school children. 149 literatures were obtained, then for the assessment of the quality of the literature using the PRISMA method and 9 literatures were selected that met the inclusion criteria. Results: Of the 9 literatures examined regarding the factors that cause bullying in school-age children, all literatures stated that the most dominant factors causing bullying are family factors, peer influence and school environment. 5 of the literatures stated that the most dominant bullying factors in children are unpleasant experiences and social media influence, while 3 literatures stated that the bullying factors are personality and high self-esteem and substance use. Conclusion: Factors that influence bullying behavior in school-age children are family factors, children's bad experiences (bad experiences in childhood), peer or school factors, social media, and exposure to addictive substances. Therefore, appropriate intervention is needed to address these causal factors, so that the prevalence of bullying behavior in school-age children can decrease.   Keywords: Bullying; School-Age Children; Violence.   Pendahuluan: Bullying adalah perilaku kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok secara terus-menerus terhadap seseorang yang dianggap lemah atau tidak berdaya dapat dilakukan secara fisik maupun psikologis. Pada usia sekolah anak berada pada tahapan esensial dalam kehidupan, dimana anak memiliki angan yang sangat besar untuk menghadapi hal baru dan akan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku bullying pada anak usia sekolah. Metode: Penelitian systematic literature review berasal dari sumber database yaitu Google Scholar, Pubmed, dan Sciencedirect. Kata kunci yang digunakan adalah bullying, factor, dan anak sekolah. Didapatkan 149 literatur, kemudian untuk penilaian kualitas literatur menggunakan metode PRISMA dan terpilih 9 literatur yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Dari 9 literatur yang diteliti, semua literatur menyatakan bahwa faktor yang paling dominan yang menyebabkan terjadinya bullying adalah faktor keluarga, pengaruh teman sebaya, dan lingkungan sekolah. 5 diantara literatur menyatakan, faktor bullying yang paling dominan pada anak adalah pengalaman yang tidak menyenangkan dan pengaruh media social. Sementara 3 literatur menyatakan, faktor bullying adalah kepribadian dan harga diri yang tinggi serta penggunaan zat adiktif. Simpulan: Faktor yang memengaruhi perilaku bullying pada anak usia sekolah adalah faktor keluarga, adverse children experience (pengalaman buruk di masa kecil), peer group atau faktor sekolah, media social, dan paparan zat adiktif. Oleh karena itu, perlunya intervensi yang tepat untuk mengatasi faktor penyebab tersebut, agar prevalensi perilaku bullying pada anak usia sekolah dapat menurun.   Kata Kunci: Anak Usia Sekolah; Bullying; Kekerasan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SELF-MANAGEMENT KLIEN GAGAL GINJAL KRONIK Nopita, Yanti; Eni, Rosmi; Rahayu, Metha Kemala; Gusni, Jufrika
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 15, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v15i2.3056

Abstract

 Gagal ginjal merupakan stadium lanjut dari penyakit Chronic Kidney Disease (CKD), adalah hilangnya fungsi ginjal yang tidak dapat dipulihkan yang sering kali memerlukan terapi penggantian ginjal/Kidney Replacement Therapy (KRT). Penyakit ginjal kronis (CKD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat besar. Saat ini, diperkirakan 850 juta orang di seluruh dunia menderita CKD, jauh lebih tinggi daripada jumlah orang yang hidup dengan diabetes melitus atau Human Immunodeficiency Virus (HIV). Gagal Ginjal Kronik yang tidak di manajemen secara tepat dan benar, dapat mengakibatkan komplikasi jangka panjang. Dalam pengobatan dan perawatan penyakit-penyakit kronis, penting bagi klien untuk berpartisipasi dan mampu melakukan manajemen diri untuk mencegah terjadinya komplikasi dan meningkatkan harapan serta kualitas hidup. Literatur review ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku self-management pada klien gagal ginjal kronik. Literatur review yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jurnal terkait dengan pencarian pada database berbasis ilmiah, dengan kata kunci Chronic Kidney Disease (CKD) - Self Management – Factor Affecting. Berdasarkan hasil literatur, beberapa faktor yang dapat mempengaruhi self-management klien CKD antara lain tekanan psikologis, literasi kesehatan, efikasi diri, dan dukungan sosial. Meskipun ada penelitian yang menunjukkan faktor literasi kesehatan kritis yang paling penting, namun diharapkan adanya penelitian-penelitian lanjutan untuk melihat faktor mana yang dominan sehingga perawat dapat mempersiapkan intervensi keperawatan dalam mengatasi masalah tersebut.Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik, Manajemen diri, Faktor yang mempengaruhi
Deteksi dini kesehatan mental emosional remaja sebagai upaya mewujudkan generasi emas yang sehat jiwa Rinancy, Hariet; Eni, Rosmi; Gustin, Rahmi Kurnia; Nataria, Desti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1714

Abstract

Background: Adolescence is a turbulent period of transition, both physically, psychologically, and socially. Amid these changes, it is not uncommon for adolescents to face various challenges that can impact their mental and emotional health. Mental health disorders, such as depression, anxiety, or eating disorders, often begin in adolescence, but unfortunately, they often go undetected or are ignored. Early detection is crucial because prompt intervention can prevent these conditions from worsening. Adolescents experiencing mental health problems may exhibit subtle symptoms, such as behavioral changes, decreased academic performance, social withdrawal, or changes in sleep and eating patterns. Ignoring these signs can have long-term impacts on adolescents' lives, including problems with interpersonal relationships, difficulties in education and careers, and an increased risk of risky behaviors such as risky sexual behavior, substance abuse, or even suicide. Purpose: To identify emotional mental health disorders in adolescents as a first step in realizing a mentally healthy golden generation. Method: This descriptive quantitative study describes emotional mental health problems in adolescents. The study was conducted at MAN 1 Padang Pariaman Regency. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 251 respondents. Data collection used the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Results: Most of the 139 adolescents (55.4%) showed abnormal scores on emotional symptoms, most of the 154 adolescents (61.3%) showed borderline scores on behavior, less than half of the adolescents (37%) had normal scores for hyperactivity, most adolescents (66.9%) showed abnormal scores for social problems, and the majority of adolescents (94%) showed normal scores for prosocial behavior. Conclusion: The majority of adolescents in this study experienced emotional mental health problems, so appropriate interventions are needed for adolescents. Suggestion: Schools, when implementing any intervention program, should use these prosocial behaviors as a foundation of strengths to encourage positive changes in other aspects of difficulties. For example, teaching helpful behaviors can improve problematic social relationships.   Keywords: Adolescents; Early Detection; Emotional; Mental Health.   Pendahuluan: Masa remaja adalah periode transisi yang penuh gejolak, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Di tengah perubahan ini, tidak jarang remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional mereka. Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan, sering kali dimulai pada usia remaja, namun sayangnya, sering kali tidak terdeteksi atau diabaikan. Deteksi dini menjadi sangat krusial karena intervensi yang cepat dapat mencegah kondisi ini menjadi lebih parah. Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin menunjukkan gejala yang tidak selalu jelas, seperti perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau perubahan pola tidur dan makan. Mengabaikan tanda-tanda ini bisa berdampak jangka panjang pada kehidupan remaja, termasuk masalah dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam pendidikan dan karier, hingga peningkatan risiko perilaku berisiko seperti perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat atau bahkan bunuh diri. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan mental emosional pada remaja sebagai langkah awal dalam mewujudkan genarasi emas yang sehat jiwa. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggambarkan masalah kesehatan mental emosional remaja. Penelitian dilakukan di MAN 1 Kabupaten Padang Pariaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 251 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). Hasil: Sebagian besar 139 remaja (55.4%) menunjukKan skor abnormal pada gejala emosi, sebagian besar 154 remaja (61.3%) menunjuKkan skor borderline pada perilaku, kurang dari setengah remaja (37%) berada pada skor normal untuk hiperaktivitas, sebagian besar remaja (66.9%) menunjukkan skor abnormal untuk masalah teman sebaya dan mayoritas ramaja (94%) menunjukkan skor normal untuk prososial. Simpulan: Mayoritas remaja pada penelitian ini mengalami masalah kesehatan mental emosinal, sehingga perlu diberikan intervensi yang tepat pada remaja. Saran: Sekolah dalam memberikan setiap program intervensi yang diluncurkan harus menggunakan perilaku prososial ini sebagai fondasi kekuatan untuk mendorong perubahan positif pada aspek kesulitan lainnya. Misalnya, mengajarkan perilaku tolong-menolong dapat meningkatkan hubungan teman sebaya yang bermasalah.   Kata Kunci: Deteksi Dini; Emosional; Kesehatan Mental; Remaja.