Anas Makruf
Politeknik Muhammad Dahlan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PADA PASIEN POST OPERASI APPENDISITIS DENGAN MENGGUNAKAN NATRIUM KLORIDA 0,9 % DAN POVIDINE IODINE 10 % Anas Makruf; Ainun Kurniati; Nur Eka Dzulfaijah; Musmuliadin Musmuliadin
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/s0bmta23

Abstract

Proses penyembuhan luka terjadi secara normal sebagai efek (reaksi tubuh) terhadap trauma walaupun banyak bahan digunakan untuk membantu meningkatkan penyembuhan luka. Bahan perawatan yang selalu digunakan adalah natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 %. Tujuan penelitian ini adalah mencari pengaruh perawatan luka dengan menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 % terhadap percepatan penyembuhan luka.Penelitian ini menggunakan Quasy-Eksperiment (One Post Test Control Group Design). Populasi adalah semua pasien post operasi appendisitis yang dirawat di Ruang Bedah RSUD Bima.Jumlah sampel sebanyak 20 orang yang diambil secara consecutive sampling. Sampel dibagi dalam 2 kelompok; kelompok pertama 10 orang menggunakan natrium klorida 0,9 % dan kelompok kedua 10 orang menggunakan povidine iodine 10 %. Variabel independen adalah natrium klorida     0,9 % dan povidine iodine 10 % dan variabel dependen adalah penyembuhan luka. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan diolah dengan uji statistik paired t-test dengan tingkat kemaknaan p < 0,05.Hasil uji statistik paired t-test  menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 % dengan nilai p = 0,000 dan p = 0,002.             Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa perawatan luka dengan menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 %  mengalami penyembuhan luka yang sama. Pada akhirnya natrium klorida 0,9 % dapat digunakan sebagai pilihan bahan untuk perawatan luka post operasi appendisitis dengan tetap memperhatikan prinsip aseptik sebelum, selama dan sesudah operasi serta saat perawatan luka.
KARAKTERISTIK IBU DENGAN BALITA STUNTING DI POLINDES PENARAGA WILAYAH KERJA PUSKESMAS PENANA’E TAHUN 2026 Anas Makruf
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/qm2rbp18

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi perhatian utama di Indonesia karena berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta peningkatan risiko penyakit kronis pada anak. Berbagai faktor maternal, seperti tingkat pengetahuan, pendidikan, status sosial ekonomi, dan umur ibu, diduga berperan terhadap kejadian stunting pada balita. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ibu yang memiliki balita stunting di Polindes Penaraga, wilayah kerja Puskesmas Pena Na'e Tahun 2026 berdasarkan tingkat pengetahuan, pendidikan, status sosial ekonomi, dan umur ibu. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 132 ibu yang memiliki balita stunting. Sampel sebanyak 33 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 15 orang (45,5%). Berdasarkan tingkat pendidikan, mayoritas responden berpendidikan SMA/MA sebanyak 24 orang (72,7%). Status sosial ekonomi responden didominasi oleh kelompok ekonomi bawah sebanyak 19 orang (57,6%). Berdasarkan umur, sebagian besar ibu berada pada kelompok usia 20–35 tahun sebanyak 26 orang (78,8%). Kesimpulan: Karakteristik ibu yang memiliki balita stunting di Polindes Penaraga didominasi oleh ibu dengan tingkat pengetahuan yang masih kurang, pendidikan SMA/MA, status sosial ekonomi rendah, dan berada pada usia reproduksi sehat (20–35 tahun). Peningkatan edukasi gizi, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan penguatan promosi kesehatan kepada ibu diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan stunting.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN KOMPRES HANGAT PADA DAERAH FRONTALIS DAN VENA BESAR (AKSILA) TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH PADA PASIEN FEBRIS DI IGD RSUD BIMA Nur Eka Dzulfaijah; Ainun Kurniati; Anas Makruf
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/2e7bkj68

Abstract

Demam atau febris merupakan pengeluaran panas yang tidak mampu untuk mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh abnormal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian kompres hangat daerah frontalis dan daerah vena besar/aksila terhadap penurunan suhu tubuh pada klien febris di IGD RSUD Bima. Dalam penelitian ini menggunakan metode quasy experiment dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang dengan menggunakan alat ukur pre dan post perlakuan dengan hasil sebagai berikut : dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa rerata penurunan suhu tubuh pada pemberian kompres hangat daerah frontalis 0,500C uji statistik paired t test pada kelompok pemberian kompres daerah frontalis, hasil korelasi antara pre dan post didapatkan probabilitas 0,000, yang berarti bahwa korelasi suhu sebelum dan sesudah dilakukan kompres pada frontalis kuat dan kompres tersebut efektif. Sedangkan pemberian kompres hangat daerah vena besar/aksila, terjadi penurunan dengan rerata sebesar 0,330C. Dimana hasil uji statistik paired t test menunjukkan bahwa pada kelompok pemberian kompres hangat daerah vena besar/aksila hasil korelasi antara pre dan post didapatkan nilai p= 0,000, hal tresebut membuktikan bahwa kompres hangat daerah bagian tubuh yang terdapat aliran vena besar adalah efektif. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa rerata penurunan suhu tubuh dengan pemberian kompres daerah vena besar/aksila lebih besar dari pemberian kompres hangat daerah frontalis, yaitu 0,330C banding 0,500C.