Ainun Kurniati
Politeknik Muhammad Dahlan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI PERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI) TERHADAP  PENINGKATAN PENGETAHUAN  TENTANG SADARI PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 3 KOTA BIMA TAHUN 2025 Dian Apri Nelyanti Nelyanti; Amirul Kadafi; Sri Rahayu; Ainun Kurniati
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/2he62r03

Abstract

Background: Breast cancer is one of the leading causes of death among women worldwide, including in Indonesia. Early detection can be carried out through Breast Self-Examination (BSE). However, knowledge of BSE among adolescent girls remains low due to limited health education. Objective: This study aimed to analyze the effect of BSE education on improving knowledge among adolescent girls at SMA Negeri 3 Kota Bima in 2025. Methods: This study employed a quantitative quasi-experimental design using the Two-Group Pretest-Posttest approach. The population consisted of all female students in grades XI–XII (96 respondents), selected through total sampling. The instrument used was a BSE knowledge questionnaire comprising 20 Guttman-scale questions. Data were analyzed using the Mann-Whitney test. Result: The results showed that before the intervention, knowledge in the experimental group was categorized as good (55.9%), fair (41.2%), and poor (2.9%). After receiving education, all respondents in the experimental group (100%) reached the good knowledge category. The Mann-Whitney test indicated a significant difference between the experimental and control groups after the intervention, with p = 0.000 (p < 0.05). Conclusion: In conclusion, providing BSE education significantly improved the knowledge of adolescent girls. This finding highlights the importance of implementing reproductive health education programs in schools to increase awareness of early detection of breast cancer.
PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PADA PASIEN POST OPERASI APPENDISITIS DENGAN MENGGUNAKAN NATRIUM KLORIDA 0,9 % DAN POVIDINE IODINE 10 % Anas Makruf; Ainun Kurniati; Nur Eka Dzulfaijah; Musmuliadin Musmuliadin
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/s0bmta23

Abstract

Proses penyembuhan luka terjadi secara normal sebagai efek (reaksi tubuh) terhadap trauma walaupun banyak bahan digunakan untuk membantu meningkatkan penyembuhan luka. Bahan perawatan yang selalu digunakan adalah natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 %. Tujuan penelitian ini adalah mencari pengaruh perawatan luka dengan menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 % terhadap percepatan penyembuhan luka.Penelitian ini menggunakan Quasy-Eksperiment (One Post Test Control Group Design). Populasi adalah semua pasien post operasi appendisitis yang dirawat di Ruang Bedah RSUD Bima.Jumlah sampel sebanyak 20 orang yang diambil secara consecutive sampling. Sampel dibagi dalam 2 kelompok; kelompok pertama 10 orang menggunakan natrium klorida 0,9 % dan kelompok kedua 10 orang menggunakan povidine iodine 10 %. Variabel independen adalah natrium klorida     0,9 % dan povidine iodine 10 % dan variabel dependen adalah penyembuhan luka. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan diolah dengan uji statistik paired t-test dengan tingkat kemaknaan p < 0,05.Hasil uji statistik paired t-test  menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 % dengan nilai p = 0,000 dan p = 0,002.             Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa perawatan luka dengan menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 %  mengalami penyembuhan luka yang sama. Pada akhirnya natrium klorida 0,9 % dapat digunakan sebagai pilihan bahan untuk perawatan luka post operasi appendisitis dengan tetap memperhatikan prinsip aseptik sebelum, selama dan sesudah operasi serta saat perawatan luka.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN KOMPRES HANGAT PADA DAERAH FRONTALIS DAN VENA BESAR (AKSILA) TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH PADA PASIEN FEBRIS DI IGD RSUD BIMA Nur Eka Dzulfaijah; Ainun Kurniati; Anas Makruf
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/2e7bkj68

Abstract

Demam atau febris merupakan pengeluaran panas yang tidak mampu untuk mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh abnormal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian kompres hangat daerah frontalis dan daerah vena besar/aksila terhadap penurunan suhu tubuh pada klien febris di IGD RSUD Bima. Dalam penelitian ini menggunakan metode quasy experiment dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang dengan menggunakan alat ukur pre dan post perlakuan dengan hasil sebagai berikut : dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa rerata penurunan suhu tubuh pada pemberian kompres hangat daerah frontalis 0,500C uji statistik paired t test pada kelompok pemberian kompres daerah frontalis, hasil korelasi antara pre dan post didapatkan probabilitas 0,000, yang berarti bahwa korelasi suhu sebelum dan sesudah dilakukan kompres pada frontalis kuat dan kompres tersebut efektif. Sedangkan pemberian kompres hangat daerah vena besar/aksila, terjadi penurunan dengan rerata sebesar 0,330C. Dimana hasil uji statistik paired t test menunjukkan bahwa pada kelompok pemberian kompres hangat daerah vena besar/aksila hasil korelasi antara pre dan post didapatkan nilai p= 0,000, hal tresebut membuktikan bahwa kompres hangat daerah bagian tubuh yang terdapat aliran vena besar adalah efektif. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa rerata penurunan suhu tubuh dengan pemberian kompres daerah vena besar/aksila lebih besar dari pemberian kompres hangat daerah frontalis, yaitu 0,330C banding 0,500C.