Perundungan di sekolah dasar memerlukan penanganan sistematis karena dapat mengganggu rasa aman, hubungan sosial, konsentrasi belajar, dan kesejahteraan psikologis peserta didik. Kondisi awal di SD Pembangunan Laboratorium UNP menunjukkan bahwa pemahaman guru mengenai perundungan, kemampuan deteksi dini, dan strategi penanganan berbasis sosial-emosional masih terbatas, serta belum tersedia prosedur operasional standar pencegahan dan penanganan perundungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat kompetensi sosial-emosional guru dan membangun sistem sekolah anti-perundungan yang terstruktur. Program dilaksanakan melalui pelatihan selama dua hari dan empat kali pendampingan yang melibatkan 24 guru. Metode kegiatan mencakup pemaparan materi, analisis kasus, permainan peran, refleksi, penyusunan strategi kelas aman, pengembangan prosedur, serta pembentukan Tim Anti-Perundungan Sekolah. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest, observasi simulasi, angket respons, serta penilaian produk. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa nilai rata-rata peserta meningkat dari 52,83 menjadi 87,42. Sebanyak 87,5% guru memperoleh kategori baik atau sangat baik dalam simulasi penanganan kasus, sedangkan produk program memperoleh nilai kelayakan 91,83%. Respons peserta mencapai 95,97% dengan kategori sangat baik. Program ini menunjukkan bahwa penguatan kompetensi sosial-emosional yang disertai pembentukan sistem sekolah dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.