Yudi Ferrianta
Universitas Lambung Mangkurat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Sektor Pertanian Kota Palangka Raya Riska Yulianti; Luthfi Fatah; Yudi Ferrianta
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 12, No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v12i2.23629

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan sektor pertanian Kota Palangka Raya menggunakan model Autoregressive Distributed Lag (ARDL) dengan data sekunder tahunan periode 1995–2024 yang bersumber dari BPS Provinsi Kalimantan Tengah, BPS Kota Palangka Raya, Universitas Palangka Raya, dan Dinas Pertanian Kota Palangka Raya. Uji stasioneritas Augmented Dickey-Fuller (ADF) menunjukkan kombinasi variabel I(0) dan I(1), sehingga memenuhi syarat penggunaan ARDL. Model ARDL(1,1,0,1,0,1,0,1,0,0,1) terpilih berdasarkan nilai AIC terendah sebesar 0,608445 dari 2.048 spesifikasi yang dievaluasi. Uji Bounds Test menghasilkan F-statistik 4,306 yang melampaui nilai kritis batas atas I(1) pada α = 1% (3,610), membuktikan adanya hubungan keseimbangan jangka panjang. Model ECM menghasilkan R² = 0,8749 dengan koefisien ECT = −1,3838 (signifikan pada α = 1%). Dalam jangka pendek, serapan tenaga kerja (koefisien 1,300) dan produksi ubi kayu (0,419) berpengaruh positif signifikan, sementara produksi padi (−0,762), penduduk miskin (−50,074), dan indeks harga ubi kayu (−0,894) berpengaruh negatif signifikan. Dalam jangka panjang, serapan tenaga kerja (1,546) dan produksi ubi kayu (0,634) tetap sebagai pendorong utama, sedangkan produksi padi (−1,360), produksi jagung (−0,524), dan penduduk miskin (−104,120) menjadi penghambat dominan. Indeks harga beras (2,742) dan indeks harga ubi kayu (0,860) berpengaruh positif jangka panjang. Kebijakan pertanian perlu memprioritaskan peningkatan kualitas tenaga kerja, pengentasan kemiskinan struktural, dan pengembangan ubi kayu sebagai komoditas unggulan.
Efisiensi Teknis dan Risiko Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Tabalong: Pendekatan Data Envelopment Analysis Dony Tugas Prasetyo; Yudi Ferrianta; Yusuf Azis
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 12, No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v12i2.24151

Abstract

Bawang merah (Allium cepa L.) merupakan komoditas hortikultura strategis yang berperan penting dalam stabilitas inflasi pangan, namun kajian efisiensi teknis usahatani bawang merah di Kalimantan, khususnya di wilayah penyangga pangan Ibu Kota Nusantara (IKN), masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan, dan sumber risiko usahatani bawang merah; mengkaji manajemen risiko petani; serta mengevaluasi efisiensi teknis di Kabupaten Tabalong. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Muara Uya, Banua Lawas, dan Upau menggunakan pendekatan kuantitatif dan deskriptif. Sebanyak 50 petani dipilih secara proportionate random sampling selama periode April 2025 sampai Januari 2026. Analisis mencakup biaya, penerimaan, pendapatan, dan keuntungan; analisis risiko menggunakan variance, simpangan baku, dan koefisien variasi (KV); serta efisiensi teknis menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA) model Variable Returns to Scale (VRS) berorientasi input. Hasil menunjukkan rata-rata biaya total Rp24.813.689 per musim tanam menghasilkan penerimaan rata-rata Rp116.094.000, dengan R/C ratio 4,68 dan keuntungan rata-rata Rp91.280.311, di mana seluruh petani sampel memperoleh keuntungan positif. Nilai KV produksi (0,793) dan KV keuntungan (0,868) di bawah satu mengindikasikan risiko yang terkendali. Rata-rata efisiensi teknis VRS mencapai 95,88 persen dengan 62 persen petani berada pada kondisi efisien sempurna. Sumber utama inefisiensi berasal dari penggunaan tenaga kerja, benih, dan pupuk yang belum optimal. Mayoritas petani beroperasi pada kondisi Increasing Returns to Scale (IRS), yang menyiratkan peluang peningkatan efisiensi melalui penyesuaian skala usaha.