Hadi Kurniawan
Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Distribusi derajat hipertensi pada peserta program pengelolaan penyakit kronis (prolanis): analisis karakteristik demografi Hadi Kurniawan; Mario Sandro; Arfan Sahroni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3918

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that stands as a leading cause of morbidity and mortality worldwide. In Indonesia, a significant gap persists between the prevalence of hypertension based on blood pressure measurements and diagnoses made by healthcare professionals, indicating that many cases remain undetected. Blood pressure screening conducted through the Chronic Disease Management Program (Prolanis) serves as a crucial initiative for enhancing early detection while providing health education to at-risk population groups. Purpose: To describe the demographic characteristics of Prolanis participants and the results of blood pressure screenings, serving as a basis for delivering health education regarding hypertension. Method: This initiative took the form of a community service activity utilizing a descriptive approach aimed at outlining participant demographics and screening results to inform hypertension-related health education. The activity was conducted in May 2025 at Saras Medika Clinic, Pringsewu Regency, Lampung Province. The target audience consisted of all participants in the Chronic Disease Management Program (Prolanis) attending activities at Saras Medika Clinic. Thirty-five participants present during the event served as respondents. Observed parameters included demographic characteristics specifically age, occupation, education level, and place of residence as well as blood pressure measurement results. Demographic data and screening results were analyzed descriptively using frequency distributions and percentages, then presented in tabular form to provide an overview of participant characteristics and the distribution of blood pressure status among Prolanis participants. Results: The study showed that the mean age of respondents was 55.6 years, with the majority (n=16; 45.7%) aged 60 years or older. Most respondents had a primary school education (n=17; 48.5%) and worked as farmers (n=14; 40.0%); all resided in rural areas (100.0%). Blood pressure measurements indicated that the majority of respondents fell into the stage I hypertension category (n=15; 42.9%). Conclusion: Blood pressure screening and health education activities conducted through the Chronic Disease Management Program successfully characterized the blood pressure profiles of participants based on their demographics. A significant proportion of participants fell into the hypertension category specifically stage I highlighting a continued need for early detection, regular blood pressure monitoring, and health education. Therefore, the sustained implementation of Chronic Disease Management Program must be strengthened to support hypertension control at the primary healthcare level. Suggestion: Given that the majority of those with hypertension were aged 45 years or older, had a primary education, and lived in rural areas, Prolanis-based screening and education activities should be conducted routinely and targeted specifically at this demographic to improve hypertension control and prevent complications. Keywords: Chronic disease management program; Community characteristics; Early detection; Hypertension Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Di Indonesia, masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan diagnosis tenaga kesehatan, yang menunjukkan bahwa banyak kasus hipertensi belum terdeteksi. Pelaksanaan skrining tekanan darah melalui program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan deteksi dini sekaligus memberikan edukasi kesehatan kepada kelompok masyarakat berisiko. Tujuan: Mendeskripsikan karakteristik demografi peserta Prolanis dan hasil skrining tekanan darah sebagai dasar pelaksanaan edukasi kesehatan mengenai hipertensi. Metode: Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan menggambarkan karakteristik demografi peserta serta hasil skrining tekanan darah sebagai dasar pelaksanaan edukasi kesehatan mengenai hipertensi. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Mei 2025 di Klinik Saras Medika, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Sasaran kegiatan adalah seluruh peserta program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) yang mengikuti kegiatan di Klinik Saras Medika. Sebanyak 35 peserta yang hadir pada saat pelaksanaan kegiatan dijadikan sebagai responden. Parameter yang diamati meliputi karakteristik demografi peserta yaitu usia, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan wilayah tempat tinggal, serta hasil pengukuran tekanan darah. Data karakteristik demografi dan hasil skrining tekanan darah dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, kemudian disajikan dalam bentuk tabel untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik peserta dan distribusi status tekanan darah pada peserta Prolanis. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 55.6 tahun dan mayoritas berada di usia ≥60 tahun yaitu sebanyak 16 responden (45.7%). Sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah Sekolah Dasar yaitu sebanyak 17 responden (48.5%), untuk status pekerjaan responden adalah sebagian besar sebagai petani yaitu sebanyak 14 responden (40.0%), untuk wilayah tempat tinggal responden adalah seluruhnya di pedesaan (100.0%), dan sedangkan untuk hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan sebagian besar responden dalam kategori hipertensi tahap-I yaitu sebanyak 15 responden (42.9%). Simpulan: Kegiatan skrining tekanan darah dan edukasi kesehatan melalui program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) berhasil menggambarkan profil tekanan darah berdasarkan karakteristik peserta. Sebagian besar peserta termasuk dalam kategori hipertensi, terutama hipertensi tahap-I, yang menunjukkan masih tingginya kebutuhan terhadap deteksi dini, pemantauan tekanan darah secara berkala, dan edukasi kesehatan. Oleh karena itu, pelaksanaan Prolanis secara berkelanjutan perlu terus diperkuat sebagai upaya mendukung pengendalian hipertensi di tingkat pelayanan kesehatan primer. Saran: Mengingat sebagian besar penderita hipertensi merupakan kelompok usia ≥45 tahun, berpendidikan dasar, dan tinggal di wilayah pedesaan, kegiatan skrining tekanan darah dan edukasi berbasis Prolanis perlu dilakukan secara rutin dan terarah pada kelompok tersebut untuk meningkatkan pengendalian hipertensi dan mencegah komplikasi.
Edukasi tertib administrasi tentang identitas pasien sebagai upaya mencegah duplikasi rekam medis Lienda Wati; Hadi Kurniawan; Risna Gizha Aulia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4016

Abstract

Background: Patient identity discrepancies such as variations in name spelling, the use of nicknames, or inconsistencies with civil registry documents can increase the risk of medical record number duplication, thereby affecting data quality and the continuity of healthcare services. One preventive measure is to raise public awareness regarding the importance of maintaining accurate and consistent patient identity records. Purpose: To educate the public on the use of accurate, complete, and consistent identity information to prevent medical record duplication. Method: A community outreach activity was conducted in Sinar Mulya Village, Banyumas District, Pringsewu Regency, Lampung Province, in January 2026. The activity took the form of an interactive educational session. Thirty-three residents meeting the inclusion criteria participated as respondents. Evaluation was conducted qualitatively by observing participant engagement during the session and their responses during the discussion and Q&A segments, serving as indicators of their involvement and understanding of the material presented. Results: The results indicate that participants understood the importance of using identity information that matches official documents when accessing healthcare services. Regarding knowledge, respondents gained an understanding of medical records, the concept of medical record number duplication, the consequences of medical record errors, and identity verification procedures in medical record administration. In terms of attitude, respondents gained insight into the importance of maintaining identity consistency with official documents, adhering to administrative data procedures at healthcare facilities, and preventing identity discrepancies to ensure high-quality medical record data. Conclusion: Community outreach activities focused on educating the public about maintaining accurate patient identity records have provided valuable insights regarding the importance of using identification that matches official documents when accessing healthcare services. These educational efforts have also fostered public awareness regarding the prevention of identity discrepancies—which can lead to duplicate medical record numbers and compromise the continuity of care. Suggestion: The public is encouraged to consistently maintain accurate patient identity information to help ensure the quality of medical record data. This educational initiative is intended to serve as a starting point and should be implemented on an ongoing basis, involving village authorities and healthcare facilities.   Keywords: Administrative accuracy; Healthcare service quality; Medical records; Patient data duplication   Pendahuluan: Ketidaksesuaian identitas pasien, seperti perbedaan penulisan nama, penggunaan nama panggilan, atau ketidaksesuaian data pada dokumen kependudukan, dapat meningkatkan risiko terjadinya duplikasi nomor rekam medis yang berdampak pada kualitas data rekam medis dan kesinambungan pelayanan kesehatan. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya tertib administrasi identitas pasien. Tujuan: Untuk memberikan edukasi mengenai penggunaan identitas yang akurat, lengkap, dan konsisten sebagai upaya mencegah duplikasi rekam medis. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Sinar Mulya, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung pada bulan Januari 2026. Kegiatan ini merupakan penyuluhan interaktif. Mendapatkan 33 warga masyarakat yang sesuai kriteria untuk menjadi responden. Evaluasi kegiatan, yang dilakukan secara kualitatif melalui observasi terhadap partisipasi peserta selama pemberian edukasi berlangsung serta respons peserta pada sesi diskusi dan tanya jawab sebagai indikator keterlibatan dan pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan. Hasil: Menunjukkan bahwa peserta memahami pentingnya penggunaan identitas sesuai dokumen resmi ketika mengakses pelayanan kesehatan. Dalam aspek pengetahuan responden mendapatkan pengetahuan tentang pengertian rekam medis, pengertian duplikasi nomor rekam medis, dampak dari kesalahan rekam medis, dan langkah-langkah verifikasi identitas pada administrasi rekam medis. Sedangkan dalam aspek sikap responden mendapatkan gambaran untuk menjaga identitas yang sesuai dokumen resmi, tertib data administrasi sesuai prosedur di setiap pelayanan kesehatan, dan mencegah ketidaksesuaian identitas terhadap kualitas data rekam medis. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi tertib administrasi tentang identitas pasien memberikan manfaat dan pengetahuan baru bagi masyarakat mengenai pentingnya penggunaan identitas yang sesuai dengan dokumen resmi saat mengakses pelayanan kesehatan. Kegiatan edukasi ini juga menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam mencegah terjadinya ketidaksesuaian identitas yang berpotensi menyebabkan duplikasi nomor rekam medis dan berdampak pada kesinambungan pelayanan kesehatan. Saran: Diharapkan kepada masyarakat untuk selalu menerapkan perilaku tertib administrasi identitas pasien sebagai upaya menjaga kualitas data rekam medis. Edukasi ini diharapkan menjadi langkah awal dan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah desa dan fasilitas pelayanan kesehatan.