Putri Amalia
Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Malahayati, Bandar Lampung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Ekstrak Buah Dan Tangkai Buah Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.) Sebagai Biolarvasida Nyamuk Aedes aegypti Vera Desita Amelia; Dwi Susanti; Putri Amalia
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 8 (2026): Volume 13 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i8.24377

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penggunaan larvasida kimia secara terus-menerus berpotensi menimbulkan resistensi dan pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan alternatif larvasida nabati yang aman dan ramah lingkungan. Cabai merah keriting (Capsicum annuum L.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, steroid, dan fenol yang berpotensi sebagai biolarvasida. Penelitian ini bertujuan membandingkan kandungan senyawa metabolit sekunder dan efektivitas larvasida antara ekstrak buah dan tangkai buah cabai merah keriting terhadap larva Aedes aegypti. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode maserasi etanol 96%, dilanjutkan skrining fitokimia, serta uji larvasida terhadap larva instar III dengan konsentrasi 0,5%; 1%; 1,5%; dan 2% (tiga kali pengulangan). Hasil skrining menunjukkan ekstrak buah positif terpenoid dan negatif steroid, sedangkan ekstrak tangkai positif steroid dan negatif terpenoid; keduanya positif alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenol. Uji mortalitas menunjukkan kedua ekstrak efektif membunuh larva dengan kematian 100% pada konsentrasi 2%, di mana ekstrak buah bekerja lebih cepat. Ekstrak buah mencapai mortalitas 100% pada konsentrasi 2% sejak jam ke-2 dan seluruh konsentrasi uji mencapai mortalitas 100% pada jam ke-4, sedangkan ekstrak tangkai mencapai mortalitas 100% pada konsentrasi 2% pada jam ke-5 dan seluruh konsentrasi uji pada jam ke-6. Disimpulkan bahwa ekstrak buah dan tangkai cabai merah keriting sama-sama berpotensi sebagai biolarvasida, namun ekstrak buah menunjukkan efektivitas lebih tinggi pada waktu paparan yang lebih singkat.
Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Daun Ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff.) dan Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) dengan Metode DPPH Gladys Hillari; Putri Amalia; Candra Nusantari
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 10 (2026): Volume 13 Nomor 10
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i10.25961

Abstract

Antioksidan berfungsi menetralisir radikal bebas serta menangkal degradasi sel yang memicu terjadinya penyakit degeneratif, seperti kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan aktivitas antioksidan ekstrak tunggal dan kombinasi kedua tanaman tersebut, sehingga dapat diketahui potensi antioksidan yang dihasilkan dari formulasi kombinasi ekstraknya. Daun ungu dan daun ubi jalar ungu diekstraksi melalui maserasi dengan pelarut etanol 96%, dilanjutkan dengan skrining fitokimia, pembuatan larutan kombinasi, dan pengukuran aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstrak daun ungu sebesar 14,42%, sedangkan daun ubi jalar ungu sebesar 13,29%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua ekstrak mengandung fenolik, alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid, sedangkan steroid hanya terdeteksi pada ekstrak daun ungu. Nilai IC50 ekstrak tunggal daun ungu dan daun ubi jalar ungu masing-masing sebesar 44,89 ppm dan 18,55 ppm, sedangkan asam askorbat sebagai pembanding memiliki nilai IC50 sebesar 20,31 ppm. Kombinasi ekstrak dengan rasio 1:1, 1:2, 2:1, 1:3, dan 3:1 masing-masing menghasilkan nilai IC50 sebesar 59,42 ppm; 6,26 ppm; 17,34 ppm; 2,91 ppm; dan 52,55 ppm. Kombinasi rasio 1:3 menunjukkan nilai IC50 terendah, yaitu 2,91 ppm, sehingga memiliki aktivitas antioksidan terbaik.