Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Ekstrak Daun Dan Ranting Tanaman Ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) Terhadap Escherichia coli Dengan Metode Difusi Cakram Dita Dwi Amanda; Putri Amalia; Dwi Susanti
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 5 (2026): Volume 13 Nomor 5
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i5.24554

Abstract

Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian, terutama pada anak-anak. Salah satu bakteri patogen penyebab diare adalah Escherichia coli. Penggunaan antibiotik secara tidak tepat dapat meningkatkan resistensi bakteri, sehingga diperlukan alternatif pengobatan alami. Tanaman ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, terpenoid, steroid, fenolik, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak daun dan ranting tanaman ungu terhadap pertumbuhan E. coli serta menentukan konsentrasi yang efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, dengan hasil rendemen ekstrak daun sebesar 17,950% dan rendemen ekstrak ranting sebesar 8,495%. Uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram, menggunakan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, 100%, kontrol positif (+) dan negatif (-). Aktivitas antibakteri diukur berdasarkan diameter zona hambat, kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan aktivitas antibakteri antara ekstrak daun dan ranting tanaman ungu terhadap E. coli, di mana ekstrak daun pada konsentrasi 60% memiliki rata-rata diameter zona hambat 2,448 mm, sedangkan ekstrak ranting pada konsentrasi 60% memiliki rata-rata 1,099 mm. Meskipun ekstrak daun dan ranting menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap E. coli, daya hambat yang dihasilkan tergolong lemah sehingga tidak dapat dikategorikan efektif.
PEMANFAATAN INFUSA DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill.) SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN HIPERTENSI DI DESA SIDODADI KECAMATAN PEKALONGAN KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Dwi Susanti; Meylinda Anggraini; Nurhasanah Nurhasanah; Salsabilla Ardhi Wardani
Jurnal Pengabdian Farmasi Malahayati (JPFM) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpfm.v9i1.23180

Abstract

Hipertensi masih menjadi salah satu penyebab kematian nomor satu di dunia, dengan 90-95% kasus didominasi oleh hipertensi esensial. Faktor risiko terjadinya hipertensi mencakup faktor risiko yang tidak dapat diubah (genetik, jenis kelamin, dan umur) dan faktor risiko yang dapat diubah (obesitas, kurang olahraga atau aktivitas fisik, merokok, stres, konsumsi alkohol, dan konsumsi garam). Daun alpukat mengandung senyawa flavonoid dan menunjukkan efek paling signifikan dalam menurunkan tekanan darah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui penyuluhan bertujuan untuk memberikan edukasi guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat tentang pemanfaatan infusa daun alpukat sebagai alternatif pengobatan penyakit hipertensi di Desa Sidodadi Kecamatan Pekalongan Lampung Timur. Penyuluhan ini menggunakan metode ceramah, demonstrasi, diskusi, dan tanya jawab dengan bantuan brosur dan alat demonstrasi. Hasil pretest dari 40 peserta penyuluhan menunjukkan persentase tingkat pengetahuan masyarakat cukup 73%, sedangkan tingkat pengetahuan tinggi sebesar 88% pada hasil posttest. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Sidodadi tentang pemanfaatan infusa daun alpukat sebagai alternatif obat hipertensi meningkat setelah dilakukannya penyuluhan.Kata kunci: Pengabdian, Penyuluhan, Infusa, Alpukat, Hipertensi
POTENSI LIMBAH TANGKAI BUAH CABAI RAWIT DAN CABAI MERAH KERITING SEBAGAI BIOINSEKTISIDA NYAMUK Aedes aegypti: POTENTIAL OF BIRD'S EYE CHILI AND RED CURLY CHILI STEM WASTE AS A BIOINSECTICIDE FOR Aedes aegypti Fadilla Amelia Riski; Dwi Susanti; Mastuti Widianingsih
JFL : Jurnal Farmasi Lampung Vol. 15 No. 1 (2026): JFL : Jurnal Farmasi Lampung
Publisher : Program Studi Farmasi-Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam-Universitas Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/665das65

Abstract

Abstract The stems of bird's eye chili (Capsicum frutescens L.) and curly red chili (Capsicum annuum L.), which are typically considered waste, actually hold compounds with potential for biological activity. Phytochemical screening has shown that stems of bird’s eye chili contain secondary metabolites such as alkaloids, phenolics, tannins, flavonoids, terpenoids, and saponins, while curly red chili stems contain alkaloids, steroids, phenolics, tannins, flavonoids, and saponins. The objective of this research to evaluate the effectiveness and determine the optimal concentration of both extracts as bioinsecticides against Aedes aegypti mosquitoes. Extraction was performed by maceration using 96% ethanol (ratio simplicial:solvent=1:10). The yield of bird’s eye chili extract was 7.45%, while curly red chili extract of 8.06%. The experiment consisted of five treatment groups with extract concentrations of 1%, 3%, and 5%; transfluthrin as a positive control; and distilled water as a negative control. Each group contained 25 Aedes aegypti mosquitoes. Mortality result indicated that both extracts had bioinsecticidal activity, although their effectiveness varied at different concentrations. The stems of bird’s eye chili extract showed the greatest effect at 5% concentration, with an LC₅₀ value of 4,177% at the 4th hour, while the curly red chili stems extract was most effective at 5% concentration, with an LC₅₀ value of 4,048% at the 5th hour. In conclusion, chili stem waste extracts demonstrate promising potential as effective and environmentally friendly botanical bioinsecticides for controlling Aedes aegypti. Keywords: Aedes aegypti, Bioinsecticide, Curly Red Chili, Chili Stem Waste
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS BIOINSEKTISIDA BUAH DAN TANGKAI BUAH CABAI MERAH KERITING (Capsicum annuum L.) TERHADAP LALAT RUMAH (Musca dosmestica Linnaeus, 1758) Eiga Auliya Ummi; Dwi Susanti; Mastuti Widianingsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 15 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/jik.v15i2.3720

Abstract

Buah dan tangkai buah cabai merah keriting (Capsicum annuum L.) memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, terpenoid, dan fenolik yang memiliki efektivitas sebagai bioinsektisida terhadap lalat rumah (Musca domestica Linnaeus, 1758). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah ekstrak buah dan tangkai menunjukkan perbedaan efektivitas bioinsektisida yang signifikan pada berbagai konsentrasi, menentukan konsentrasi ekstrak buah dan tangkai yang paling efektif sebagai bioinsektisida lalat rumah, dan untuk mengetahui nilai LC50 ekstrak buah dan tangkai. Ekstraksi buah dan tangkai cabai merah keriting dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bobot ekstrak buah dan tangkai diperoleh sebesar 98,213 g dan 33,364 g. Penelitian ini menggunakan 6 kelompok perlakuan dengan ekstrak buah dan tangkai 20%, 15%, 10%, 5%, Malathioin 0,28% sebagai kontrol positif, dan DMSO 10% sebagai kontrol negatif yang tiap kelompok berisi 25 lalat rumah dengan 3 pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak buah dan tangkai memiliki perbedaan efektivitas bioinsektisida yang signifikan pada berbagai konsentrasi. Konsentrasi ekstrak buah dan tangkai yang paling efektif sebagai bioinsektisida lalat rumah adalah 20% (buah pada jam ke-5 dan tangkai jam ke-6). Nilai LC50 5,207% (ekstrak buah) dan 5,221% (ekstrak tangkai). Hasil uji menyatakan bahwa ekstrak buah dan tangkai buah cabai merah keriting memiliki efektivitas dalam membunuh lalat rumah
The antibacterial potential of curly red chili pepper (Capsicum annuum L.) fruit stem waste against foodborne disease bacteria Dwi Susanti; Salsabilla Ardi Wardhani; Agustina Retnaningsih
Jurnal Penelitian Saintek Vol 31, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jps.v30i1.93584

Abstract

Foodborne diseases remain a global health problem, commonly caused by bacteria such as Salmonella typhi, Escherichia coli, Bacillus cereus, and Staphylococcus aureus. The utilization of natural materials, such as curly red chili pepper fruit stem waste with antimicrobial activity, may serve as an alternative natural treatment for infections caused by these pathogens. This study aimed to evaluate the antibacterial potential of curly red chili pepper (Capsicum annuum L.) fruit stem waste extract as a natural antibacterial agent. The waste material was extracted using a maceration method with 96% ethanol as the solvent. The extract was qualitatively analyzed through phytochemical screening, which revealed the presence of flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, steroids, and phenolic compounds. Antibacterial activity was evaluated using the disc diffusion method at extract concentrations of 100%, 90%, 80%, and 70%. The results showed that all concentrations produced inhibition zones categorized as “resistant” according to CLSI standards, with ciprofloxacin as the positive control and distilled water as the negative control. The 100% extract concentration exhibited the largest inhibition zone, with the mean inhibition zones against Bacillus cereus and Staphylococcus aureus (Gram-positive bacteria) being greater than those against Salmonella typhi and Escherichia coli (Gram-negative bacteria). These findings indicate that curly red chili pepper fruit stem extract possesses weak antibacterial activity and requires further investigation.
Perbandingan Ekstrak Buah Dan Tangkai Buah Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.) Sebagai Biolarvasida Nyamuk Aedes aegypti Vera Desita Amelia; Dwi Susanti; Putri Amalia
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 8 (2026): Volume 13 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i8.24377

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penggunaan larvasida kimia secara terus-menerus berpotensi menimbulkan resistensi dan pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan alternatif larvasida nabati yang aman dan ramah lingkungan. Cabai merah keriting (Capsicum annuum L.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, steroid, dan fenol yang berpotensi sebagai biolarvasida. Penelitian ini bertujuan membandingkan kandungan senyawa metabolit sekunder dan efektivitas larvasida antara ekstrak buah dan tangkai buah cabai merah keriting terhadap larva Aedes aegypti. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode maserasi etanol 96%, dilanjutkan skrining fitokimia, serta uji larvasida terhadap larva instar III dengan konsentrasi 0,5%; 1%; 1,5%; dan 2% (tiga kali pengulangan). Hasil skrining menunjukkan ekstrak buah positif terpenoid dan negatif steroid, sedangkan ekstrak tangkai positif steroid dan negatif terpenoid; keduanya positif alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenol. Uji mortalitas menunjukkan kedua ekstrak efektif membunuh larva dengan kematian 100% pada konsentrasi 2%, di mana ekstrak buah bekerja lebih cepat. Ekstrak buah mencapai mortalitas 100% pada konsentrasi 2% sejak jam ke-2 dan seluruh konsentrasi uji mencapai mortalitas 100% pada jam ke-4, sedangkan ekstrak tangkai mencapai mortalitas 100% pada konsentrasi 2% pada jam ke-5 dan seluruh konsentrasi uji pada jam ke-6. Disimpulkan bahwa ekstrak buah dan tangkai cabai merah keriting sama-sama berpotensi sebagai biolarvasida, namun ekstrak buah menunjukkan efektivitas lebih tinggi pada waktu paparan yang lebih singkat.