Patti Arsendra
RSUD dr. Sayidiman Magetan

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Seorang Laki-Laki 30 Tahun dengan ODS Buta Warna Parsial W Wildan; Patti Arsendra
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buta warna dapat menyulitkan atau bahkan membuat seseorang tidak mampu melakukan pekerjaan tertentu yang membutuhkan persepsi warna dalam tanggung jawabnya, seperti pilot karena banyak aspek penerbangan bergantung pada pengodean warna.. Faktor utama yang sampai saat ini dipercaya sebagai penyebab utama buta warna adalah kongenital yang sex-linked, artinya kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Hal ini yang menyebabkan lebih banyak penderita buta warna laki-laki dibandingkan wanita. Tujuanya untuk mengetahui kasus buta warna parsial yang ada di Poliklinik Mata RSUD dr.Sayidiman Magetan. Pada uji Ishihara pasien tidak dapat melihat warna merah terang atau warna jingga dan warna hijau muda dan diagnosis ODS Protanopia, Deuteranopia (buta warna parsial). Kasus ini menggambarkan penderita dengan ods buta warna parsial. Gejala klinis yang dikeluhkan pasien adalah penglihatan kurang jelas pada mata kanan dan kiri, pandangannya kabur, dan sulit membedakan beberapa warna, Pemeriksaan fisik oftalmologi didapatkan pemeriksaan visus VOD : 4/5, VOS : 4/5 yang menunjukan adanya sedikit penurunan penglihatan pada mata kanan dan kiri. Tidak terdapat pengobatan untuk buta warna yang diturunkan.
Konjungtivitis Viral pada Laki-Laki 23 Tahun Reza Khairunnisa; Patti Arsendra
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konjungtivitis merupakan keadaan inflamasi yang terjadi pada konjungtiva. Sekitar 80% kasus konjungtivitis akut viral disebabkan oleh Adenovirus. Seorang laki-laki berusia 23 tahun datang dengan keluhan mata kiri merah dan terasa kemeng setelah 2 hari yang lalu bermotor lalu matanya terkena sesuatu. Pasien mengeluhkan mata kirinya perih, merah, terasa mengganjal dan air mata pasien tampak berproduksi lebih banyak. Tidak ada kotoran mata yang berlebih, Pasien memiliki riwayat batuk dan pilek kurang lebih satu minggu Pemeriksaan oftalmologi VOD 4/4 dan pada VOS 4/4 f. Pemeriksaan inspeksi luar OD tenang, OS palpebra superior et inferior edema, konjungtiva palpebra berwarna hiperemis, konjungtiva bulbi warna hiperemi dan terdapat injeksi konjungtiva, sklera hiperemis, tidak didapatkan perdarahan maupun benjolan. Terdapat hiperlakrimasi pada OS dan normal pada OD. Terapi pada pasien yaitu pada OS Artificial tears eye drop 4x1, Vitamin C 250 mg tablet 1x1, Ibuprofen 400mg tablet 3x1. Pasien disarankan untuk memberikan kompres dingin pada mata kirinya dan rutin mencuci tangan. Pasien juga disarankan juga untuk melakukan isolasi mandiri.
Seorang Laki-Laki Usia 67 Tahun dengan Endoftalmitis Okuli Sinistra Eurolia Naba Mutiarasari; Patti Arsendra; Reza Khairunnisa; Idoviari Putriyantiwi; Izzah Tsaqoofah Jati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endoftalmitis adalah sebuah diagnosis klinis yang dibuat ketika terdapat inflamasi intraokular yang melibatkan baik ruang posterior dan anterior mata yang berhubungan dengan infeksi bakteri dan jamur. Endoftalmitis terbagi atas endogen dan eksogen, pada endoftalmitis endogen dapat terjadi akibat penyebaran bakteri maupun jamur yang berasal dari fokus infeksi di dalam tubuh terjadi sekitar 2-8%, sedangkan endoftalmitis eksogen sering terjadi oleh karena trauma pada bola mata (20%) atau pasca operasi intraokular (62%). Insiden endoftalmitis bakteri dilaporkan mencapai 0,06% pada level terendah dan tertinggi sebanyak 0,5%. Diagnosis endoftalmitis berdasarkan kondisi klinis ini biasanya ditandai dengan edema palpebra, kongesti konjungtiva, dan hipopion. Visus menurun bahkan dapat menjadi hilang. Prognosis menjadi buruk pada pasien-pasien endoftalmitis. Metode yang digunakan dalam laporan ini adalah observasi pasien berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Kami melaporkan seorang seorang Laki-laki berusi 67 tahun datang ke poliklinik mata RSUD dr. Sayidiman Magetan keluhan mata kiri sulit melihat setelah terkena daun tebu sejak 1 minggu yang lalu. Pasien mengatakan awal terkena mata terasa nyeri, merah dan terus menerus mengeluarkan air mata. Selang beberapa hari mata sulit membuka, belekan terus menerus, keluhan nyeri juga masih dirasakan pasien, serta keluhan sulit melihat. Pasien belum pernah melakukan pengobatan terkait keluhan mata yang dirasakan. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus endoftalmitis.
Perempuan 60 Tahun Didiagnosis Katarak Komplikata dengan Glaukoma Sekunder Subluksasi Lensa pada Mata Kanan dan Katarak Matur pada Mata Kiri Idoviari Putriyantiwi; Reza Khairunnisa; Eurolia Naba Mutiarasari; Izzah Tsaqoofah Jati; Patti Arsendra
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Katarak merupakan penyakit mata yang ditandai dengan adanya kekeruhan lensa mata sehingga mengganggu dalam proses masuknya cahaya ke mata sehingga menghalangi penglihatan. Katarak komplikata adalah keadaan dimana kekeruhan terjadi pada lensa yang diakibatkan keadaan lokal atau penyakit sistemik. Penyakit intraokuler yang menyebabkan kekeruhan lensa pada katarak komplikata salah satunya adalah glaukoma. Glaukoma sekunder merupakan glaukoma yang terjadi akibat suatu penyakit lain baik okular maupun sistemik. Salah satu penyebab glaukoma sekunder adalah subluksasi lentis yang merupakan suatu keadaan lensa tidak berada pada posisi yang normal didalam bilik mata. Kami melaporkan kasus seorang perempuan usia 60 tahun didiagnosis katarak komplikata dengan glaukoma sekunder subluksasi lentis pada mata kanan dan katarak matur pada mata kiri. Pemeriksaan fisik didapatkan penurunan penglihatan pada kedua mata yaitu VOD 1/300 VOS 1/300, pada mata kanan lensa keruh sebagian dan adanya subluksasi lensa, pemeriksaan TIO 39, pada mata kiri lensa keruh padat, pemeriksaan TIO 18. Penanganan yang diberikan pada pasien adalah terapi farmakologi acetazolamide 250 mg tablet 2x1 peroral, dan timolol maleate 0.5% eye drop 2xgtt 1 pada mata kanan. Terapi pembedahan dilakukan operasi katarak fakoemulsifikasi pada mata kiri.
Laporan Kasus: Laki-Laki Usia 62 Tahun dengan Papilloma Palpebra pada Mata Kiri Rani Fauzia; Patti Arsendra
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Palpebra (kelopak mata) merupakan struktur penting yang berfungsi melindungi bola mata dari trauma, menjaga kelembapan kornea, serta membantu distribusi air mata. Papilloma palpebra superior adalah tumor jinak yang berasal dari epitel skuamosa permukaan kelopak mata. Tumor ini berbentuk seperti tonjolan kecil bertangkai atau datar dengan permukaan tidak rata dan dapat bersifat hiperkeratotik. Laporan kasus ini menjelaskan tentang seorang laki-laki usia 62 tahun yang datang dengan keluhan utama terdapat benjolan pada kelopak mata kiri terasa mengganjal dalam 3 bulan terakhir. Pada pemeriksaan segmen anterior mata kanan didapatkan pupil bulat sentral, kornea jernih, lensa jernih. Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien berupa eksisi bedah dan diberikan obat Chlorampenicol SM 3x1 gtt OS, Cefadroxil caps 500mg 2x1 dan Asam Mefenamat tab 3x1 prn. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengetahui uraian masalah klinis, mengidentifikasi faktor risiko yang menjadi penyebab, dan memberikan penatalaksanaan terbaik untuk papilloma palpebra yang dialami pasien.
Gambaran Klinis dan Penatalaksanaan Keratokonjungtivitis: Laporan Kasus Riski Tri Wijayanti; Patti Arsendra
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keratokonjungtivitis merupakan peradangan yang terjadi pada kornea dan konjuntiva. Keratokonjungtivitis disebebkan oleh bermacam-macam etiologi. Insidensi kerato-konjungtivitis relatif kecil, yaitu sekitar 0,l%--0,5% dari pasien yang berobat dengan masalah mata, dan hanya 2% dari semua pasien yang diperiksa di klinik mata. Hal yang perlu mendapat perhatian ialah bagaimana cara penatalaksanaan kasus ini agar dapat mengalami penyembuhan maksimal dan mencegah terjadinya rekurensi ataupun komplikasi yang dapat mengurangi kualitas hidup. Laporan kasus ini menjelaskan seorang laki laki 52 tahun datang dengan keluhan mata kanan merah 5 hari yang lalu. Pada pemeriksaan didapatkan palpebra spasme, konjungtiva hiperemis, lakrimasi, serta didapatkan sekret (+). Kornea keruh paracentral, permukaan tidak licin akibat erosi, infiltrat (+). Pasien diberikan terapi yang sesuai dan direncanakan untuk kontrol kembali, untuk melihat perkembangan dari klinisnya. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengetahui uraian masalah klinis, mengidentifikasi faktor risiko yang menjadi penyebab, dan memberikan penatalaksanaan terbaik dan sesuai untuk keratokonjungtivitis yang dialami pasien.