Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Efektivitas Gel Ekstrak Tangkai dan Daun Talas (Colocasia esculenta) Terhadap Penyembuhan Luka Diabetes Anindya Atiqah Ristanti; Noer Safita; Reza Khairunnisa; Sahilah Ermawati
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 13th University Research Colloquium 2021: Kesehatan dan MIPA
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.724 KB)

Abstract

Luka diabetes merupakan salah satu komplikasi diabetes mellitus (DM) yang berisiko mengalami infeksi dan dapat berakhir amputasi. Di Indonesia, prevalensi DM yang tinggi dan banyak terjadi pada usia produktif dapat mengganggu produktfitas bangsa. Pengobatan luka diabetes menggunakan antibiotik mempunyai efek samping iritasi kulit, membutuhkan banyak biaya, dan dilaporkan semakin banyak bakteri yang resisten. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi ekstrak tanaman talas (Colocasia esculenta) dalam bentuk sediaan gel terhadap penyembuhan luka diabetes. Metode penelitian ini berupa literature review yang dilakukan secara sistematis melalui penelusuran hasil publikasi ilmiah menggunakan database. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa ekstrak tanaman talas memiliki kandungan yang dapat mempercepat penyembuhan luka dengan membantu regenerasi sel kulit. Tangkai daun talas dapat mempercepat penyembuhan luka sayat, daun talas mempercepat penyembuhan luka terkontaminasi. Tidak hanya bagian tangkai dan daun, namun bagian umbi juga terbukti dapat mempercepat penyembuhan luka bakar dan luka terbuka. Tangkai dan daun talas (Colocasia esculenta) memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri yang menjadi etiologi luka diabetes terinfeksi. Aktivitas antioksidan dapat melindungi sel-sel kulit dari kerusakan oksidatif dan mempercepat pemulihan luka dalam keadaan inflamasi, sehingga berpotensi mempercepat penyembuhan luka diabetes. Sediaan gel efektif menjaga kelembapan luka diabetes dan menunjukan peningkatan prolifesi sel, kepadatan kolagen sehingga dapat memberikan lingkungan yang mendukung proses penyembuhan luka diabetes.
Perempuan Usia 35 Tahun dengan Skizofrenia Paranoid Izzah Tsaqoofah Jati; Reza Khairunnisa; Idoviari Putriyantiwi; Eurolia Naba Mutiarasari; Adriesthi Herdaetha
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia paranoid dapat ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis PPDGJ III yaitu dengan memenuhi kriteria skizofrenia ditambah dengan gejala-gejala paranoid. Kasus ini, pasien perempuan 35 tahun, diantar suaminya dengan keluhan marah-marah dan tidak bisa tidur. Pasien sering marah-marah karena sering mendengar bisikan yang menjelek-jelekkan pasien dan menyuruh pasien. Pasien berkata bahwa suaminya kesal padanya dan berselingkuh dengan perempuan lain. Status Psikiatri didapatkan perilaku psikomotor normoaktif, dalam pembicaraan pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa cukup baik, volume cukup, intonasi cukup, serta artikulasi kurang jelas. Mood hipertimia, afek meningkat, keserasian serasi, empati tidak dapat dirabarasakan, halusinasi auditori tipe commenting dan commanding, ilusi olfaktori, depersonalisasi dan derealisasi, bentuk pikir nonrealistik, waham rujukan, waham curgia, waham kecemburuan, arus pikir sirkumstansial, orientasi, daya ingat baik, kemampuan abstrak terganggu, visuospasial baik, daya konsentrasi baik, dapat mengendalikan impuls, daya nilai terganggu, tilikan derajat 1, taraf kepercayaan dapat dipercaya. Diagnosis disesuaikan dengan PPDGJ III dan ditegakkan skizofrenia paranoid. Rencana terapi berupa chlorpromazine 3x25 mg PO ditambah dengan psikoedukasi, intervensi keluarga, CBT, dan rehabilitasi.
Konjungtivitis Viral pada Laki-Laki 23 Tahun Reza Khairunnisa; Patti Arsendra
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konjungtivitis merupakan keadaan inflamasi yang terjadi pada konjungtiva. Sekitar 80% kasus konjungtivitis akut viral disebabkan oleh Adenovirus. Seorang laki-laki berusia 23 tahun datang dengan keluhan mata kiri merah dan terasa kemeng setelah 2 hari yang lalu bermotor lalu matanya terkena sesuatu. Pasien mengeluhkan mata kirinya perih, merah, terasa mengganjal dan air mata pasien tampak berproduksi lebih banyak. Tidak ada kotoran mata yang berlebih, Pasien memiliki riwayat batuk dan pilek kurang lebih satu minggu Pemeriksaan oftalmologi VOD 4/4 dan pada VOS 4/4 f. Pemeriksaan inspeksi luar OD tenang, OS palpebra superior et inferior edema, konjungtiva palpebra berwarna hiperemis, konjungtiva bulbi warna hiperemi dan terdapat injeksi konjungtiva, sklera hiperemis, tidak didapatkan perdarahan maupun benjolan. Terdapat hiperlakrimasi pada OS dan normal pada OD. Terapi pada pasien yaitu pada OS Artificial tears eye drop 4x1, Vitamin C 250 mg tablet 1x1, Ibuprofen 400mg tablet 3x1. Pasien disarankan untuk memberikan kompres dingin pada mata kirinya dan rutin mencuci tangan. Pasien juga disarankan juga untuk melakukan isolasi mandiri.
Laporan Kasus: Seorang Wanita 33 Tahun dengan Asma Bronkial Eksaserbasi Akut disertai Obesitas Syah Fillia Nurul Maslahah; Ida Nurromdoni; Izzah Tsaqoofah Jati; Reza Khairunnisa; Putri Rahayu Warseno
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma menjadi penyebab kematian keempat di Indonesia pada tahun 2017. Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran nafas dengan hiperaktivitas dan obstruksi bronkus. Pasien berusia 33 tahun datang ke IGD RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari sebelumnya. Pasien memiliki riwayat penyakit asma sejak usia 5 tahun dan sering kambuh. Pasien memiliki riwayat alergi dingin dan debu. Pemeriksaan fisik didapatkan retraksi subcostal dan pada auskultasi paru terdengar suara wheezing yang meningkat di akhir ekspirasi dan ronkhi di kedua lapang paru pasien. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan kadar leukosit, gula darah sewaktu, bilirubin direk, kreatinin, dan peningkatan asam urat. Hasil USG abdomen adalah fatty liver dan kolelithiasis multipel. Pasien didiagnosis dengan asma bronkial eksaserbasi akut disertai obesitas. Pasien diberikan terapi oksigen 3 lpm dengan nasal canul, infus NaCl 20 tpm, diphenhidramin injeksi 10 mg/ 24 jam, cefoperazone injeksi 1 gr/ 12 jam, dexametasone injeksi 1 gr/ 12 jam, solvinex injeksi 2 mg/ 12 jam, pantoprazole injeksi 40 mg/ 24 jam, nebulasi ventolin dan meprovent 2,5 mg/ 6 jam. Diberikan obat oral codein 10 mg, cetirizine 10 mg, metylprednisolone 2 mg, salbutamol 1 mg, dan aminophilin 50 mg. Prognosis pada kasus ini adalah dubia ad bonam.
Seorang Laki-Laki Usia 67 Tahun dengan Endoftalmitis Okuli Sinistra Eurolia Naba Mutiarasari; Patti Arsendra; Reza Khairunnisa; Idoviari Putriyantiwi; Izzah Tsaqoofah Jati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endoftalmitis adalah sebuah diagnosis klinis yang dibuat ketika terdapat inflamasi intraokular yang melibatkan baik ruang posterior dan anterior mata yang berhubungan dengan infeksi bakteri dan jamur. Endoftalmitis terbagi atas endogen dan eksogen, pada endoftalmitis endogen dapat terjadi akibat penyebaran bakteri maupun jamur yang berasal dari fokus infeksi di dalam tubuh terjadi sekitar 2-8%, sedangkan endoftalmitis eksogen sering terjadi oleh karena trauma pada bola mata (20%) atau pasca operasi intraokular (62%). Insiden endoftalmitis bakteri dilaporkan mencapai 0,06% pada level terendah dan tertinggi sebanyak 0,5%. Diagnosis endoftalmitis berdasarkan kondisi klinis ini biasanya ditandai dengan edema palpebra, kongesti konjungtiva, dan hipopion. Visus menurun bahkan dapat menjadi hilang. Prognosis menjadi buruk pada pasien-pasien endoftalmitis. Metode yang digunakan dalam laporan ini adalah observasi pasien berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Kami melaporkan seorang seorang Laki-laki berusi 67 tahun datang ke poliklinik mata RSUD dr. Sayidiman Magetan keluhan mata kiri sulit melihat setelah terkena daun tebu sejak 1 minggu yang lalu. Pasien mengatakan awal terkena mata terasa nyeri, merah dan terus menerus mengeluarkan air mata. Selang beberapa hari mata sulit membuka, belekan terus menerus, keluhan nyeri juga masih dirasakan pasien, serta keluhan sulit melihat. Pasien belum pernah melakukan pengobatan terkait keluhan mata yang dirasakan. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus endoftalmitis.
Perempuan 60 Tahun Didiagnosis Katarak Komplikata dengan Glaukoma Sekunder Subluksasi Lensa pada Mata Kanan dan Katarak Matur pada Mata Kiri Idoviari Putriyantiwi; Reza Khairunnisa; Eurolia Naba Mutiarasari; Izzah Tsaqoofah Jati; Patti Arsendra
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Katarak merupakan penyakit mata yang ditandai dengan adanya kekeruhan lensa mata sehingga mengganggu dalam proses masuknya cahaya ke mata sehingga menghalangi penglihatan. Katarak komplikata adalah keadaan dimana kekeruhan terjadi pada lensa yang diakibatkan keadaan lokal atau penyakit sistemik. Penyakit intraokuler yang menyebabkan kekeruhan lensa pada katarak komplikata salah satunya adalah glaukoma. Glaukoma sekunder merupakan glaukoma yang terjadi akibat suatu penyakit lain baik okular maupun sistemik. Salah satu penyebab glaukoma sekunder adalah subluksasi lentis yang merupakan suatu keadaan lensa tidak berada pada posisi yang normal didalam bilik mata. Kami melaporkan kasus seorang perempuan usia 60 tahun didiagnosis katarak komplikata dengan glaukoma sekunder subluksasi lentis pada mata kanan dan katarak matur pada mata kiri. Pemeriksaan fisik didapatkan penurunan penglihatan pada kedua mata yaitu VOD 1/300 VOS 1/300, pada mata kanan lensa keruh sebagian dan adanya subluksasi lensa, pemeriksaan TIO 39, pada mata kiri lensa keruh padat, pemeriksaan TIO 18. Penanganan yang diberikan pada pasien adalah terapi farmakologi acetazolamide 250 mg tablet 2x1 peroral, dan timolol maleate 0.5% eye drop 2xgtt 1 pada mata kanan. Terapi pembedahan dilakukan operasi katarak fakoemulsifikasi pada mata kiri.