Eddy Tjiahyono
RSUD dr. Sayidiman

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Laporan Kasus: Seorang Laki-Laki Berusia 72 Tahun dengan Xerosis Senilis Aninta Rahmandari Balich; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Xerosis cutis adalah istilah medis untuk kulit kering. Istilah ini berasal dari kata Yunani "Xero" yang berarti kering. Kulit kering disebabkan oleh kurangnya kelembapan pada stratum korneum akibat penurunan kadar air. Kerusakan pada stratum korneum menyebabkan kadar air dibawah 10%. Divisi Geriatri Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta tahun 2008- 2013 melaporkan xerosis cutis dan pruritus termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak. Gejala kulit kering adalah gatal dengan lesi mulai dari eritema, skuama hingga berfisura yang predileksinya pada ekstensor tungkai bawah dan panggul. Perawatan kulit kering meliputi pemberian pelembab topikal, perubahan gaya hidup dan penyesuaian terhadap lingkungan. Modifikasi kebiasaan seperti durasi mandi yang singkat, penggunaan sabun yang tepat dan kelembaban lingkungan juga penting bagi perawatan kulit kering. Kami Melaporkan kasus laki-laki berusia 72 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin di RSUD dr Sayidiman Magetan dengan keluhan kulit terasa gatal sejak 1 tahun yang lalu, kulitnya terasa kering, bersisik, dan berwarna kehitaman pada daerah lengan, tungkai, kepala, leher, dan badan. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik,, diagnosis awal pada pasien adalah Xerosis Senilis. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus Xerosis Senilis.
Sifilis Aninta Rahmandari Balich; Eddy Tjiahyono; Rafika Surya Putra Pratama; Rizki Oktabiriya; Septi Rismala Ekayanti; Tasya Rasyidah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema Pallidum dan mempunyai beberapa sifat, yaitu perjalanan penyakitnya sangat kronis, dalam perjalanannya dapat menyerang semua organ tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dapat kambuh kembali (rekuren), dan dapat ditularkan dari ibu ke janinnya sehingga menimbulkan kelainan kongenital. Selain ibu ke bayinya dan melalui hubungan seksual, sifilis juga ditularkan melalui luka, transfusi darah dan jarum suntik. Menurut statistik Centers for Disease Control and Prevention (CDC), terdapat 88.042 laporan diagnosis baru sifilis pada tahun 2016. Dari seluruh kasus sifilis, 27.814 adalah sifilis primer dan sekunder. Sifilis primer didiagnosis berdasarkan gejala klinis ditemukannya satu atau lebih chancre. Sifilis sekunder ditandai dengan ditemukannya lesi mukokutaneus yang terlokalisir atau difus dengan limfadenopati, serta masih dapat ditemukan chancre. Diagnosis sifilis laten berdasarkan tes serologis karena biasanya tidak ditemukan gejala klinis. Diagnosis sifilis tersier berdasarkan gejala klinis yang paling sering adalah ditemukan gumma. Terapi sifilis berdasarkan stadium infeksi dan keterlibatan sistem saraf pusat.
Seorang Anak 3 Tahun dengan Skabies Fathya Nurohmah Choirunnisa; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skabies merupakan infestasi tungau Sarcoptes scaibei var.hominis yang sepanjang siklus hidupnya di dalam epidermis. Seorang anak laki-laki An. M datang diantar ibunya dengan keluhan berupa bintil-bintil merah pada beberapa bagian tubuh sejak 14 yang lalu serta terdapat keluhan gatal pada beberapa bagian tubuh terutama malam hari. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, kesadaran komposmentis. Status generalisata dalam batas normal. Status dermatologis pada regio brachii sinistra didapatkan efloresensi berupa papul eritema, skuama, dan ekskoriasi multiple. Status dermatologis pada regio antebrachia dextra et sinistra dan axilla dextra didapatkan efloresensi papul eritema, skuama, erosi, dan ekskoriasi multiple. Status dermatologis femur dextra didapatkan efloresensi papul eritema, skuama, dan erosi. Status dermatologis abdomen didapatkan efloresensi berupa papul eritema, dan ekskoriasi multiple. Terapi farmakologis yang diberikan yaitu Asam Fusidat 2 kali sehari dioleskan pada pagi dan malam hari, Cefadroxil syrup 2x1/2 cth di konsumsi pada pagi dan malam hari, Cetirizine syrup 1x1/2 cth di konsumsi jika gatal, dan Permethrin 5% cream di oleskan pada kulit seminggu satu kali di malam hari. Pasien diberikan edukasi berupa perawatan kulit yang baik.
Tinea Kruris pada Laki-Laki Usia 55 Tahun Ivanka Anzalna Rahman; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh jamur dermatofita, Tinea kruris merupakan infeksi jamur dermatofita pada daerah kulit lipat paha, daerah pubis, perineum dan perianal. Seorang Laki-laki Tn. L usia 55 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan utama gatal serta panas pada kedua paha dan pantat sehingga mengganggu aktivitas pasien. Keluhan gatal dan bercak kemerahan yang awalnya pada pantat sejak 1 bulan yang lalu. Kemudian, semakin lama semakin meluas hingga pada bagian kedua paha, lipat paha, punggung bawah, telapak kaki. Keluhan gatal dirasakan terutama saat pasien berkeringat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, kesadaran compos mentis. Status generalisata dalam batas normal. Status dermatologis pada kedua paha, lipat paha, punggung bawah, telapak kaki didapatkan efloresensi berupa makula eritem, bulat, hiperpigmentosa, tepi tegas, aktif meninggi, central healing. Terapi farmakologis yang diberikan yaitu Ketokonazole 1 x 200 mg, Loratadine 1 x 10 mg dan Ketokonazole krem diaplikasikan pada lesi 2 kali sehari diberikan selama 7-10 hari. Pasien diberikan edukasi mengenai perawatan kulit yang baik.
Seorang Wanita Usia 59 Tahun dengan Herpes Zoster Thorakalis Dextra Yoga Prasadja; Yesya Melin Merari; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Herpes zoster merupakan salah satu penyakit kulit dikarenakan reaktivasi virus Varicella Zoster yang bersifat lokal, lebih tepatnya menginfeksi orang dewasa yang memiliki ciri tipikal yaitu nyeri radikuler, unilateral, dan sekelompok vesikel yang tersebar berdasarkan dermatomal yang inervasinya oleh satu ganglion saraf sensoris. Seorang wanita berusia 59 tahun datang dengan keluhan utama muncul plenting-plenting pada daerah kulit perut kanan sampai belakang. Keluhan muncul sejak 5 hari sebelum berobat. Pada pemeriksaan fisik menunjukan papul, vesikel eritematosa multiple yang tersebar pada daerah dermatom yaitu di di daerah thorakalis dextra. Pasien didiagnosis mengalami herpes zoster thorakalis dextra. Terapi farmakologi atau medikamentosa yang diberikan pada pasien yaitu asiklovir 5x800 mg, gabapentin 3x100 mg, dan obat oles krim gentamisin 0,1% 2x per hari. Pasien diedukasi untuk dilarang menggaruk luka pada kulit, menggunakan baju yang longgar dan meresap keringat, minum obat secara rutin, makan makanan bergizi, asupan cairan yang cukup serta beristirahat dengan cukup.
Pitiriasis Versikolor pada Laki-Laki 68 Tahun Septi Rismala Ekayanti; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pitiriasis versikolor adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur superficial yang bersifat kronik, ditandai dengan adanya makula hipopigmentasi atau hiperpigmentasi disertai dengan skuama halus. Prevalensi pitiriasis versikolor mencapai 50% di negara tropis. Pitiriasis versikolor disebabkan oleh Malassezia sp. Prevalensi lebih tinggi di daerah tropis karena suhu tinggi dan lingkungan lembab. Pitiriasis versikolor lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa muda karena peningkatan produksi sebum oleh kelenjar sebacea. Kami melaporkan sebuah kasus dari Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD dr. Sayidiman Magetan, seorang laki-laki berusia 68 tahun mengeluhkan bercak putih di badan sejak 1 tahun yang lalu. Bercak pertama kali muncul di punggung dengan ukuran 1 cm dan semakin lama meluas dan menyebar ke anggota tubuh lain. Keluhan disertai gatal saat pasien berkeringat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan makula hipopigmentasi, bulat, batas tegas, multiple pada lengan atas, punggung, perut, paha, ekstremitas bawah. Pada pemeriksaan wood lamp didapatkan fluoresensi berwarna kuning keemasan. Pasien didiagnosis Pitiriasis Versikolor dan mendapatkan terapi ketoconazole cream 2 dd ue, ketoconazole 1x200 mg, dan loratadine 1x10 mg.