Winarno Winarno
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Construction and Regulatory Framework of Wing-In-Ground Effect (WIG) Craft from the Perspective of Safety and High-Speed Craft Classification Antoni Arif Priadi; Tri Cahyadi; Sahattua P. Simatupang; Winarno Winarno; Larsen Barasa; Natanael Suranta; Mahsa Gyda Rahma; Muhammad Eddy Taufik; Michael Sugiarto Simamora
Dinasti International Journal of Education Management and Social Science Vol. 7 No. 5 (2026): Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (June
Publisher : Dinasti Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/dijemss.v7i5.6636

Abstract

Wing-In-Ground (WIG) effect craft represent a compelling high-speed maritime transportation solution for archipelagic nations, yet their global adoption remains constrained by fragmented regulatory frameworks and the absence of nationally adapted construction standards. This study proposes a national regulatory and construction framework for WIG craft tailored to Indonesia's tropical archipelagic conditions, using a systematic mapping study of 32 peer-reviewed and regulatory sources retrieved from Scopus, Web of Science, IEEE Xplore, and ScienceDirect following PRISMA 2020 guidelines. The results establish three key contributions. First, a three-tier classification system (Type A: exclusive ground effect; Type B: transitional capability; Type C: full aircraft mode) is proposed to facilitate phased adoption with progressively stringent certification requirements. Second, a hybrid material strategy combining marine-grade aluminum alloys (hull) with Carbon Fiber Reinforced Polymer (wings and stabilizers) is validated as optimal for tropical corrosion resistance and weight efficiency, with potential payload improvements of 30–40% over all-aluminum designs. Third, a redundant propulsion architecture with multi-stage Foreign Object Damage (FOD) filtration achieving ≥95% particulate removal efficiency is established as mandatory for safe operations in Indonesia's littoral environment. Operational analysis of the Java Sea demonstrates that Type A WIG craft could achieve approximately 80% annual uptime, reducing the Surabaya–Bawean transit from 3–4 hours to 45–60 minutes. This framework addresses the legal vacuum created by the absence of national WIG regulations and provides a replicable model for other tropical archipelagic nations.
Pengaruh Kondisi Fisik Kapal dan Kompetensi Awak Kapal terhadap Kepatuhan Regulasi Berimplikasi Keselamatan Pelayaran di PT. Meratus Line Samuel Ricardo; Taufiq Muntaz; Winarno Winarno; Marudut Bernadtua Simanjuntak; Tri Cahyadi; Larsen Barasa
Jurnal Siber Transportasi dan Logistik Vol. 4 No. 2 (2026): (JSTL) Jurnal Siber Transportasi dan Logistik (Juli - September 2026)
Publisher : Siber Nusantara Research & Yayasan Sinergi Inovasi Bersama (SIBER)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jstl.v4i2.1097

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terjadinya insiden near miss serta tantangan dalam menjaga konsistensi kepatuhan regulasi keselamatan di PT. Meratus Line. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kondisi fisik kapal dan kompetensi awak kapal terhadap keselamatan pelayaran dengan kepatuhan regulasi keselamatan sebagai variabel intervening. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Populasi penelitian berjumlah 503 awak kapal kontainer yang onboard tahun 2025. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, sehingga diperoleh 223 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner skala Likert dan dokumentasi perusahaan, sedangkan teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik kapal dan kompetensi awak kapal berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan regulasi keselamatan maupun keselamatan pelayaran. Kondisi fisik kapal terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan regulasi keselamatan dan keselamatan pelayaran. Kompetensi awak kapal juga berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan regulasi keselamatan dan keselamatan pelayaran. Selain itu, kepatuhan regulasi keselamatan berpengaruh signifikan terhadap keselamatan pelayaran. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa kepatuhan regulasi keselamatan mampu memediasi pengaruh kondisi fisik kapal dan kompetensi awak kapal terhadap keselamatan pelayaran. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa peningkatan keselamatan pelayaran dapat dilakukan melalui perbaikan kondisi fisik kapal, peningkatan kompetensi awak kapal, serta penguatan implementasi regulasi keselamatan secara konsisten. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk meningkatkan inspeksi dan pemeliharaan kapal, memperkuat pelatihan dan sertifikasi awak kapal, serta mengoptimalkan audit keselamatan dan penerapan ISM Code guna meminimalkan risiko kecelakaan pelayaran.
Pengaruh Keterampilan dan Pengetahuan Awak Kapal terhadap Kepatuhan Regulasi serta Implikasinya untuk Mencapai Zero Deficiency dalam Port State Control Inspection Muhammad Rafly Ramdhani; Winarno Winarno; Markus Yando; Marihot Simanjuntak; Susi Herawati; Riska Rahim
Jurnal Siber Transportasi dan Logistik Vol. 4 No. 2 (2026): (JSTL) Jurnal Siber Transportasi dan Logistik (Juli - September 2026)
Publisher : Siber Nusantara Research & Yayasan Sinergi Inovasi Bersama (SIBER)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jstl.v4i2.1125

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi belum konsistennya pencapaian Zero Deficiency pada armada POS SM Co., Ltd, yang selama periode 2023–2026 mencatat 39 dari 89 inspeksi PSC berdeficiency atau 43,8%, dengan 124 temuan deficiency. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan keterampilan dan pengetahuan awak kapal dalam mendukung kepatuhan regulasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh keterampilan dan pengetahuan awak kapal terhadap kepatuhan regulasi dan Zero Deficiency PSC, serta menguji peran kepatuhan regulasi sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Populasi berjumlah 300 awak kapal pada 13 kapal, sedangkan sampel sebanyak 172 responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert menggunakan Google Forms dan studi dokumentasi berupa laporan PSC, data deficiency, data awak kapal, serta Monthly SHEQ Meeting. Analisis data menggunakan SEM-PLS dengan SmartPLS melalui pengujian outer model, inner model, bootstrapping 5.000 subsampel, dan VAF untuk analisis mediasi. Hasil penelitian menunjukkan keterampilan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan regulasi (β=0,388; t=5,485; p<0,001) dan Zero Deficiency (β=0,293; t=4,654; p<0,001). Pengetahuan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan regulasi (β=0,270; t=4,137; p<0,001) dan Zero Deficiency (β=0,164; t=2,444; p=0,015). Kepatuhan regulasi berpengaruh positif signifikan terhadap Zero Deficiency (β=0,346; t=5,548; p<0,001). Mediasi bersifat parsial untuk keterampilan (VAF 31,4%) dan pengetahuan (VAF 36,2%). R² kepatuhan regulasi sebesar 0,297 dan Zero Deficiency sebesar 0,410. Temuan menegaskan bahwa peningkatan kompetensi awak kapal dan pembudayaan kepatuhan regulasi diperlukan untuk meningkatkan kesiapan menghadapi PSC. Disarankan perusahaan memperkuat pelatihan keterampilan, pemahaman SOLAS, MARPOL, MLC 2006, dan STCW, evaluasi berkala, serta pemantauan kesiapan kapal