Ani Hasan
Universitas Negeri Gorontalo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Eksplorasi Isolat Bakteri Rizosfer Musa acuminata Pada Fermentasi Ampas Tebu Sebagai Kandidat Biofertilizer Dian Ramadhani H; Widyawati Mantulangi; Mohammad Fadel Tangahu; Ani Hasan; Wirnangsi Din Uno
Journal of Science and Engineering Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : CV. Akira Java BUlu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rizosfer tanaman adalah lingkungan mikroorganisme yang memiliki kemampuan besar sebagai sumber bakteri fungsional untuk mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi isolat bakteri dari rizosfer Musa acuminata, menilai kemampuan mereka dalam fermentasi ampas tebu, dan mengeksplorasi potensinya sebagai calon biofertilizer berdasarkan produksi Asam Indole Asetat (IAA). Penelitian ini dilakukan melalui eksperimen di laboratorium dengan metode isolasi bakteri menggunakan media Nutrient Agar (NA), pemurnian isolat dengan metode streak plate, pewarnaan Gram, uji produksi IAA menggunakan reagen Salkowski, serta fermentasi ampas tebu selama 14 hari dan menghitung viabilitas bakteri menggunakan metode Total Plate Count (TPC). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa isolat bakteri memiliki morfologi koloni yang berwarna putih krem, berbentuk bulat, dengan elevasi cembung dan tepian yang rata. Pewarnaan Gram menunjukkan bahwa bakteri tersebut bersifat Gram positif dan berbentuk sel kokus yang berkelompok. Uji IAA menghasilkan perubahan warna menjadi merah muda setelah penambahan reagen Salkowski, yang menandakan adanya produksi IAA secara kualitatif. Fermentasi ampas tebu membawa perubahan karakteristik fisik, termasuk peningkatan kekeruhan, munculnya aroma asam, serta terbentuknya endapan setelah inkubasi selama 14 hari. Perhitungan TPC pada pengenceran 10⁻⁶ menunjukkan ada 34 koloni dengan total viabilitas sebesar 3,4 × 10⁸ CFU/mL. Dengan demikian, isolat bakteri dari rizosfer Musa acuminata menunjukkan potensi awal sebagai kandidat biofertilizer yang berbasis fermentasi ampas tebu.
Kualitas Yoghurt Labu Kuning (Cucurbita moschata) Ditinjau dari Lama Fermentasi Anisa Dwi Usman; Srimisnabila Antu; Rianty Bakari; Ruben Tekege; Ani Hasan; Wirnangsi Uno
Journal of Science and Engineering Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : CV. Akira Java BUlu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yoghurt labu kuning merupakan produk pangan fungsional inovatif yang menggabungkan manfaat probiotik dari fermentasi susu dengan kandungan nutrisi tinggi labu kuning (Cucurbita moschata), termasuk beta-karoten, vitamin C, serta antioksidan. Lama fermentasi merupakan faktor kritis yang menentukan mutu akhir yoghurt, karena berpengaruh langsung terhadap aktivitas bakteri asam laktat (BAL), pembentukan asam laktat, serta karakteristik fisik dan sensoris produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap sifat fisik (kadar asam laktat dan pH) dan sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, dan tekstur) yoghurt labu kuning. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan tiga perlakuan variasi lama fermentasi, yaitu 6 jam (P1), 12 jam (P2), dan 24 jam (P3), menggunakan filtrat labu kuning sebanyak 8% dan starter bakteri Lactobacillus bulgaricus serta Streptococcus thermophilus masing-masing 2%. Uji organoleptik dilakukan oleh 25 panelis menggunakan skala hedonik 1–5, sedangkan kadar asam laktat diukur dengan metode titrasi dan pH diukur menggunakan pH meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter yang diuji. Kadar asam laktat meningkat seiring bertambahnya lama fermentasi, yaitu 0,41% (6 jam), 0,51% (12 jam), dan 0,74% (24 jam), dengan pH berturut-turut 5, 4, dan 3. Fermentasi selama 12 jam menghasilkan yoghurt dengan kualitas terbaik berdasarkan uji organoleptik warna (̅x = 3,68), aroma (̅x = 3,80), rasa (̅x = 3,76), dan tekstur (̅x = 3,72), serta kadar asam laktat dan pH yang memenuhi standar mutu yoghurt SNI 2981:2009 (kadar asam 0,5–2,0%, pH 3,8–4,6). Disimpulkan bahwa 12 jam merupakan waktu fermentasi optimal dalam pembuatan yoghurt labu kuning untuk menghasilkan produk bermutu tinggi yang dapat diterima konsumen.
Fermentasi Kompos Serasah Daun Bambu Kering (Bambusa sp.) Menggunakan Mikroba Tanah Trichoderma sp. Fitriyani Dalumi; Siti Nurain Kati; Amanda Devina Kaliopas; Ani Hasan; Wirnangsi Din Uno
Journal of Science and Engineering Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : CV. Akira Java BUlu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan isolat Trichoderma sp. pada tanah rhizosfer bambu serta mengkaji pengaruh penambahan Trichoderma sp. terhadap kualitas kompos serasah daun bambu kering (Bambusa sp.). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan dua perlakuan, yaitu kompos tanpa penambahan Trichoderma sp. (P0) dan kompos dengan penambahan Trichoderma sp. (P1). Pengamatan dilakukan selama 15 hari berdasarkan parameter warna, bau, tekstur, kadar air, dan penyusutan bobot. Isolasi dan identifikasi Trichoderma sp. dilakukan melalui pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat yang diperoleh memiliki koloni berwarna hijau-putih, hifa bersepta, dan konidia berbentuk bulat hingga subbulat yang sesuai dengan karakteristik Trichoderma sp. Penambahan Trichoderma sp. menghasilkan kompos dengan warna lebih gelap, bau tanah yang khas, tekstur lebih remah, kadar air lebih rendah (42%), serta penyusutan bobot lebih tinggi (24%) dibandingkan perlakuan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma sp. efektif mempercepat proses dekomposisi dan meningkatkan kualitas fisik kompos serasah daun bambu kering. Oleh karena itu, Trichoderma sp. berpotensi digunakan sebagai bioaktivator dalam pengolahan limbah organik yang ramah lingkungan.