Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMODELAN SPASIAL MULTI-TEMPORAL DEFORESTASI UNTUK EVALUASI KESESUAIAN TATA RUANG DI PROVINSI BENGKULU Iman Darmatama; Trinita Wulandari; Devianri. M; Vioni; Reflis
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2026): Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : Institut Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37412/jrl.v26i1.458

Abstract

Deforestasi dan perubahan tutupan lahan merupakan permasalahan utama dalam pengelolaan lingkungan, khususnya di wilayah tropis yang mengalami tekanan konversi lahan yang tinggi. Namun, sebagian besar penelitian masih bersifat deskriptif dan belum mengintegrasikan analisis perubahan tutupan lahan dengan evaluasi kesesuaian tata ruang secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika deforestasi dan mengevaluasi kesesuaian pemanfaatan ruang menggunakan pendekatan pemodelan spasial multi-temporal berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini mengembangkan model spasial sebagai bagian dari sistem pendukung keputusan (Decision Support System/DSS) dengan menggunakan data tutupan lahan tahun 2015, 2020, dan 2025, di mana data tahun 2025 merupakan hasil proyeksi model spasial, serta peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bengkulu. Analisis dilakukan melalui tahapan change detection, matriks transisi tutupan lahan, analisis distribusi spasial, dan overlay kesesuaian tata ruang. Data tutupan lahan diperoleh dari peta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang diolah menggunakan perangkat lunak SIG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas tutupan hutan menurun dari 716.451 ha pada tahun 2015 menjadi 643.961 ha pada tahun 2025 (±10,12%). Konversi hutan menjadi perkebunan dan pertanian merupakan penyebab utama deforestasi. Selain itu, ditemukan ketidaksesuaian pemanfaatan ruang sebesar ±40.000 ha, terutama pada kawasan lindung. Model yang dikembangkan memiliki tingkat akurasi ≥85% dengan nilai Kappa >0,75. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan pemodelan spasial multi-temporal dapat digunakan sebagai alat evaluasi kebijakan berbasis data serta sistem pendukung keputusan dalam rekayasa lingkungan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Transformasi Tradisi Sedekah Desa Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Transmigrasi Jawa di Kecamatan Girimulya, Kabupaten Bengkulu Utara Zakhi Restu Pratama; Gungung Senoaji; Iman Darmatama
KENDURI : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): January-April
Publisher : Yayasan Darussalam Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62159/kenduri.v6i1.2997

Abstract

This study examines the transformation of the Sedekah Desa tradition as a form of local wisdom maintained and adapted by Javanese transmigrant communities in Girimulya District, North Bengkulu Regency. Sedekah Desa is a Javanese cultural heritage that originally functioned as a ritual expression of gratitude to God for agricultural yields and village safety. In the context of community relocation through the transmigration program, this tradition has undergone transformation in terms of form, meaning, and social function as a response to an environment different from the homeland. This study employs a qualitative method with an ethnographic approach, utilizing participatory observation, in-depth interviews, and documentary study. The findings indicate that the Sedekah Desa tradition in Girimulya District has undergone changes in ritual processions and symbolism, yet core values such as mutual cooperation (gotong royong), gratitude, and social solidarity remain preserved. The transformation is adaptive and accommodative to the ecological, social, and cultural conditions in North Bengkulu. The tradition also serves as a cultural identity anchor for Javanese communities in diaspora and as a bridge for integration between transmigrant and local communities. This research contributes to understanding the dynamics of local wisdom in the context of population mobility and cultural acculturation in Indonesia.
EVALUASI POTENSI KARBON BIRU DAN PENYUSUNAN STRATEGI RESTORASI EKOSISTEM MANGROVE UNTUK MENDUKUNG MITIGASI PERUBAHAN IKLIM DI PESISIR INDONESIA: Evaluation of Blue Carbon Potential and Development of Mangrove Ecosystem Restoration Strategies to Support Climate Change Mitigation in Indonesia’s Coastal Areas Iman Darmatama; Kartika Anggraini; Selly Ratna Sari; Fahrul Rozi Maulana
Enviagro: Jurnal Pertanian dan Lingkungan Vol 11 No 2 (2025): Enviagro
Publisher : Program Studi S2 Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/a3hfe740

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan salah satu penyerap dan penyimpan karbon biru (blue carbon) paling efektif yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon pada biomassa dan sedimen dalam jangka panjang. Indonesia sebagai negara dengan luasan mangrove terbesar di dunia memiliki potensi strategis dalam mendukung penurunan emisi gas rumah kaca melalui konservasi dan restorasi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi karbon biru ekosistem mangrove serta merumuskan strategi restorasi untuk mendukung mitigasi perubahan iklim di pesisir Indonesia. Penelitian menggunakan metode literature review dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap data sekunder yang diperoleh dari artikel ilmiah, laporan pemerintah, dan publikasi lembaga internasional. Data dianalisis melalui sintesis literatur dan analisis SWOT untuk menyusun strategi restorasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3,39 juta hektare mangrove dengan kapasitas penyimpanan karbon yang sangat tinggi, namun menghadapi ancaman berupa konversi lahan, pembangunan kawasan pesisir, eksploitasi sumber daya, abrasi, dan perubahan iklim yang menyebabkan degradasi ekosistem. Keberhasilan restorasi dipengaruhi oleh faktor biofisik, hidrologi, sosial, kelembagaan, dan penerapan teknik restorasi yang sesuai. Strategi restorasi yang direkomendasikan meliputi pendekatan berbasis ekosistem, integrasi blue carbon dalam kebijakan mitigasi perubahan iklim, penguatan tata kelola dan kolaborasi multipihak, pengembangan pembiayaan berbasis karbon, serta pemanfaatan teknologi untuk pemantauan berkelanjutan guna mendukung pembangunan pesisir yang berkelanjutan.
PRIORITIZING DEGRADED LANDSCAPE REHABILITATION USING NDVI, NBR, FRAGMENTATION, RANDOM FOREST, AND AHP IN BENGKULU PROVINCE: PRIORITAS REHABILITASI LANSKAP TERDEGRADASI BERBASIS NDVI, NBR, FRAGMENTASI, RANDOM FOREST, DAN AHP DI PROVINSI BENGKULU Iman Darmatama; Zhaki Restu Pratama; Kemal Alfarid Akbar
Jurnal Riset Inossa : Media Hasil Riset Pemerintahan, Ekonomi dan Sumber Daya Alam Vol. 8 No. 1 (2026): June
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Kota Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54902/586a1g96

Abstract

Deforestation and land cover change are major issues in natural resource management, contributing to environmental degradation and spatial imbalance. Bengkulu Province, as part of the Sumatra landscape, has experienced significant land conversion pressure driven by the expansion of plantation and agricultural activities. This study aims to evaluate the dynamics of deforestation and land cover change and to assess their conformity with the Regional Spatial Plan (RTRW). The study utilizes land cover data from the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) for the periods 2015, 2020, and 2025, analyzed using a Geographic Information System (GIS) approach. The methods include multi-temporal change detection, land cover transition matrix analysis, and spatial overlay between actual land use and the RTRW. The results show that forest cover in Bengkulu Province decreased from 716,451 ha in 2015 to 643,961 ha in 2025, with the highest deforestation rate occurring during 2022–2023, reaching 8,306 ha (1.28%). Transition matrix analysis indicates that forest conversion to plantations is the dominant form of land cover change, covering 12,450 ha (2015–2020) and 8,710 ha (2020–2025). Spatial conformity analysis reveals land-use inconsistencies exceeding 40,000 ha, particularly in protected areas converted into plantations and agricultural land. In addition, degraded land reaches 155,724 ha. These findings indicate that pressure on forest areas remains high and the implementation of spatial planning is not yet optimal. Therefore, strengthening spatial control, land rehabilitation, and the adoption of a sustainable landscape-based management approach are essential.