Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kewajiban Nafkah Anak Setelah Kematian Ayah: Telaah Fikih Mazhab dan Hukum Keluarga Islam di Indonesia Dzin Nun Naachy; Hanik Latifah; Yayat Dimyati
Al-Mawaddah: Jurnal Studi Islam dan Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyyah) Vol 3 No 1 (2026): Al-Mawaddah
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/059w6s60

Abstract

Kematian ayah menimbulkan persoalan pihak yang selanjutnya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak. Ibu yang masih hidup sebagai pengasuh, secara normatif tidak selalu identik dengan pihak yang dibebani kewajiban nafkah. Kajian ini bertujuan menganalisis kewajiban nafkah anak setelah kematian ayah berdasar perspektif fikih empat mazhab dan relevansinya dengan Hukum Keluarga Islam (HKI) Indonesia. Penelitian hukum normatif menggunakan pendekatan fikih komparatif, pendekatan perundang-undangan, dan pendekatan konseptual. Bahan hukum dianalisis secara deskriptif-komparatif dengan menelaah kedudukan ibu, kakek dari pihak ayah, dan kerabat lain dalam pemenuhan nafkah anak. Hasil penelitian menunjukkan, fikih mazhab tidak memberikan konstruksi yang seragam mengenai pihak yang wajib menanggung nafkah setelah ayah meninggal. Sebagian mazhab memberikan ruang bagi kakek atau kerabat tertentu untuk memikul kewajiban berdasarkan hubungan nasab dan kemampuan ekonomi. Kedudukan ibu perlu dibedakan antara tanggung jawab pengasuhan dan kewajiban nafkah. Tanggung jawab terhadap anak dalam hukum keluarga Indonesia tetap melekat, meskipun salah satu orang tua meninggal. Keterlibatan kerabat dimungkinkan ketika orang tua tidak mampu menjalankan kewajibannya. Kewajiban nafkah setelah kematian ayah lebih tepat dipahami sebagai redistribusi tanggung jawab yang mempertimbangkan hubungan nasab, kemampuan ekonomi, kebutuhan, dan kepentingan terbaik anak.
Tarbiyatus Shibyan Morning Recitation Guidance for Elementary School Students at Pesantren Attahdzib Dzin Nun Naachy; Hanik Latifah; Yayat Dimyati; Purwantoro; Roikhan Arif Pambudi
Ihsanniat: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2026): Ihsanniat
Publisher : LP3M IAI At-Tahdzib

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/cd6vfm12

Abstract

The ability to read the al-Qur’an is a basic competency that needs to be instilled from elementary school age as a provision for the formation of religious character. However, there are still students who experience difficulties in recognizing the hijaiyah letters, pronouncing letters according to makhraj, reading the al-Qur’an with tajwid rules, and getting used to reading the al-Qur’an regularly. This condition is the basis for the implementation of Community Empowerment (CE) activities in the form of mentoring recitation at the Pesantren Attahdzib Dormitory at the elementary school level which aims to improve the al-Qur’an literacy skills of students. The method used is participatory mentoring with a direct practice approach, demonstration, habituation, and individual evaluation. The activity is carried out through six stages, namely introduction to the hijaiyah letters, learning to pronounce letters according to makhraj, practicing writing hijaiyah letters, learning to read using the Iqra’ book, introduction to the rules of reading the al-Qur’an through tajwid science, and learning Juz ‘Amma and the al-Qur’an. Mentoring is carried out in stages according to the students’ ability level so that each participant receives continuous guidance. The results of the activity showed an increase in the students’ ability to recognize, pronounce, and write the hijaiyah letters, read the al-Qur’an more fluently using the Iqra’ method, and apply basic Tajweed laws in reading the al-Qur’an. In addition, the mentoring activity succeeded in increasing learning motivation, self-confidence, and the habit of reading the al-Qur’an in the dormitory environment, thus forming a more active and conducive culture of learning the al-Qur’an. This mentoring program proves that learning carried out in stages and continuously is effective in increasing the al-Qur’an literacy of elementary school students in the Islamic boarding school environment.