Hendrastuti Hidayat, Sri
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Pertumbuhan Vegetatif dan Keparahan Penyakit Bercak Daun Curvularia oryzae pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Priwiratama, Hari; Wijayanti, Eka; Wiyono, Suryo; Toding Tondok, Efi; Hendrastuti Hidayat, Sri; Wening, Sri
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 33 No 2 (2025): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v33i2.308

Abstract

Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan bibit kelapa sawit. Kekeringan dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan kerentanan kelapa sawit terhadap penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kekeringan terhadap pertumbuhan vegetatif dan keparahan penyakit bercak daun Curvularia. Cekaman kekeringan disimulasikan dengan membatasi pemberian air terhadap bibit kelapa sawit berumur tiga bulan pada level kapasitas lapang (KL), 75% KL, 50% KL, dan 25% KL. Perlakuan penyiraman dengan standar pembibitan digunakan sebagai pembanding (K). Pada masing-masing perlakuan, inokulasi Curvularia oryzae dilakukan dengan cara menyemprotkan suspensi spora (1 x 105 konidia/mL) secara merata pada permukaan daun. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bibit terinfeksi bercak daun yang mengalami cekaman kekeringan berat (25% KL) memiliki tinggi dan lebar bonggol yang lebih rendah dibandingkan perlakuan K dan KL. Tingkat keparahan penyakit bercak daun Curvularia pada tanaman yang mengalami cekaman air berat (25% KL) lebih rendah dibandingkan perlakuan standar pembibitan, KL dan 75% KL. Secara umum dapat disimpulkan bahwa cekaman kekeringan memberikan dampak yang bertolak belakang antara variabel pertumbuhan tanaman dan keparahan penyakit bercak daun.
Deteksi Squash mosaic virus pada Lima Varietas Mentimun (Cucumis sativus L.) Rosminim Purba, Erika; Mugi Lestari, Susanti; Nurhaelena, Yudia; Hendrastuti Hidayat, Sri
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.575 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.2.104-110

Abstract

ABSTRACTSquash mosaic virus (SqMV) is a seed-borne pathogen which infect many Cucurbitaceae crops.  Infection of SqMV has been reported from several vegetable growing areas in Indonesia. The objective of this research was to determine the percentage of seed-borne SqMV on five cucumber varieties i.e. ‘Jupiter’, ‘Venus’, ‘Japan File’, ‘Vario’, and ‘Calista’ and the effect of SqMV infection on mosaic disease development. Five cucumber varieties were mechanically inoculated with SqMV, followed by observation on symptom development, incubation period, and disease incidence. Seed-borne virus was detected by Dot Immunobinding Assay (DIBA) and indirect Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) methods following growing-on test. The plants showed varied symptoms including green mosaic, green-yellow mosaic, vein clearing, and fruit malformation. Disease severity and virus titer showed general trend, i.e. low during inflorescence period and increasing on fruiting period; with the exception on ‘Japan File’ which showed decreasing of disease severity since generative phase. All commercial seeds (F1) tested evidently infected by SqMV with high incidence (100%), whereas infection of SqMV on F2 seeds of ‘Venus’ reached 60.87%.Keywords: DIBA, disease incidence, ELISA, seed transmission, virus titer  ABSTRAK Squash mosaic virus (SqMV) adalah patogen terbawa benih yang banyak menginfeksi tanaman Cucurbitaceae, dan keberadaannya di Indonesia sudah meluas. Tujuan penelitian ialah mengetahui persentase SqMV terbawa benih pada lima varietas mentimun yaitu ‘Yupiter’, ‘Venus’, ‘Japan File’, ‘Vario’, dan ‘Calista’ dan mengetahui pengaruh infeksi SqMV terhadap perkembangan penyakit mosaik. Lima varietas mentimun diinokulasi dengan SqMV secara mekanis kemudian diamati gejala yang muncul, periode inkubasi, dan insidensi penyakit. Pengujian virus terbawa benih dilakukan dengan menumbuhkan benih, selanjutnya deteksi virus dilakukan menggunakan metode Dot Immunobinding Assay (DIBA) dan indirect Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Tanaman mentimun menunjukkan gejala infeksi SqMV yang bervariasi yaitu mosaik hijau, mosaik kuning hijau, pemucatan tulang daun, dan malformasi pada buah. Pengamatan keparahan penyakit dan titer virus menunjukkan pola perkembangan penyakit mosaik yaitu menurun pada fase berbunga dan meningkat lagi pada fase berbuah, kecuali varietas Japan File memberikan respons yang berbeda karena penurunan keparahan penyakit berlanjut sejak fase generatif. Benih komersial (F1) yang banyak digunakan petani terbukti membawa SqMV dengan infeksi mencapai 100% dan tanaman varietas ‘Venus’ yang terinfeksi SqMV menghasilkan benih keturunan (F2) yang membawa SqMV dengan efisiensi mencapai 60.87%.Kata kunci: DIBA, ELISA, insidensi penyakit, titer virus, tular benih
Hot Water Treatment on Shallot (Allium cepa var. ascalonicum) Tuber to Suppress Viruses Infection in The Field Wiyono, Suryo; Harti, Heri; Sobir; Hendrastuti Hidayat, Sri
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.62 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.3.149-157

Abstract

Infestasi virus pada umbi bawang merah dilaporkan sangat tinggi, meskipun efek infeksi virus terhadap produktivitas bawang merah masih sedikit diketahui. Penggunaan umbi bebas virus diasumsikan menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan produktivitas. Perlakuan air panas pada umbi sebelum tanam merupakan metode pilihan untuk mengeliminasi virus. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari keefektifan metode perlakuan air panas pada umbi bibit bawang merah terhadap infeksi virus di lapangan. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap petak terbagi dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan rumah kasa dengan dua taraf, yaitu penanaman dalam rumah kasa dan penanaman di lahan terbuka. Faktor kedua adalah perlakuan air panas suhu 45 0C dengan 4 taraf waktu perendaman, yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit dan kontrol (tanpa perlakuan). Pengamatan dilakukan terhadap insidensi penyakit, parameter pertumbuhan tanaman (jumlah anakan dan tinggi tanaman), dan produktivitas tanaman. Insidensi virus dikonfirmasi dengan deteksi menggunakan antibodi spesifik. Hasil pengamatan gejala menunjukkan bahwa perlakuan rumah kasa tidak berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit, sementara perlakuan pemanasan berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit. Waktu perendaman umbi selama 15, 30 dan 45 menit pada suhu 45 0C dapat menekan insidensi penyakit virus dilapangan berturut-turut sebesar 54.98%, 56.77% dan 64.35%. Kata kunci: eliminasi virus, insidensi penyakit, rumah kasa, waktu perendaman