Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Potensi Ekstrak Air Daun Sirsak sebagai Penurun Kolesterol dan Pengendali Bobot Badan Lelly Yuniarti; Miranti Kania Dewi; Uci Ary Lantika; Tryando Bhatara
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 4 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.893 KB) | DOI: 10.29244/avi.4.2.82-87

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak air daun sirsak terhadap bobot badan dan kadar kolesterol darah. Penelitian ini menggunakanrancangan acak lengkap dengan 5 kelompok perlakuan masing-masing sebanyak 3 ulangan. Hewan coba berupa tikus galur Wistar sebanyak 15 ekor dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok yang diberikan ekstrak air daun sirsak dengan dosis 200 mg/kgBB, 400mg/kgBB, kontrol positif, kontrol negatif, dan kontrol normal. Rerata bobot badan dan kadar kolesterol kemudian dianalisis menggunakan Sapphiro Wilk test, ANOVA dan Kruskall Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kelompok yang diberikan ekstrak daun sirsak memiliki efek menghambat peningkatan bobot badan jika dibandingkan dengan kontrol normal, sedangkan untuk kadar kolesterol darah didapatkan bahwa seluruh kelompok perlakuan menunjukkan kadar kolesterol darah yang sama dengan kelompok yang diberikan simvastatin. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa ekstrak air daun sirsak memiliki efek mengendalikan bobot badan dan kolesterol darah. Efek terhadap kolesterol darah serupa dengan simvastatin, karena ekstrak air daun sirsak mengandung fl avonoid yang mempunyai efek menghambat enzim HMG CoA reduktase, serupa dengan mekanisme kerja simvastatin dalam menurunkan kadar kolesterol darah.
Effect of carboxymethylcellulose sodium addition as stabilizer for physicochemical characteristic of purple sweet potato fortified yogurt (Ipomoea batatas L.) Uci Ary Lantika; Fitrianti Darusman; Widad Aghnia Shalannandia; Astrid Feinisa Khairani
Pharmaciana Vol 11, No 1 (2021): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.381 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v11i1.18088

Abstract

The yoghurt consisted of low-fat milk, three bacterial strains starter, which included: L. bulgaricus ATCC 11842, L. plantarum ATCC 8014, and B. longum (1:1:1); purple sweet potato puree (Ipomoea batatas, L.) and carboxymethylcellulose sodium with the concentration of 0.6%, 1.2%, and 1.8%. Purple sweet potato fortification in yogurt can prevent hypercholesterolemic conditions because it inhibits lipid and sugar absorption in the intestine. Unfortunately, there is one shortcoming in the production of yogurt which affects the final product quality. This shortcoming is in the decrease in the air holding capacity (whey off) during the production due to the pH level within the isoelectric point of casein. This causes precipitation and phase separation. This study will add a stabilizer to the formula to overcome it. The stabilizer used is carboxymethylcellulose sodium, which is semi-synthetic water-soluble ester polymer cellulose. This study aimed to determine the optimal concentration of carboxymethylcellulose sodium and its effect on purple sweet potato yogurt's physicochemical and organoleptic properties. The product quality evaluations were on organoleptic evaluation, density, viscosity, and pH level. Centrifugation and freeze-thaw tests were also performed to evaluate product stability. The results showed that carboxymethylcellulose sodium could maintain the stability of purple sweet potato yogurt by binding the air content, increasing consistency, and smoothing the texture even though it did not affect the freezing point of the product. This study gave the best results for purple sweet potato yogurt with 1.2% carboxymethylcellulose sodium concentration.
Efek Gel Kentang Kuning (Solanum tuberosum L.) terhadap Proses Penyembuhan Luka pada Mencit (Mus musculus) Silvana Anggreini Rosa; Sudigdo Adi; Achadiyani Achadiyani; Astrid Feinisa Khairani; Uci Ary Lantika
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.381 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i1.2417

Abstract

Perawatan luka yang baik diperlukan dalam proses penyembuhan luka. Salah satu metodenya adalah pemberian obat topikal. Gel kentang kuning (Solanum tuberosum L.) memiliki kandungan antosianin yang berperan dalam meningkatkan vaskularisasi, menginisiasi sintesis DNA, dan menstimulus sintesis fibronektin dari fibroblas. Dengan demikian, dimungkinkan gel kentang kuning dapat membantu proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan melihat efek gel kentang kuning pada jumlah fibroblas, tebal epitel, dan luas luka eksisi. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik dengan rancangan acak lengkap yang dilakukan di kandang hewan Divisi Biologi Sel Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Biologi Sel, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran; Laboratorium Patologi Anatomi, Universitas Padjadjaran; dan Laboratorium Farmasi Singaperbangsa, Universitas Padjadjaran, Bandung. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Oktober 2015. Tiga puluh enam mencit (Mus musculus) jantan galur Swiss Webster dieksisi pada kulitnya kemudian dibagi menjadi dua kelompok: kelompok perlakuan (n=18) dan kelompok kontrol (n=18). Dilakukan pengamatan luas luka dan histologi pada hari ke-7, 14, dan 25. Dibuat sediaan preparat histologi untuk menghitung jumlah fibroblas, pembuluh darah, dan tebal epitel. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberian gel kentang kuning dapat meningkatkan efektivitas pembentukan fibroblas dan pembuluh darah pada hari ke-7. Selain itu, gel kentang kuning juga berefek pada peningkatan tebal epitel dan penurunan diameter luas luka pada hari ke-7, 14, dan 25. Simpulan, pemberian gel kentang kuning dapat meningkatkan efektivitas penyembuhan luka eksisi. THE EFFECT OF YELLOW POTATO (SOLANUM TUBEROSUM L.) GEL ON WOUND HEALING PROCESS IN MICE (MUS MUSCULUS)Adequate wound care is needed on wound-healing process. Applying topical agent is one of the wound care methods. Yellow potato (Solanum tuberosum L.) gel’s content an anotsianin antioxidant that could improve vascularization, initiation DNA synthesis, and stimulate synthesis of fibronectin. Therefore, it is possible that yellow potato gel could help on wound healing process. This study examined the effect of yellow potato gel on wound healing. This study was laboratory experiment with completely randomized design conducted in Department of Anatomy, Physiology and Cell Biology, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran; Anatomical Pathology Laboratory, Universitas Padjadjaran; and Singaperbangsa Pharmacy Laboratory, Universitas Padjadjaran, Bandung. The study was conducted from May to October 2015. Thirty six male Swiss Webster mice (Mus musculus) were divided into 2 groups: the experimental group, which received a topical application of yellow potato gel and the control group without gel application. The observationsscar width and histological were conducted on days 7, 14, and 25. Histological preparation was made to calculate the fibroblasts, blood vessels, and epithelial thickness. The result of this study showed that topical application of the yellow potato gel evidently increased effectiveness of fibroblasts and blood vessels development on days 7. More over, it was also shown improvement in epithelial thickness and scar width on days 7, 14, and 25. In conclusion, yellow potato gel treatment can improve the effectiveness of wound healing
Gambaran Sistem Skoring Tuberkulosis Anak di Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu Tahun 2019 Aisyah Putri Rejeki; Uci Ary Lantika; Sadeli Masria
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7346

Abstract

Indonesia menjadi negara endemis TB dengan prevalensi TB paru anak yang cukup tinggi. Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kepadatan penduduk, tingkat pendidikan rendah, pola hidup bersih dan sehat, serta status gizi buruk menjadi risiko tinggi penularan penyakit ini terutama pada anak. Terdapat kesulitan dalam penegakan diagnosis disebabkan oleh kesulitan pengambilan sampel dahak pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia menggunakan pendekatan sistem skoring dalam mendiagnosis TB paru pada anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran sistem skoring tuberkulosis pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu bulan Januari–Desember tahun 2019. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari 69 rekam medis pasien TB anak mengenai parameter sistem skoring. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 74% pasien didiagnosis TB anak dengan skoring TB ≥6 dan 26% skoring TB <6. Hal ini kemungkinan karena sebagian besar anak yang didiagnosis mengalami gizi buruk. Imunitas yang belum matur juga menjadi salah satu faktor risiko sistem skoring rendah. Simpulan, sistem skoring masih dapat menjadi pendekatan diagnosis TB pada anak. OVERVIEW OF THE CHILDREN’S TUBERCULOSIS SCORING SYSTEM AT THE BHAYANGKARA HOSPITAL INDRAMAYU IN 2019Indonesia is one of the endemic countries for tuberculosis, with a high prevalence of pulmonary tuberculosis in children. Tuberculosis is a chronic disease caused by Mycobacterium tuberculosis. The density of population, low level of education, low hygiene and healthy lifestyle, and poor nutritional status are the cause of transmission of this disease, especially in children. Diagnosis of tuberculosis in children is quite hard due to the difficulty of taking sputum samples in children. For this reason, the Indonesian Pediatric Society uses a scoring system approach in diagnosing pulmonary TB in children. This study aims to determine the tuberculosis scoring system in outpatients at the Bhayangkara Hospital Indramayu in January–December 2019. This study used secondary data obtained from 69 medical records of pediatric TB patients regarding the scoring system parameters. The results showed that patients were diagnosed with TB in children with TB scoring ≥6 (74%) and TB scoring <6 (26%). These are presumed because most children diagnosed with TB have malnutrition. Immature immunity is also a risk factor for low-scoring system parameters. In conclusion, scoring can still be a diagnostic approach for TB in children.
Gambaran Keluhan Nyeri Muskuloskeletal pada Tenaga Kebersihan di Universitas Islam Bandung Tahun 2020 Agistha Novta Auliya; Uci Ary Lantika
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.861 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.318

Abstract

Abstract. Musculoskeletal pain is the most common complaint among workers around the world. Musculoskeletal pain can cause muscle damage due to several factors such as heavy load carrying, wrong position, in a long period, which can cause damage to muscles, joints, ligaments and tendons. This study aims to determine symptoms of musculoskeletal pain among cleaning services at Universitas Islam Bandung in 2020. This study was descriptive research which used the Nordic Body Map (NBM) questionnaire. The research was conducted from November-December 2021 with 40 respondents. The results showed that the level of pain among workers was no pain (75%), mild pain (17%), and moderate pain (8%). The regions of the body that most often complained were waist, back, right ankle, left and right calf. This is caused by awkward posture and lifting heavy weights for a long period. Complaints of musculoskeletal pain are also caused by working period, working duration, and individual factors such as age. As conclusion, most of the workers did not complain of musculoskeletal pain, but there are only a few workers who feel musculoskeletal pain in the back and waist area. Abstrak. Keluhan nyeri muskuloskeletal merupakan keluhan paling umum yang dialami pada pekerja di seluruh dunia. Nyeri muskuloskeletal dapat dipicu akibat otot yang menerima beban statis secara berulang, posisi yang salah, dan dalam waktu yang lama, sehingga dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada otot, sendi, ligamen dan tendon. Keluhan nyeri muskuloskeletal dapat timbul pada pekerja terutama tenaga kebersihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan nyeri muskuloskeletal pada tenaga kebersihan di Universitas Islam Bandung tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Penelitian dilakukan dari bulan November-Desember 2021 dengan jumlah responden sebanyak 40 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkatan nyeri yang dikeluhkan pekerja yaitu: tidak nyeri sebesar 75%, agak sakit (17%), dan sakit (8%) berdasarkan Nordic Body Map. Adapun area yang dikeluhkan nyeri adalah pinggang, punggung, pergelangan kaki kanan, betis kiri, dan betis kanan. Hal ini disebabkan oleh postur yang salah dan mengangkat beban berat dalam jangka waktu yang lama. Keluhan nyeri muskuloskeletal juga disebabkan oleh masa kerja, lama bekerja, dan faktor individu seperti usia. Simpulan, sebagian besar pekerja tidak mengeluhkan nyeri muskuloskeletal. Sebagian kecil pekerja yang mengeluhkan nyeri muskuloskeletal pada area punggung dan pinggang.
Hubungan antara Pemberian Remdesivir dan Durasi Rawat Inap Dibandingkan Favipiravir pada Pasien Covid-19 Alhilal Hamdi M.Nur; Heni Muflihah; Uci Ary Lantika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.755

Abstract

Abstarct. One of the pharmacological treatments for COVID-19 recommended by the World Health Organization (WHO) is remdesivir. Based on the Indonesian COVID-19 management manual, among the antivirals used are remdesivir and favipiravir. Remdesivir is indicated for severe patients, while favipiravir is indicated for moderate to severe patients. The selection of remdesivir or favipiravir based on clinical characteristics and benefits in COVID-19 patients in Indonesia has not been widely carried out. The benefits of pharmacological therapy in hospitalized COVID-19 patients can be seen, one of which is based on the duration of hospitalization. This study aimed to analyze the relationship between remdesivir use and duration of hospitalization compared to favipiravir in hospitalized COVID-19 patients. This study is a retrospective observational analytic study using medical record data. The subjects of this study were hospitalized COVID-19 patients at Al-Ihsan Hospital for the period December 2020 to March 2021. The data studied included clinical characteristics, oxygen saturation (SpO2), administration of remdesivir or favipiravir therapy, and duration of hospitalization. The subjects of this study were 102 people, consisting of 51 people in the remdesivir group and 51 people in the favipiravir group. Remdesivir is mostly given to patients aged > 50 years (72.5%) while favipiravir is mostly used in patients aged 18-50 years (53%). Severe grade patients (SpO2 <90%) had a median duration of hospitalization of 11 days, while non-severe patients (SpO2 >90%) had a median of 9 days. The remdesivir group had a median duration of hospital stay of 10 days while that of favipiravir was 11 days. Statistically there was no association between remdesivir administration and duration of hospitalization compared to favipiravir in COVID-19 patients (p-value = 0.2436). Remdesivir did not provide a clinical improvement in the duration of hospital stay when compared with favipiravir. Abstrak. Salah satu tatalaksana farmakologi COVID-19 yang dianjurkan World Health Organization (WHO) adalah remdesivir. Berdasarkan buku pedoman tatalaksana COVID-19 Indonesia, diantara antivirus yang digunakan adalah remdesivir dan favipiravir. Remdesivir diindikasikan untuk pasien derajat berat, sedangkan favipiravir untuk pasien derajat tidak berat sampai berat. Pemilihan jenis antivirus remdesivir atau favipiravir berdasarkan karakteristik klinis dan manfaatnya pada pasien COVID-19 di Indonesia belum banyak dilakukan. Manfaat terapi farmakologi pada pasien COVID-19 rawat inap dapat dilihat salah satunya berdasarkan durasi rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penggunaan remdesivir dan durasi rawat inap dibandingkan favipiravir pada pasien COVID-19 rawat inap. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional retrospective menggunakan data rekam medik. Subyek penelitian ini adalah pasien COVID-19 rawat inap di RSUD Al-Ihsan periode Desember 2020 sampai Maret 2021. Data yang diteliti meliputi karakteristik klinis, saturasi oksigen (SpO2), pemberian terapi remdesivir atau favipiravir, dan durasi rawat inap. Subyek penelitian ini berjumlah 102 orang yang terdiri dari 51 orang kelompok terapi remdesivir dan 51 orang kelompok favipiravir. Remdesivir banyak diberikan pada pasien berusia > 50tahun (72.5%) sedangkan favipiravir banyak digunakan pada usia 18-50 tahun (53%). Pasien derajat berat (SpO2 <90%) memiliki durasi rawat inap dengan median 11 hari sedangkan pasien derajat tidak berat (SpO2 >90%) memiliki median 9 hari. Kelompok terapi remdesivir memiliki median durasi rawat inap 10 hari sedangkan favipiravir 11 hari. Secara statistik tidak terdapat hubungan antara pemberian obat remdesivir dan durasi rawat inap dibandingkan favipiravir pada pasien COVID-19 (p-value = 0.2436). Remdesivir tidak memberikan perbaikan klinis durasi raawat inap jika dibandingkan dengan favipiravir.
Scoping Review: Efektivitas Pengonsumsian Probiotik terhadap Berat Badan pada Overweight dan Obesitas Dewasa Salsa Bila Yunisa Tri Utami; Uci Ary Lantika; Ami Rachmi
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.908

Abstract

Abstract. Obesity is a condition of excess fat accumulation due to an imbalance of energy intake and energy expenditure over a long period of time. According to the WHO, a person is diagnosed overweight if their Body Mass Index (BMI) 23-24,9 and obese if IMT ≥30. Probiotic consumption is one of management to encountered that condition. Probiotics have physiological function that contribute to food intake and appetite, weight loss, and metabolic function via gut microbiota. The purpose of this study was to determine the effectiveness of consuming probiotics on the body weight in adult obese conditions. This study was Scoping Review, by searching for articles from the PubMed, Springer Link, and Science Direct databases with keywords used probiotic and body weight and adult obesity randomized controlled trial ini the period 2019-2021. Articles that meet the inclusion criteria are 308 articles and those that are included in the exclusion criteria are 303 articles. From the results of the feasibility test based on on PICOS, 4 articles were obstained. The results of the analysis of 4 articles, there were 3 articles that state that the consumption of probiotics can lose body weight and more effectively if accompanied by a balanced diet and physical activity. In addition, there is 1 article that shows that the consumption of probiotic supplementation does not provide any difference between the intervention and control groups. As conclusion of this study is that the consumption of probiotics can lose body weight in overweight and obesity. However, this consumption must be accompanied by a balanced diet and physical activity. Abstrak. Obesitas adalah kondisi terjadinya penimbunan lemak berlebih akibat dari ketidakseimbangan asupan energi dan pengeluaran energi dalam jangka waktu yang panjang. Menurut WHO, seseorang dinyatakan overweight jika Indeks Massa Tubuh (IMT) 23-24,9 dan obesitas jika IMT ≥30. Untuk pemilihan makanan yang tepat dalam membantu menanggulangi kondisi overweight dan obesitas, salah satunya adalah pengkonsumsian probiotik. Probiotik memiliki salah satu fungsi fisiologis yang berkontribusi dalam kesehatan mikrobiota usus yang dapat mempengaruhi asupan makanan dan nafsu makan, berat badan serta fungsi metabolisme melalui jalur gastrointestinal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pengkonsumsian probiotik terhadap berat badan pada kondisi overweight dan obesitas dewasa. Penelitian ini merupakan Scoping Review, dengan mencari artikel dari database PubMed, Springer Link, dan Science Direct dengan keyword yang digunakan Probiotic AND body weight AND adult obesity randomized controlled trial dalam jangka waktu 2019-2021. Artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 308 artikel dan yang termasuk dalam kriteria eksklusi sebanyak 303 artikel. Hasil uji kelayakan berdasarkan PICOS sebanyak 4 artikel. Hasil analisis dari 4 artikel, terdapat 3 artikel yang menyatakan bahwa pengonsumsian probiotik dapat menurunkan berat badan dan lebih efektif jika dibarengi diet dan aktivitas fisik yang seimbang. Selain itu, terdapat 1 artikel yang menunjukan bahwa pengkonsumsian suplementasi probiotik tidak memberikan adanya perbedaan antara kelompok intervensi dan kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengonsumsian probiotik dapat menurunkan berat badan pada overweight dan obesitas. Namun demikian, pengkonsumsian ini harus dibarengi dengan diet dan aktivitas fisik yang seimbang.
Stres Mahasiswa Fakultas Kedokteran Selama Masa Pembelajaran Daring: Kajian Pustaka Mohammad Dannys Ares; Santun Bhekti Rahimah; Uci Ary Lantika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1794

Abstract

Abstract. The world is currently being hit by an outbreak of coronavirus disease or Covid-19. This causes almost all normal activities of society to change in all aspects of life. The rapid spread of the Covid-19 outbreak has forced every country to act quickly and appropriately to reduce the number of spreads. One of the efforts of the Indonesian government is to make changes to the online learning process policy for all levels of education. The high academic burden and demands coupled with this pandemic situation puts medical students at greater risk for physical and mental health problems. The learning process, tight schedule and coupled with a large task load and various obstacles encountered in the online learning process trigger stress so that it has the potential to cause other impacts that can affect health and academic performance. Abstrak. Dunia saat ini sedang dilanda wabah coronavirus disease (Covid-19) dan menyebabkan hampir seluruh aktivitas normal masyarakat berubah di seluruh aspek kehidupan. Penyebaran wabah Covid-19 yang sangat cepat menyebabkan setiap negara harus bertindak cepat dan tepat untuk menekan angka penyebaran. Salah satu upaya pemerintah Indonesia adalah membuat kebijakan perubahan proses pembelajaran yang dilakukan secara daring untuk seluruh tingkat pendidikan. Beban dan tuntutan akademik yang tinggi ditambah dengan situasi pandemi ini membuat mahasiswa kedokteran memiliki risiko yang lebih besar terhadap masalah kesehatan fisik dan mental. Proses pembelajaran, jadwal yang padat dan ditambah dengan beban tugas yang banyak serta berbagai kendala yang ditemui dalam proses pembelajaran daring ini memicu terjadinya stres sehingga berpotensi menimbulkan dampak lain yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kinerja akademis.
Scoping Review: Efektivitas Konsumsi Probiotik terhadap Kontrol Glukosa Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Suci Firda Fauziyah; Uci Ary Lantika,dr. M.Kes; Arief Guntara,dr. SpB
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2347

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by persistent hyperglycemia. Type 2 diabetes mellitus is caused by an imbalance between the amount of insulin and insulin receptor sensitivity. One of the treatments for this condition is a non-pharmacological approach. One of them is by consuming functional foods as an example of probiotics. Probiotics have many functions on human health, one of which is to inhibit glucose obstruction in intestinal epithelial cells. The purpose of this study was to determine the effectiveness of consuming probiotics on blood glucose control in type 2 DM patients. This research is a Scoping Review, by searching for articles from the PubMed database, Springer Link, Science Direct. Articles that meet the inclusion criteria are 197 articles and those that are included in the exclusion criteria are 194 articles. The results of the feasibility test based on PICOS were 4 articles. The results of the analysis of 4 articles, there are 3 articles which state that the consumption of probiotics in the form of supplements followed by physical activity and maintaining a dietary pattern can reduce blood glucose levels in type 2 DM patients. blood. The mechanism that causes a decrease in glucose is inhibiting the alpha glucosidase enzyme, producing SCFA metabolites so that GLP-1 is released and plays a role in reducing glucose absorption in the intestine. Conclusion giving probiotic consumption is effective in reducing blood glucose. Abstrak. Diabetes Mellitus (DM) adalah gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan hiperglikemia persisten. Diabetes mellitus tipe 2 diakibatkan karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah insulin dan sensitivitas reseptor insulin. Pada tatalaksana kondisi tersebut salah satunya dengan pendekatan nonfarmakologi. Salah satunya dengan mengkonsumsi makanan fungsional sebagai contoh probiotik. Probiotik memiliki banyak fungsi terhadap kesehatan manusia salah satunya berfungsi dalam menginhibisi obstruksi glukosa pada sel epitel usus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pengkonsumsian probiotik terhadap kontrol glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini merupakan Scoping Review, dengan mencari artikel dari database PubMed, Springer Link, Science Direct. Artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 197 artikel dan yang termasuk dalam kriteria eksklusi sebanyak 194 artikel. Hasil uji kelayakan berdasarkan PICOS sebanyak 4 artikel. Hasil analisis dari 4 artikel, terdapat 3 artikel yang menyatakan bahwa konsumsi probiotik dalam bentuk suplemen diikuti aktivitas fisik dan menjaga pola diet dapat menurunkan kadar glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Namun, satu artikel menunjukan bahwa pemberian yogurt probiotik tidak memiliki efektivitas terhadap penurunan glukosa darah. Adapun mekanisme yang menyebabkan penurunan glukosa adalah menghambat enzim alfa glukosidase, menghasilkan metabolit SCFA sehingga adanya pengeluaran GLP-1 dan berperan dalam menurunkan absorpsi glukosa di usus. Kesimpulan pemberian konsumsi probiotik dalam bentuk suplemen lebih efektif dibandingkan konsumsi probiotik yogurt pada penurunan glukosa darah.
Kajian Sediaan Orally Dissolving Film (ODF) Muhammad Sultan Ramadhan; Uci Ary Lantika
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1270

Abstract

Abstract. Oral route administration is the most common route and most widely known. However, this route is not always given beneficial. Some of the problems commonly encountered in this route are difficulty swallowing such hard tablets and capsules for patients who are at risk of choking on their use so the therapeutic effect is not optimal. Orally dissolving film (ODF) is a new invention that allows drugs to be used more comfortably than other oral solid preparations without the need for drinking water. In the oral cavity, there is vascularity that allows drugs to enter the systemic circulation without undergoing first-pass metabolism in the liver. ODF formulations consist of active pharmaceutical substances and excipients (film-forming polymers, plasticizers, saliva stimulants, sweeteners, flavoring agents). The ideal ODF preparation should be smooth, strong, and elastic but has a fast dissolving time. To ensure that ODF preparation is ideal, it is necessary to carry out evaluation tests including organoleptic, weight variety, film thickness, dissolution time, surface pH, folding endurance, tensile strength, percent elongation, drug content, transparency, and dissolution test. Abstrak. Rute pemberian oral merupakan rute paling umum dan paling banyak diketahui oleh masyarakat. Namun rute oral tidak selamanya memberikan keuntungan. Beberapa permasalahan yang umum ditemui pada rute ini yaitu kesulitan menelan seperti pada tablet dan kapsul keras bagi pasien yang berisiko tersedak pada penggunaanya sehingga efek terapi tidak optimal. Sediaan orally dissolving film (ODF) merupakan sebuah penemuan baru yang memungkinkan obat dapat digunakan secara nyaman dibandingkan sediaan solida oral lainnya tanpa memerlukan bantuan air minum. Dalam rongga mulut terdapat vaskularisasi yang membuat sebagian besar obat akan memasuki sirkulasi sistemik tanpa mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Formulasi sediaan ODF terdiri atas zat aktif farmasi dan eksipien (polimer pembentuk film, plastisizer, penstimulasi saliva, pemanis, flavouring agent). Sediaan ODF yang ideal harus bersifat halus, kuat, elastis, namun memiliki waktu melarut cepat. Untuk memastikan sediaan ODF yang dihasilkan ideal perlu dilakukan uji evaluasi meliputi organoleptis, keragaman bobot, ketebalan film, waktu larut, pH sediaan, ketahanan lipat, kekuatan tarik, persen pemanjangan, penetapan kadar, transparansi, dan uji disolusi.