Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Hubungan Aktivitas Fisik dengan Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019 Faizal Riza Nugraha; Eva Rianti Indrasari; Uci Ary Lantika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6185

Abstract

Abstract. Sedentary lifestyle is an important cause of excess body weight and has implications for body mass index and waist circumference which can lead to an increase in the incidence of non-communicable diseases. This study aims to determine the relationship between physical activity and body mass index and waist circumference. This study used a cross-sectional method, data were obtained from self administered questionnaire of the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) and Google Form of anthropometric measurements in the form of body mass index and waist circumference From Bandung Islamic University Medical Faculty students population. Participants were obtained based on consecutive sampling method, and the data were processed using the Kolmogorov Smirnov test. Participants of the study was students from year 1 to year 3? Consist of 130 respondents. The results showed there was a significant relationship between physical activity and body mass index (p-value <0.05), and the relationship between physical activity and waist circumference (p-value <0.01). Physical activity can affect changes in body mass index and waist circumference so that an increase in physical activity makes it possible to prevent an increase in body mass index and waist circumference thereby reducing the risk factors for non-communicable diseases such as diabetes mellitus, stroke, chronic kidney disease and cardiovascular disease so that it is recommended for students to increase physical activity. Keywords: Physical Activity, Body Mass Index, Waist Circumference. Abstrak. Perilaku hidup sedentary merupakan penyebab penting terjadinya berat badan berlebih dan berimplikasi terhadap indeks massa tubuh dan lingkar pinggang yang dapat mengakibatkan peningkatan angka kejadian penyakit tidak menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional, data diperoleh dari pengisian Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) dan pengukuran antropometri berupa indeks massa tubuh dan lingkar pinggang pada populasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019 yang diperoleh berdasarkan consecutive sampling, data diolah menggunakan uji Kolmogorov smirnov. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari seluruh responden (130 orang) terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh (p-value <0,05), dan hubungan aktivitas fisik dengan lingkar pinggang (p-value <0,01). Aktivitas fisik dapat mempengaruhi perubahan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang sehingga peningkatan aktivitas fisik memungkinkan untuk mencegah peningkatan dari indeks massa tubuh dan lingkar pinggang sehingga menurunkan faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular seperti diabetes militus, stroke, penyakit ginjal kronis, dan penyakit kadiovaskular sehingga disarankan mahasiswa untuk meningkatkan aktivitas fisik. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Indeks Massa Tubuh, Lingkar Pinggang.
Karakteristik Nyeri dan Penggunaan Alat Bantu Jalan Pada Pasien Osterartritis Genu Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar Zahra Shafa Qamilla; Samsudin Surialaga; Uci Ary Lantika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5614

Abstract

Abstract. Osteoarthritis (OA) is a degenerative joint disease that results in joint cartilage degradation. According to the World Health Organization (WHO), OA will affect 40% of the older population. West Java (8.86%) is one of the provinces in Indonesia with the highest prevalence of joint disease. Both pharmacological and non-pharmacological OA treatment methods have a variety of possibilities. One non-pharmacological treatment option for OA is the use of a walker. In this study, patients with genu osteoarthritis at the Medical Rehabilitation Unit of the Regional General Hospital (RSUD) in Banjar City will have their pain characteristics and walker usage examined. In this study, a cross sectional methodology is combined with a descriptive methodology. Random sampling is the sampling strategy. 222 participants' medical records from the Medical Rehabilitation Installation of RSUD in Banjar City were used to create the samples. According to the study's findings, patients over the age of 60 make up more than half (55%) of those with osteoarthritis who were given a diagnosis at the RSUD in Banjar City between January 2019 and January 2022. There were 211 patients overall, and 95 percent of them were female. 95 percent of the patients, or 211 people, did not need a cane or walker. Most BMI patients had excess weight of up to 111 (50%). Most of the people (80%) reported moderate pain on the VAS scale. Each patient may have different age, gender, BMI, use of walkers, and pain features. Most individuals just have minimal pain and don't need a walker. Keywords: Characteristics, Osteoarthritis, Pain, Walker Abstrak. Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang melibatkan kerusakan tulang rawan sendi. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 40% dari populasi lansia akan menderita OA. Salah satu provinsi dengan prevalensi penyakit sendi terbanyak di Indonesia adalah Jawa Barat (8,86%). Terdapat berbagai pilihan modalitas pengobatan OA, baik farmakologis maupun nonfarmakologis. Penggunaan alat bantu menjadi salah satu pilihan terapi non farmakologis OA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik nyeri dan penggunaan alat bantu jalan pada pasien osteoartritis genu di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Banjar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah random sampling. Jumlah sampel sebanyak 222 subjek menggunakan data rekam medis di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Kota Banjar. Hasil penelitian ini menunjukan lebih dari setengah pasien (55%) yang mengalami osteoartritis genu di RSUD Kota Banjar Periode Januari 2019 hingga Januari 2022 adalah kelompok usia lebih dari 60 tahun. Secara umum, pasien berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 211 pasien (95%). Hampir seluruh pasien (95%) atau 211 orang tidak menggunakan tongkat atau alat bantu jalan. Mayoritas IMT pasien adalah overweight sebanyak 111 (50%). Sebagian besar (80%) subjek mengalami nyeri dengan skala VAS sedang. Karakteristik yang ditinjau dari usia, jenis kelamin, IMT, penggunaan alat bantu jalan, dan nyeri dapat bervariasi pada setiap pasien. Mayoritas pasien tidak menggunakan alat bantu jalan dan mengalami nyeri sedang. Kata Kunci: Alat bantu jalan, Karakteristik, Nyeri, Osteoartritis
Hubungan Tingkat Stress dan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Tahap Akademik Universitas Islam Bandung Rayna Farizkia Dinda; Arief Budi Yulianti; Uci Ary Lantika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6888

Abstract

Abstract. Medical students undergo a difficult and stressful period of education. Not infrequently stress becomes a problem that is often experienced by medical students. Stess can trigger sleep disorders. The source of student stress is caused by several factors such as complicated academic requirements, the many types of exams faced, the frequency of frequent assignments and exams, a competitive environment and a busy lecture schedule. Medical students who experience prolonged stress can interfere with student academic achievement. The purpose of this study is to explain the relationship between stress levels and sleep quality of students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung with a cross sectional study. The sample in this study was 86 students from the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University which was divided into three batches. Sampling is carried out by using probability stratified random sampling techniques. The data collection technique is carried out with a questionnaire in the form of a google form. This study showed that there was a relationship between stress levels and student sleep quality with a p-0.005 score. Most of the medical students of Universitas Islam Bandung are in the category of moderate stress level. Abstrak. Mahasiswa kedokteran menjalani masa pendidikan yang sulit dan penuh dengan tekanan. Tidak jarang stress menjadi masalah yang sering dialami oleh mahasiswa kedokteran. Stess dapat memicu gangguan tidur. Sumber stress mahasiswa disebabkan oleh beberapa faktor seperti persyaratan akademik yang rumit, banyaknya jenis ujian yang dihadapi, frekuensi tugas dan ujian yang sering, lingkungan yang kompetitif dan jadwal perkuliahan yang padat. Mahasiswa kedokteran yang mengalami stress berkepanjangan dapat menggangu pencapaian akademik mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara tingkat stress dan kualitas tidur mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 86 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung yang terbagi dalam tiga angkatan. Pengambilan sampel dilakukan dengan dengan menggutakan teknik probability stratified random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dalam bentuk google form. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan tingkat stress dengan kualitas tidur mahasiswa dengan nilai p-0,005. Sebagian besar mahasiswa kedokteran Universitas Islam Bandung berada di kategori tingkat stress sedang (moderate).
Scoping Review: Suplementasi Probiotik Efektif Menurunkan Kadar IL-6 pada Obesitas Dewasa Pipit Anggana Dewi; Uci Ary Lantika; Ajeng Kartika Sari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6530

Abstract

Abstract. Obesity is ranked fifth as a primary health problem in the world. Obesity is abnormal fat accumulation caused by a long-term imbalance between energy intake and energy use. This energy imbalance causes excess adipose accumulation. Adipose tissue functions to produce cytokines such as IL-6. Increased cytokine production creates a chronic proinflammatory state. Obesity management can be carried out with multimodal lifestyle interventions such as changes in diet, including controlled food portions and healthy foods such as probiotics. Probiotics have a mechanism of action, namely immunomodulation, so that they can reduce the production of cytokines such as IL-6. The purpose of this study was to analyze whether probiotic supplementation is effective in reducing IL-6 levels in obese adult patients. This research uses a scoping review study to identify, analyze, and evaluate scientific writing through Pubmed, ScienceDirect, and SpringerLink data sources that meet the inclusion, exclusion, and eligibility criteria using the JBI Critical Appraisal Checklist summarized in the PRISMA diagram. 4,309 articles were produced from the three data sources, 526 articles met the inclusion criteria, and 5 articles met the exclusion and eligibility criteria. The results of three articles stated that probiotic supplementation was effective for reducing IL-6 levels in adults with obesity, while two articles stated that there were no significant changes. Two articles stated that there was no significant change in IL-6 levels were studies using synbiotics, which consisted of prebiotics and probiotics, while three other research articles using only probiotics stated that there was a decrease in IL-6 levels. Abstrak. Obesitas menduduki peringkat kelima sebagai masalah kesehatan primer di dunia. Obesitas diartikan akumulasi lemak abnormal disebabkan oleh ketidakseimbangan jangka panjang antara asupan energi dan penggunaan energi. Ketidaksimbangan energi tersebut menimbulkan akumulasi adiposa berlebih. Jaringan adiposa berfungsi menghasilkan sitokin seperti IL-6. Peningkatan produksi sitokin menimbulkan keadaan proinflamasi kronis. Manajemen obesitas dapat dilakukan dengan multimodal lifestyle intervention seperti perubahan pola makan termasuk porsi makanan terkontrol serta makanan sehat seperti probiotik. Probiotik memiliki mekanisme aksi yaitu imunomodulasi sehingga dapat menurunkan produksi sitokin seperti IL-6. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis apakah suplementasi probiotik efektif menurunkan kadar IL-6 pada pasien obesitas dewasa. Penelitian menggunakan studi scoping review untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi tulisan ilmiah melalui sumber data Pubmed, ScienceDirect, dan SpringerLink yang memenuhi kriteria inklusi, ekslusi dan kelayakan menggunakan JBI Critical Apprasial Checklist dirangkum dalam diagram PRISMA. Dihasilkan 4.309 artikel dari ketiga sumber data, 526 artikel memenuhi kriteria inklusi dan 5 artikel memenuhi kriteria ekslusi dan kelayakan. Hasil dari 3 artikel menyatakan suplementasi probiotik efektif untuk menurunkan kadar IL-6 pada orang dewasa dengan obesitas, sedangkan 2 artikel menyatakan tidak ada perubahan yang signifikan. Dua artikel yang menyebutkan tidak ada perubahan signifikan kadar IL-6 merupakan penelitian menggunakan sinbiotik yaitu terdiri dari prebiotik dan probiotik sedangkan 3 artikel penelitian lainnya hanya menggunakan probiotik menyebutkan terdapat penurunan kadar IL-6.
FORMULASI DAN KARAKTERISASI SEDIAAN ORALLY DISSOLVING FILM TAMSULOSIN HIDROKLORIDA Fitrianti Darusman; Muhammad Sultan Ramadhan; Uci Ary Lantika
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10717

Abstract

Orally dissolving film (ODF) merupakan sediaan film tipis yang cepat larut dalam mulut tanpa bantuan air minum, sehingga onset obat menjadi lebih cepat dan meningkatkan kenyamanan pasien. Polimer hidroksi propil metil selulosa (HPMC) dan maltodekstrin merupakan jenis polimer yang banyak dikombinasikan dalam sediaan ODF karena menghasilkan karakteristik film yang baik. Tamsulosin HCl digunakan sebagai model obat karena memiliki dosis kecil, rasa pahit, dan kelarutannya rendah dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik dari sediaan ODF menggunakan kombinasi polimer HPMC dan maltodekstrin sebagai film forming agent serta mengetahui karakteristik sediaan ODF yang mengandung tamsulosin HCl. Optimasi formula dilakukan dengan memvariasikan polimer HPMC dan maltodekstrin menjadi 6 formula. Hasil optimasi, polimer HPMC dan maltodekstrin dengan perbandingan 5 : 2 merupakan formula basis film yang paling baik secara organoleptis dan memiliki waktu melarut yang relatif cepat sehingga dipilih untuk formulasi sediaan ODF tamsulosin HCl. Sediaan ODF tamsulosin HCl terbagi menjadi 3 formula masing-masing mengandung krospovidon 2% (F3A), 3% (F3B), dan 4% (F3C) yang dibuat menggunakan metode tuang pelarut. Dari ketiga formula, F3B merupakan formula terbaik dengan tekstur halus, elastis, kuat, transparan, homogen; bobot 52,06 ± 0,2329 mg; ketebalan 0,152 ± 0,0067 mm; pH sediaan 6,6 ± 0,019; ketahanan lipat 523 ± 0,247 kali; kekuatan tarik 8,51 ± 0,003 N/mm2; persen kemuluran 23,33 ± 0,017%; penetapan kadar 99,13 ± 0,5717 %; dan waktu melarut paling cepat yaitu 33,57 ± 1,6502 detik.
Kajian Sediaan Orally Dissolving Film (ODF) Muhammad Sultan Ramadhan; Uci Ary Lantika
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1270

Abstract

Abstract. Oral route administration is the most common route and most widely known. However, this route is not always given beneficial. Some of the problems commonly encountered in this route are difficulty swallowing such hard tablets and capsules for patients who are at risk of choking on their use so the therapeutic effect is not optimal. Orally dissolving film (ODF) is a new invention that allows drugs to be used more comfortably than other oral solid preparations without the need for drinking water. In the oral cavity, there is vascularity that allows drugs to enter the systemic circulation without undergoing first-pass metabolism in the liver. ODF formulations consist of active pharmaceutical substances and excipients (film-forming polymers, plasticizers, saliva stimulants, sweeteners, flavoring agents). The ideal ODF preparation should be smooth, strong, and elastic but has a fast dissolving time. To ensure that ODF preparation is ideal, it is necessary to carry out evaluation tests including organoleptic, weight variety, film thickness, dissolution time, surface pH, folding endurance, tensile strength, percent elongation, drug content, transparency, and dissolution test. Abstrak. Rute pemberian oral merupakan rute paling umum dan paling banyak diketahui oleh masyarakat. Namun rute oral tidak selamanya memberikan keuntungan. Beberapa permasalahan yang umum ditemui pada rute ini yaitu kesulitan menelan seperti pada tablet dan kapsul keras bagi pasien yang berisiko tersedak pada penggunaanya sehingga efek terapi tidak optimal. Sediaan orally dissolving film (ODF) merupakan sebuah penemuan baru yang memungkinkan obat dapat digunakan secara nyaman dibandingkan sediaan solida oral lainnya tanpa memerlukan bantuan air minum. Dalam rongga mulut terdapat vaskularisasi yang membuat sebagian besar obat akan memasuki sirkulasi sistemik tanpa mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Formulasi sediaan ODF terdiri atas zat aktif farmasi dan eksipien (polimer pembentuk film, plastisizer, penstimulasi saliva, pemanis, flavouring agent). Sediaan ODF yang ideal harus bersifat halus, kuat, elastis, namun memiliki waktu melarut cepat. Untuk memastikan sediaan ODF yang dihasilkan ideal perlu dilakukan uji evaluasi meliputi organoleptis, keragaman bobot, ketebalan film, waktu larut, pH sediaan, ketahanan lipat, kekuatan tarik, persen pemanjangan, penetapan kadar, transparansi, dan uji disolusi.
Soyghurt Supernatant on Mouse Embryonic Fibroblast (MEF) Cell Lantika, Uci Ary; Khairani, Astrid Feinisa
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.215 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.3245

Abstract

Yogurt is a functional food developed with various modifications in the fermentation process. Replacing animal milk into soymilk as raw material is one approach. Yogurt has a good effect on human health. Probiotic and bioactive compounds in yogurt can inhibit cell proliferation and stimulate apoptosis on the cancer cell line. However, there is no report about the effect of yogurt on a normal cell. This research was conducted to examine the impact of soyghurt supernatant intervention toward the viability of mouse embryonic fibroblast (MEF) cell. The is an in vitro study using MEF cell isolated from 10th days gestational age mice embryo conducted at Microbiology Laboratorium and Cell Culture and Cytogenetic Laboratory, Universitas Padjadjaran, Bandung in November 2018–January 2019. Soyghurt made from soymilk fermented by Lactobacillus bulgaricus ATCC 11842. The number of the bacterial colony calculated by total plate count (TPC) method and pH calculated by pH meter. Soyghurt supernatant was made from soyghurt and then intervened into MEF cells by 1–20% concentration. The cell viability showed in the 50% inhibitory concentration (IC50) analysis. The intervention of soyghurt supernatant at 1–20% concentration showed there was no proliferation inhibition until 50% population (IC50). However, from the morphology analysis, there was MEF cell morphology alteration on the group given soyghurt supernatant with >12.5% concentration. Counter mechanism effect from soymilk fermentation by probiotic could be the driver for this result. In conclusion, soyghurt supernatant intervention at 1–20% concentration did not have a cytotoxic effect on MEF cell, but enhancement of soyghurt supernatant concentration can increase cytotoxic potential. SUPERNATAN SOYGHURT PADA SEL MOUSE EMBRYONIC FIBROBLAST (MEF)Yoghurt merupakan functional food yang dikembangkan dengan berbagai modifikasi dalam proses pembuatannya. Mengganti susu hewan dengan susu kedelai sebagai bahan baku adalah salah satunya. Yoghurt memiliki efek yang baik bagi kesehatan manusia. Senyawa probiotik dan bioaktif pada yoghurt dapat menginhibisi proliferasi sel dan menstimulasi apoptosis pada sel lini kanker. Akan tetapi, tidak terdapat laporan mengenai efek yoghurt pada sel normal. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh intervensi supernatan soyghurt terhadap viabilitas sel mouse embryonic fibroblast (MEF). Ini adalah penelitian in vitro menggunakan sel MEF yang diisolasi dari embrio tikus hari ke-10 usia kebuntingan yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Kultur Sel dan Sitogenetika, Universitas Padjadjaran, Bandung pada November 2018–Januari 2019. Soyghurt dibuat dari susu kedelai yang difermentasi oleh Lactobacillus bulgaricus ATCC 11842. Jumlah koloni bakteri dihitung dengan metode total plate count (TPC) dan pH diukur dengan pH meter. Supernatan soyghurt dibuat dari soyghurt dan kemudian diintervensi ke dalam sel MEF dengan konsentrasi 1–20%. Viabilitas sel ditunjukkan dalam analisis penghambatan 50% (IC50). Pemberian supernatan soyghurt konsentrasi 1–20% menunjukkan tidak terdapat inhibisi proliferasi 50% (IC50). Namun, dari analisis morfologi, terdapat perubahan morfologi sel MEF pada kelompok yang diberi supernatan soyghurt dengan konsentrasi >12,5%. Efek mekanisme yang saling meniadakan dari fermentasi susu kedelai dengan probiotik diduga menjadi mekanisme hasil dari penelitian ini. Simpulan, intervensi supernatan soyghurt pada konsentrasi 1–20% tidak memiliki efek sitotoksik pada sel MEF, namun peningkatan konsentrasi supernatan soyghurt dapat meningkatkan potensi sitotoksik.