Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kondisi Kerusakan Jalan Menggunakan Metode SDI Dan Bina Marga: Studi Kasus: Jalan Lumi - Lara Kecamatan Ponrang Fitra Bayu Dinata; Sudirman Sudirman; Indrajaya Indrajaya
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kerusakan jalan pada ruas Jalan Lumi–Lara, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu dengan menggunakan dua metode, yaitu Surface Distress Index (SDI) dan Metode Bina Marga. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dengan metode survei lapangan sepanjang 2 kilo meter yang dibagi menjadi 20 segmen. Data yang dikumpulkan meliputi jenis, luas, dan tingkat kerusakan jalan seperti lubang, retak kulit buaya, retak memanjang, alur roda, dan amblas.Hasil analisis menggunakan metode Bina Marga menunjukkan bahwa nilai rata-rata kondisi jalan sebesar 8,95 dengan nilai urutan prioritas >7, sehingga dikategorikan dalam program pemeliharaan rutin. Sedangkan hasil penilaian dengan metode SDI Didapatkan dari segmen 1 sampai 20 sebesar 14,25 yang berada pada kondisi baik <50. menunjukkan bahwa sebagian besar segmen jalan mengalami kerusakan pada tingkat ringan hingga sedang, terutama pada jenis kerusakan retak kulit buaya dan lubang. Berdasarkan hasil kedua metode, dapat disimpulkan bahwa kondisi umum ruas Jalan Lumi–Lara termasuk dalam kategori sedang, sehingga tindakan penanganan yang direkomendasikan adalah pemeliharaan rutin guna menjaga umur layanan dan kualitas perkerasan jalan This study aims to analyze the road damage conditions on the Lumi–Lara Road segment, Ponrang Sub-district, Luwu Regency using two methods, namely the Surface Distress Index (SDI) and the Bina Marga Method. This research was conducted quantitatively using a field survey method over a 2-kilometer stretch divided into 20 segments. The data collected includes the type, area, and severity of road damage such as potholes, alligator cracks, longitudinal cracks, wheel ruts, and depressions. The analysis results using the Bina Marga method show that the average road condition value is 8.95 with a priority sequence value >7, thus categorized under routine maintenance programs. Meanwhile, the assessment results using the SDI method obtained From segments 1 to 20, with a value of 14.25 which is in good condition (<50), it shows that most road segments experience damage at a light to moderate level, particularly in the form of crocodile cracking and potholes. Based on the results of both methods, it can be concluded that the general condition of the Lumi–Lara Road section falls into the moderate category, so the recommended action is routine maintenance to preserve the service life and pavement quality of the road.
Analisis Kehilangan Air Irigasi Saluran Sekunder Battang Desa Baramamase Kecamatan Walenrang Kabupaten Luwu Randi Randi; Syaifullah Syaifullah; Muarif Muarif; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9851

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas dan besarnya kehilangan air pada Saluran Sekunder Battang di Desa Baramamase, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu. Kehilangan air pada saluran irigasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efisiensi penyaluran air ke lahan pertanian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik pengukuran langsung di lapangan menggunakan alat current meter untuk menentukan kecepatan aliran, serta pengukuran dimensi saluran guna menghitung luas penampang basah. Debit air dihitung menggunakan rumus Q=A×VQ = A \times VQ=A×V, sedangkan kehilangan air dianalisis menggunakan metode inflow-outflow dengan menghitung selisih antara debit masuk dan debit keluar pada setiap segmen saluran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas total saluran sekunder Battang sepanjang 1 km adalah sebesar 50,016 m³. Berdasarkan hasil pengukuran, kehilangan air pada segmen STA 0–450 sebesar 37% dan pada segmen STA 500–1000 sebesar 6%, sehingga total kehilangan air mencapai 43%. Besarnya kehilangan air tersebut disebabkan oleh rembesan, kebocoran saluran, kondisi fisik saluran yang kurang terawat, serta pengambilan air secara tidak terkontrol oleh masyarakat sekitar. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa efisiensi penyaluran air pada Saluran Sekunder Battang masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan perbaikan fisik saluran, pemeliharaan rutin, serta pengawasan distribusi air secara berkala guna mengurangi tingkat kehilangan air. This study aims to analyze the capacity and extent of water loss in the Battang Secondary Canal in Baramamase Village, Walenrang District, Luwu Regency. Water loss in irrigation canals is one of the factors affecting the efficiency of water distribution to agricultural land. The research method used is a quantitative method with direct field measurements using a current meter to determine flow velocity, and channel dimensions to calculate the wet cross-sectional area. Water discharge was calculated using the formula Q=A×VQ = A \times VQ=A×V, while water loss was analyzed using the inflow-outflow method by calculating the difference between the inlet and outlet discharge in each channel segment. The results showed that the total capacity of the 1 km Battang secondary channel was 50,016 m³. Based on the measurement results, water loss in the STA 0–450 segment was 37% and in the STA 500–1000 segment was 6%, so the total water loss reached 43%. The significant water loss is caused by seepage, leaks, poorly maintained physical conditions, and uncontrolled water extraction by the surrounding community. This study concludes that water distribution efficiency in the Battang Secondary Canal still needs to be improved. Therefore, it is recommended that the canal's physical repairs, routine maintenance, and regular monitoring of water distribution be carried out to reduce water loss.
Pengaruh Penambahan Abu Kerang Erosa Sebagai Bahan Tambah Terhadap Sifat Kuat Tekan Mortar Silfia Nurul Putry; Sudirman Sudirman; Michail Amin
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9858

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan abu kerang erosa sebagai bahan tambah terhadap kuat tekan mortar. Variasi penambahan abu kerang erosa dilakukan sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10% dari berat semen sesuai standar SNI 03-6825-2002. Benda uji berbentuk kubus berukuran 5×5×5 cm diuji kuat tekannya pada umur 7 dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan abu kerang erosa berpengaruh terhadap penurunan kuat tekan mortar. Nilai kuat tekan tertinggi pada umur 7 hari diperoleh pada campuran 0% sebesar 252,02 kg/cm² dan menurun berturut-turut hingga 201,61 kg/cm² pada penambahan 10%. Pola serupa terjadi pada umur 28 hari, di mana kuat tekan tertinggi juga terdapat pada 0% sebesar 262,10 kg/cm² dan menurun hingga 204,76 kg/cm² pada 10%. Meskipun kuat tekan meningkat dari umur 7 hari ke 28 hari, peningkatan tersebut tidak mampu mengimbangi penurunan akibat penambahan abu kerang berlebih. Berdasarkan klasifikasi SNI 03-6882-2002, campuran 0%, 2,5%, 5%, dan 7,5% tergolong mortar tipe M, sedangkan 10% termasuk tipe S. Dengan demikian, abu kerang erosa masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi sebagian semen, namun penggunaannya perlu dibatasi agar tidak menurunkan kekuatan mortar secara signifikan. This study aims to determine the effect of using erosa shell ash as an additive on the compressive strength of mortar. Variations in the addition of erosa shell ash were carried out at 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, and 10% of the weight of cement according to the SNI 03-6825-2002 standard. Cube-shaped test specimens measuring 5×5×5 cm were tested for their compressive strength at the age of 7 and 28 days. The results showed that the addition of erosa shell ash had an effect on reducing the compressive strength of the mortar. The highest compressive strength value at the age of 7 days was obtained at a mixture of 0% at 252.02 kg/cm² and decreased successively to 201.61 kg/cm² at an addition of 10%. A similar pattern occurred at the age of 28 days, where the highest compressive strength was also found at 0% at 262.10 kg/cm² and decreased to 204.76 kg/cm² at 10%. Although the compressive strength increased from 7 days to 28 days, the increase was not able to compensate for the decrease due to the addition of excessive shell ash. Based on the SNI 03-6882-2002 classification, a mixture of 0%, 2.5%, 5%, and 7.5% is classified as type M mortar, while 10% is included in type S. Thus, erosa shell ash can still be used as a partial cement substitute, but its use needs to be limited so as not to reduce the mortar strength significantly.