Bunga Cita Lestari
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIVITAS EDUKASI KESEHATAN MENTAL TERHADAP PENURUNAN RISIKO GANGGUAN STRES PASCATRAUMA PADA PENYINTAS BENCANA YANG TINGGAL DI WILAYAH PASIR PUTIH KOTA PADANG Anisa Febristi; Sari Setiarini; Cyintia Permata Ayu; Bunga Cita Lestari
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 8, No 2 (2025): November 2025
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v8i2.31075

Abstract

Bencana Alam tidak hanya menimbulkan kerugian fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mentalpenyintas, salah satunya berupa gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD).Edukasi kesehatan mental merupakan salah satu intervensi yang dapat meningkatkan pengetahuan,kemampuan koping, dan membantu menurunkan gejala PTSD pada penyintas pascabencana.Tujuan:Menganalisis efektivitas edukasi kesehatan mental terhadap penurunan risiko gangguan stres pascatraumapada penyintas pascabencana galodo.Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimentaldengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 40 responden yang dipilihmenggunakan teknik total sampling. Tingkat gejala PTSD diukur sebelum dan sesudah pemberian edukasikesehatan mental menggunakan kuesioner PTSD yang telah tervalidasi. Edukasi meliputi pengenalanPTSD, reaksi psikologis pascabencana, teknik relaksasi napas dalam, teknik grounding, pentingnyadukungan keluarga, serta informasi mengenai akses layanan kesehatan jiwa. Analisis data dilakukanmenggunakan Paired t-test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05.Hasil: Sebelum intervensi, sebagian besarresponden mengalami gejala PTSD kategori sedang–berat sebanyak 32 responden (80,0%), sedangkan 8responden (20,0%) berada pada kategori ringan. Setelah edukasi kesehatan mental, proporsi respondendengan gejala PTSD kategori sedang–berat menurun menjadi 10 responden (25,0%), sementara 30responden (75,0%) berada pada kategori ringan.. Hasil uji Paired t-test menunjukkan nilai p < 0,001, yangberarti terdapat penurunan gejala PTSD yang bermakna setelah pemberian edukasi kesehatanmental.Kesimpulan: Edukasi kesehatan mental efektif menurunkan tingkat gejala PTSD pada penyintaspascabencana galodo. Intervensi ini dapat dijadikan salah satu strategi promotif dan preventif dalampelayanan keperawatan komunitas serta program penanggulangan bencana untuk mempercepat pemulihanpsikologis penyintas.Kata kunci: Edukasi kesehatan mental, Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD, penyintas bencana.
PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KESIAPAN PERAWAT PUSKESMAS DALAM PENANGANAN KEGAWATDARURATAN BENCANA DI WILAYAH SUMATERA BARAT Sari Setiarini; Nurhamidah Rahman; Cyintia Permata Ayu; Bunga Cita Lestari
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 7, No 2 (2024): November 2024
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v7i2.31079

Abstract

Sumatera Barat merupakan wilayah dengan risiko multi-bencana tinggi akibat zona subduksi megathrust Mentawai–Siberut yang berpotensi menimbulkan gempa bermagnitudo hingga 8,9 dan tsunami setinggi lebih dari tiga meter di wilayah pesisir. Perawat Puskesmas memiliki peran strategis sebagai responder awal sebelum bantuan dari rumah sakit rujukan tiba, namun sintesis literatur yang komprehensif mengenai pengetahuan, sikap, dan kesiapan mereka pada konteks layanan kesehatan primer di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Mensintesis bukti ilmiah mengenai pengetahuan, sikap, dan kesiapan perawat dalam penanganan kegawatdaruratan bencana, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta relevansinya terhadap konteks Puskesmas Belimbing dan wilayah Sumatera Barat. Metode: Penelitian ini merupakan Systematic Literature Review yang mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, ProQuest, Google Scholar, dan Garuda menggunakan kombinasi kata kunci Boolean: (“nurses”) AND (“disaster preparedness”) AND (“knowledge”) AND (“attitude”) AND (“emergency response”) AND (“primary health care”) AND (“Indonesia”). Artikel disaring berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi dan dinilai kualitas metodologisnya menggunakan pendekatan Joanna Briggs Institute (JBI), kemudian disintesis secara naratif. Hasil: Sebanyak 18 artikel (13 studi primer dan 5 artikel tinjauan) memenuhi kriteria inklusi. Tingkat pengetahuan perawat bervariasi (kategori baik berkisar 48–69%), sikap cenderung lebih positif dibanding pengetahuan dan praktik, serta kesiapan secara konsisten berhubungan dengan riwayat pelatihan dan pengalaman menghadapi bencana sebelumnya. Studi di Kota Padang menunjukkan kesiapsiagaan perawat Puskesmas tergolong cukup baik secara agregat, namun literatur spesifik pada level Puskesmas Belimbing belum ditemukan. Kesimpulan: Pengetahuan dan pelatihan merupakan prediktor konsisten kesiapan perawat, sementara sikap positif belum tentu diikuti kesiapan praktis yang memadai. Kesenjangan riset pada level Puskesmas spesifik di zona risiko megathrust Sumatera Barat membuka peluang penelitian primer lanjutan, khususnya di Puskesmas Belimbing.Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, Kesiapan, Perawat, Bencana.