Histological staining plays an essential role in enhancing the visualization of cellular and tissue structures. Hematoxylin, the nuclear stain used in the Hematoxylin–Eosin (HE) method, has several limitations, including relatively high cost and limited storage stability, necessitating the development of more economical alternatives such as methylene blue. This laboratory experimental study aimed to evaluate the use of methylene blue as a substitute for hematoxylin in mouse liver histological sections. The control group was stained using the Hematoxylin–Eosin method, while the treatment groups received methylene blue at concentrations of 10%, 11%, and 13%. Slide quality was evaluated microscopically using a scoring method based on nuclear clarity, cytoplasmic appearance, and color uniformity, followed by Kruskal–Wallis and Mann–Whitney analyses. The control group produced 100% good-quality slides. The 10% methylene blue group yielded 16.7% good and 83.3% fairly good slides. The 11% concentration produced 83.3% fairly good and 16.7% poor slides, whereas the 13% concentration resulted in 66.6% fairly good and 33.3% poor slides. The Kruskal–Wallis test revealed a significant difference among the groups (p=0.000; p<0.05). These findings indicate that methylene blue, particularly at a concentration of 10%, has potential as an alternative nuclear stain to hematoxylin because it produced the best staining quality among the treatment groups. ABSTRAK Pewarnaan sediaan histologi berperan penting dalam memperjelas struktur sel dan jaringan. Hematoksilin sebagai pewarna inti pada metode Hematoksilin-Eosin (HE) memiliki keterbatasan, antara lain harga yang relatif mahal dan stabilitas penyimpanan yang kurang baik, sehingga diperlukan alternatif pewarna yang lebih ekonomis, seperti methylene blue. Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan methylene blue sebagai pengganti hematoksilin pada sediaan histologi jaringan hati mencit. Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan kelompok kontrol pewarnaan Hematoksilin-Eosin dan kelompok perlakuan methylene blue konsentrasi 10%, 11%, dan 13%. Kualitas preparat dinilai secara mikroskopis menggunakan metode skoring berdasarkan kejelasan inti sel, sitoplasma, dan keseragaman warna, kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan Mann–Whitney. Hasil menunjukkan kelompok kontrol menghasilkan 100% preparat berkategori baik. Pada methylene blue 10% diperoleh 16,7% preparat berkategori baik dan 83,3% cukup baik, konsentrasi 11% menghasilkan 83,3% cukup baik dan 16,7% tidak baik, sedangkan konsentrasi 13% menghasilkan 66,6% cukup baik dan 33,3% tidak baik. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p=0,000; p<0,05). Dengan demikian, methylene blue berpotensi digunakan sebagai pewarna alternatif pengganti hematoksilin, terutama pada konsentrasi 10% yang menghasilkan kualitas preparat terbaik di antara kelompok perlakuan.