Dewi Sartika
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Persepsi Konflik Orang Tua terhadap Fear of Marriage pada Perempuan Nadia Firani Lulu Azmi; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 877-886
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24107

Abstract

Abstract. Fear of marriage refers to persistent fear, anxiety, doubt, or discomfort when individuals consider marriage as a long-term commitment. Experiences in the family of origin, particularly how interparental conflict is remembered and interpreted, may shape expectations regarding marital stability. This study examined the effect of perceived interparental conflict on fear of marriage among early adult women in Bandung. A quantitative, non-experimental cross-sectional design was used. Participants were 161 unmarried women aged 21-29 years who lived in Bandung, had witnessed interparental conflict, and were recruited through convenience sampling with screening questions. Data were collected using the 8-item Perceptions of Interparental Conflict-Short Form and the 20-item Gamophobia Scale. The Indonesian adaptations showed good internal consistency (Cronbach's alpha = .872 and .940, respectively). Simple linear regression indicated that perceived interparental conflict had a positive and significant effect on fear of marriage (B = 1.143, t = 13.657, p < .001). The model explained 54.0% of the variance in fear of marriage (R² = .540). Thus, stronger perceived exposure to frequent, angry, and dysfunctional interparental conflict was associated with higher fear of marriage. These findings underline the relevance of family-of-origin experiences when understanding concerns about long-term marital commitment. Abstrak. Fear of marriage merupakan rasa takut, cemas, ragu, atau tidak nyaman yang menetap ketika individu mempertimbangkan pernikahan sebagai komitmen jangka panjang. Pengalaman dalam keluarga asal, khususnya cara konflik orang tua diingat dan dimaknai, dapat membentuk ekspektasi mengenai kestabilan pernikahan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh persepsi konflik orang tua terhadap fear of marriage pada perempuan dewasa awal di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimental cross-sectional. Responden berjumlah 161 perempuan belum menikah berusia 21-29 tahun, berdomisili di Kota Bandung, pernah menyaksikan konflik orang tua, dan diperoleh melalui convenience sampling dengan pertanyaan penyaring. Data dikumpulkan menggunakan Perceptions of Interparental Conflict-Short Form yang terdiri atas 8 item dan Gamophobia Scale yang terdiri atas 20 item. Adaptasi Bahasa Indonesia menunjukkan reliabilitas yang baik dengan Cronbach's alpha masing-masing sebesar 0,872 dan 0,940. Analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa persepsi konflik orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap fear of marriage (B = 1,143; t = 13,657; p < 0,001). Model menjelaskan 54,0% variasi fear of marriage (R² = 0,540). Artinya, semakin tinggi paparan konflik orang tua yang dipersepsikan sering, penuh kemarahan, dan disfungsional, semakin tinggi fear of marriage. Temuan ini menegaskan pentingnya pengalaman keluarga asal dalam memahami kekhawatiran terhadap komitmen pernikahan jangka panjang.
Pengaruh Self-Compassion terhadap Body Dissatisfaction pada Laki-Laki "Member Gym" Pengguna Media Sosial Gheisya Vellani Putri; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 967-976
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24240

Abstract

Abstract. The rapid growth of digital technology has positioned social media as a space that reinforces lean and muscular body ideals, while the competitive atmosphere of gym environments intensifies body-image pressure, particularly among young adult men who train actively. This exposure contributes to a rising prevalence of body dissatisfaction. In facing this negative self-evaluation, self-compassion is considered to play a protective role in helping individuals cope with appearance-related pressure. This study aimed to examine the effect of self-compassion on body dissatisfaction among male gym members who are active social media users. A quantitative approach with a predictive-correlational, cross-sectional design was used. The sample consisted of 127 male gym members who use social media, obtained through purposive sampling. Data were analyzed using simple linear regression. The results showed that self-compassion had a significant negative effect on body dissatisfaction (β = -0.686; p < 0.001). The coefficient of determination (R² = 0.471) indicates that self-compassion accounted for 47.1% of the variance in body dissatisfaction. Higher self-compassion was associated with lower body dissatisfaction. These findings highlight the importance of developing self-compassion as a strategy to help men cope with pressure related to ideal body standards Abstrak. Paparan standar tubuh ideal di media sosial seiring berkembangnya teknologi digital menempatkan media sosial sebagai ruang pembentukan tren visual penampilan yang menonjolkan tubuh lean dan muscular, sementara lingkungan gym menciptakan atmosfer kompetitif yang memicu tingginya kesenjangan citra tubuh, khususnya pada laki-laki dewasa awal yang aktif berlatih di gym, sehingga dapat meningkatkan body dissatisfaction. Dalam menghadapi pemaknaan negatif ini, self-compassion berperan membantu individu menghadapi tekanan terkait penampilan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-compassion terhadap body dissatisfaction pada laki-laki member gym pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif dan studi cross-sectional. Subjek penelitian berjumlah 127 laki-laki member gym pengguna media sosial yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-compassion berpengaruh negatif secara signifikan terhadap body dissatisfaction (β = -0,686; p < 0,001). Nilai koefisien determinasi (R² = 0,471) menunjukkan bahwa self-compassion menjelaskan 47,1% variasi body dissatisfaction. Semakin tinggi self-compassion, semakin rendah body dissatisfaction pada laki-laki member gym pengguna media sosial. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan self-compassion sebagai salah satu upaya membantu individu menghadapi tekanan terkait standar tubuh ideal.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Burnout pada Bhabinkamtibmas Polres Sukabumi Kota Davina Riviyani Syabani; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 1083-1092
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24318

Abstract

Abstract. Burnout is a state of psychological exhaustion resulting from prolonged, unmanaged work stress that can affect Bhabinkamtibmas, the community policing officers of the Indonesian National Police. Perceived Organizational Support (POS), an employee's belief that the organization values their contribution and cares about their wellbeing, is theorized as a job resource that may reduce burnout. This study examined the influence of POS on burnout among Bhabinkamtibmas officers of Polres Sukabumi Kota. A quantitative, non-experimental correlational design was used, involving the entire population of 93 officers across 15 police sectors. Data were collected using the Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) and the Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS), and analyzed with simple linear regression. Results showed that POS had a significant negative influence on burnout (β = -0.469; t = -5.070; p < 0.001), explaining 22% of the variance in burnout (R² = 0.220). Most officers reported a high level of POS (53.8%), while most reported a low level of burnout (51.6%). These findings indicate that the higher the organizational support perceived by officers, the lower their burnout, suggesting that strengthening organizational support may help protect the psychological wellbeing of Bhabinkamtibmas officers. Abstrak. Burnout merupakan kondisi kelelahan psikologis akibat stres kerja berkepanjangan yang berisiko dialami oleh Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas). Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menurunkan burnout adalah Perceived Organizational Support (POS), yaitu persepsi anggota terhadap dukungan yang diberikan oleh organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh POS terhadap burnout pada Bhabinkamtibmas Polres Sukabumi Kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional non-eksperimental melibatkan seluruh populasi sebanyak 93 anggota Bhabinkamtibmas di 15 Polsek. Data dikumpulkan menggunakan Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) dan Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POS berpengaruh negatif dan signifikan terhadap burnout (β = -0,469; t = -5,070; p < 0,001) dengan kontribusi sebesar 22% (R² = 0,220). Sebagian besar responden memiliki tingkat POS yang tinggi (53,8%), sedangkan pada variabel burnout sebagian besar responden berada pada kategori rendah (51,6%). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan organisasi yang dipersepsikan anggota, semakin rendah tingkat burnout yang dialami, sehingga penguatan dukungan organisasi dapat menjadi salah satu upaya menjaga kesejahteraan psikologis Bhabinkamtibmas.