Denny Nazaria Rifani
Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SIPASTI: INOVASI OTOMASI PELAYANAN SURAT INTEGRASI NARAPIDANA BERBASIS GOOGLE WORKSPACE Farhan Aria Nugraha; Muhammad Syah Nuruddin; Denny Nazaria Rifani
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengajuan program integrasi sosial bagi narapidana di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Banyumas, yang meliputi Asimilasi, Pembebasan Bersyarat (PB), Cuti Bersyarat (CB), dan Cuti Menjelang Bebas (CMB), masih menghadapi hambatan pada tahap pemenuhan kelengkapan administrasi, khususnya dalam penyelesaian Surat Jaminan Kesanggupan Keluarga dan Surat Pernyataan Narapidana. Hambatan tersebut disebabkan oleh tingginya beban kerja petugas yang masih membuat surat secara manual satu per satu serta alur birokrasi konvensional yang mengharuskan keluarga narapidana datang berulang kali ke rutan. Kondisi tersebut belum mencerminkan prinsip pelayanan publik yang efektif dan efisien sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan Kuliah Kerja Nyata ini bertujuan mengembangkan inovasi layanan bernama SIPASTI (Sistem Pembuatan Surat Integrasi), yaitu sistem otomasi persuratan berbasis komputasi awan yang memanfaatkan ekosistem Google Workspace. Metode pelaksanaan program terdiri atas lima tahap, yaitu perencanaan dan analisis kebutuhan, pengembangan sistem dan digitalisasi, desain media sosialisasi, uji coba sistem, serta sosialisasi dan implementasi lapangan. Pengembangan sistem meliputi pembuatan templat surat pada Google Docs, antarmuka Google Forms, serta konfigurasi otomasi melalui ekstensi Autocrat. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa SIPASTI dapat memangkas waktu pengurusan administrasi menjadi kurang dari lima menit melalui pengisian formulir daring secara mandiri oleh keluarga narapidana, sekaligus mengurangi pekerjaan administratif repetitif petugas dan menghasilkan basis data pengaju integrasi yang tersentralisasi dalam bentuk spreadsheet otomatis. Media brosur yang dikembangkan juga membantu keluarga narapidana memahami tahapan penggunaan sistem. Inovasi ini menunjukkan bahwa penerapan konsep e-government secara tepat guna dapat mendukung terwujudnya pelayanan publik yang lebih mandiri, terbuka, dan berdaya guna di lingkungan pemasyarakatan.
PENINGKATAN PEMBINAAN KEMANDIRIAN MELALUI PENGADAAN SARANA DAN PRASARANA PEMASARAN PRODUK SUKA BREAD DI LAPAS KELAS I SUKAMISKIN Ridwan Harun; Muhammad Fajar Fernando; Arif Joyakin Simanjuntak; Denny Nazaria Rifani
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2026): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin menghasilkan produk kopi dan roti sebagai bagian dari kegiatan produktif Warga Binaan Pemasyarakatan. Namun, ketersediaan produk tersebut belum sepenuhnya didukung oleh media promosi yang fleksibel dan terpadu untuk menampilkan produk, memberikan informasi, mendukung pelayanan, serta memudahkan pemindahan produk. Kegiatan KKN ini bertujuan memperkuat proses promosi dan pemasaran melalui penyediaan dan pemanfaatan gerobak keliling. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tahapan observasi dan identifikasi kebutuhan, perancangan dan koordinasi, persiapan dan implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Gerobak dirancang sebagai etalase, media promosi, tempat penyimpanan sementara, titik pelayanan, dan sarana pemindahan produk dengan tetap memperhatikan keamanan, kebersihan, dan ketentuan operasional Lapas. Hasil kegiatan menunjukkan tersedianya gerobak keliling, identitas produk serta informasi menu dan harga yang lebih jelas, penataan produk yang lebih teratur, terlaksananya uji penggunaan, pemeriksaan kebersihan dan kelayakan, serta mulai diterapkannya pencatatan persediaan dan penjualan. Kegiatan juga memperluas pengalaman Warga Binaan dari tahap produksi menuju pemahaman mengenai promosi, pelayanan, dan pemasaran. Namun, peningkatan penjualan secara kuantitatif belum dapat disimpulkan karena belum tersedia data pembanding yang memadai. Dengan demikian, inovasi ini menjadi tahap awal penguatan sistem pemasaran produk kemandirian yang lebih teratur, terukur, dan berkelanjutan.