Teresia Retna Puspitadewi
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Stres Akademik Yang Dihadapi Mahasiswa Semester 4 Di Poltekkes Kemenkes Surabaya Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban Paskalia Siska Putri Febrina; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Binti Yunariyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2364

Abstract

Stres akademik sering dialami mahasiswa keperawatan akibat tingginya tuntutan tugas, ujian, dan praktik klinik yang dapat berdampak pada prestasi belajar dan kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran stres akademik yang dihadapi mahasiswa semester 4 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban. Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti terdiri dari 82 mahasiswa, dengan jumlah sampel sebanyak 68 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner stres akademik. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 82 mahasiswa, sebagian besar mahasiswa semester 4 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban dengan kategori umur remaja (< 20 tahun) memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 18 mahasiswa (72%), hampir seluruh mahasiswa dengan jenis kelamin laki-laki memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 5 mahasiswa (83%), sebagian besar mahasiswa yang tinggal bersama orang tua memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 20 mahasiswa (71%), dan hampir seluruh mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 19 mahasiswa (79%). Simpulan: Temuan menunjukkan stres akademik mahasiswa masih dalam batas adaptif, mencerminkan kemampuan cukup baik dalam mengelola tekanan. Kondisi ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Adaptasi yang baik mendukung kelancaran akademik karena tanpa koping efektif, stres dapat meningkat. Diperlukan upaya berkelanjutan melalui dukungan sosial, manajemen waktu, dan aktivitas positif guna menjaga kesehatan mental.
Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan Lansia Dan Kejadian Penyakit Jantung Koroner Di Poli Jantung RSUD dr. R Koesma Tuban Eliya Catur Rini; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Binti Yunariyah
Jurnal Keperawatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jkmc.v5i1.2388

Abstract

Peinyakit jantung koroneir meirupakan gangguan fungsi jantung yang teirjadi kareina arteiri koroneir meingalami peinyumbatan. Peinyakit ini beirsifat “sileint killeir” yang meinyeibabkan keimatian deingan preiseintasei 30% di seiluruh dunia. Kondisi ini diseibabkan oleih pola makan buruk yang kaya akan leimak jeinuh, gula seideirhana, dan tinggi natrium. Tujuan peineilitian ini untuk meingeitahui gambaran faktor yang meimpeingaruhi pola makan lansia dan keijadian peinyakit jantung koroneir di Poli Jantung RSUD dr. R Koeisma Tuban. Deisain pada peineilitian deiskriptif deingan populasi peineilitian seiluruh pasiein peinyakit jantung yang peiriksa di poli jantung RSUD dr. R Koeisma tuban seibanyak 131. Beisar sampeil 99 reispondein meinggunakan teiknik purposivei sampling. Variabeil peineilitian ini yaitu faktor yang meimpeingaruhi pola makan lansia dan keijadian peinyakit jantung koroneir. Peingumpulan data meinggunakan kueisioneir dan dianalisis deingan analisis deiskriptif. Hasil peineilitian didapatkan seibagian beisar lansia meindeirita peinyakit jantung koroneir > 1 tahun, hampir seiteingah lansia beirumur 55-65 tahun dan seibagian beisar lansia beikeirja. Seibagian beisar lansia didiagnosis PJK. Hampir seiluruh lansia deingan tingkat peindapatan reindah dan faktor lingkungan buruk meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Seibagian beisar lansia deingan faktor sosial budaya buruk meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Hampir seiluruh lansia deingan peindidikan tinggi tidak meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Lansia deingan peinyakit jantung koroneir meimiliki keibiasaan pola makan buruk, keimudian deingan kondisi eikonomi reindah dan tingkat peindidikan reindah meimpeingaruhi pola makan lansia, diiringi deingan sosial budaya dan kondisi lingkungan buruk meimpeirsulit lansia dalam meineintukan pola makan seihat. Oleih kareina itu, dipeirlukan dukungan dari keiluarga kareina keiluarga meirupakan subsisteim untuk meinolong anggota keiluarganya yang sakit.
Persepsi Akseptor Pada Pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Di Puskesmas Tuban Tri Wahyu Setiyowati; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2367

Abstract

Secara nasional program KB di Indonesia diarahkan ke metode kontrasepsi jangka Panjang (MKJP) dibandingkan non-MKJP karena dianggap lebih efektif, efisien, aman, dan ekonomis. Namun kenyataannya penggunaan MKJP masih lebih rendah dibandingkan non-MKJP. Meskipun demikian, terdapat akseptor yang telah menggunakan MKJP dengan berbagai persepsi yang dimiliki. Persepsi tersebut dapat mempengaruhi keberlanjutan penggunaan serta kepuasan akseptor terhadap MKJP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Persepsi akseptor pada pemakaian metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Tuban. Desain penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor MKJP yang mendapatkan pelayanan KB di Puskesmas Tuban pada bulan Desember 2025 s/d Februari 2026 yaitu sebanyak 94 akseptor, dengan sampel sebanyak 76 akseptor yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan 24 pernyataan yang mencakup pengetahuan, keyakinan, sikap, sarana dan kemudahan akses, dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor memiliki persepsi yang baik terhadap pemakaian MKJP, meskipun akseptor dengan persepsi cukup hingga kurang masih ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi akseptor memiliki peranan penting dalam mendukung penerimaan serta keberlanjutan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Dapat disimpulkan bahwa persepsi akseptor pada pemakaian MKJP di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebagian besar dalam kategori baik. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan konseling secara berkelanjutan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman serta persepsi positif akseptor terhadap MKJP.
Paparan Debu Industri Batu Giling Dan Kejadian Ispa Pada Balita Di Desa Sumurgung Wilayah Kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Tuban Bilqis Naila Salsabila; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2378

Abstract

Balita merupakan kelompok yang rentan terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat belum matangnya sistem imunologis dan anatomis saluran pernapasan secara sempurna. Polusi partikulat di kawasan industri batu giling disinyalir menjadi salah satu determinan utama pemicu gangguan respirasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran paparan debu industri batu giling dan Kejadian ISPA pada balita di Desa Sumurgung wilayah kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Tuban. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi studi mencakup seluruh ibu yang memiliki anak balita sebanyak 134 orang, dengan penarikan sampel sebanyak 100 responden melalui teknik probability random sampling. Variabel yang diukur meliputi tingkat paparan debu industri batu giling dan kejadian ISPA pada balita. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur serta lembar observasi rekam medis, yang selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Sebagian besar ibu berusia 31 – 45 tahun,hampir setengah ibu berpendidikan SMA, sebagian besar ibu tidak bekerja. Hampir setengah balita berada di lingkungan paparan debu dengan kategori tinggi, sebagian besar balita mengalami ISPA, sebagian besar balita dengan paparan debu tinggi mengalami ISPA. Secara spesifik, mayoritas kasus ISPA ditemukan pada klaster balita yang menghadapi paparan debu tingkat tinggi. Pajanan partikulat dalam proksimitas yang dekat dengan pusat industri memperbesar risiko ISPA pada balita akibat keterbatasan proteksi imunitas tubuh. Berdasarkan temuan ini, masyarakat di sekitar area industri diimbau untuk mengeskalasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melakukan pemantauan kesehatan berkala ke fasilitas medis, serta mengoptimalkan pemenuhan nutrisi balita guna meningkatkan daya tahan tubuh anak.
Gambaran Kepatuhan Dalam Penerapan Prinsip Diet 3J Pada Pasien Diabetes Melitus Di Puskesmas Wire Aprilia Linda Wati Putri; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2382

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat gangguan sekresi insulin, penurunan sensitivitas sel tubuh terhadap insulin, atau kombinasi keduanya. Ketidakpatuhan pasien terhadap pengaturan pola makan, khususnya prinsip diet 3J (jumlah, jenis, dan jadwal makan), masih menjadi masalah yang signifikan dalam pengelolaan diabetes melitus dan dapat meningkatkan risiko komplikasi akut maupun kronis. Data Puskesmas Wire Kabupaten Tuban tahun 2025 mencatat 125 pasien diabetes melitus, namun belum tersedia data mengenai tingkat kepatuhan pasien terhadap penerapan prinsip diet 3J. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran kepatuhan dalam penerapan prinsip diet 3J pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Wire Kabupaten Tuban. Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Wire Kabupaten Tuban pada bulan Mei 2026. Populasi penelitian adalah seluruh pasien diabetes melitus yang berobat di Puskesmas Wire sejumlah 125 orang. Besar sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 5%, diperoleh 95 responden yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Variabel penelitian meliputi kepatuhan prinsip diet 3J serta karakteristik responden (usia, jenis kelamin, pendidikan, dan lama menderita diabetes melitus). Pengumpulan data menggunakan kuesioner, dan data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruhnya responden (83,2%) berada pada rentang usia 36-59 tahun, sebagian besar (65,3%) berjenis kelamin perempuan, sebagian besar (53,7%) berpendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD), dan sebagian besar (53,7%) telah menderita diabetes melitus kurang dari 5 tahun. Sebagian besar responden (56,8%) tergolong patuh terhadap prinsip diet 3J, sedangkan hampir setengahnya (43,2%) tidak patuh. Berdasarkan karakteristik, kepatuhan lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 36-59 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan SD, serta lama menderita kurang dari 5 tahun. Sebagian besar pasien diabetes melitus di Puskesmas Wire telah patuh menerapkan prinsip diet 3J, namun masih terdapat proporsi pasien yang belum patuh sehingga berisiko terhadap ketidakstabilan kadar glukosa darah dan komplikasi. Diperlukan peningkatan edukasi dan pendampingan yang berkesinambungan oleh tenaga kesehatan, khususnya dalam program Prolanis, guna meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengaturan jumlah, jenis, dan jadwal makan.
Kesiapan Fisik Dan Psikologis Wanita Dalam Menghadapi Menopause Di Rw 06 Kelurahan Latsari Kecamatan Tuban Azalia Kirana Putri Zelanda Bahari; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana N; Teresia Retna Puspitadewi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2384

Abstract

Menopause tidak hanya ditandai dengan berhentinya menstruasi akibat penurunan hormon estrogen, tetapi juga disertai berbagai perubahan fisik dan psikologis. Masih banyak wanita premenopause yang belum memiliki kesiapan fisik dan psikologis yang baik dalam menghadapi menopause. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan fisik dan psikologis wanita dalam menghadapi menopause di RW 06 Kelurahan Latsari Kecamatan Tuban. Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah wanita usia 40-50 tahun di RW 06 Kelurahan Latsari Kecamatan Tuban yang berjumlah 60 orang, dengan besar sampel 52 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling jenis purposive sampling. Variabel penelitian yaitu kesiapan fisik dan kesiapan psikologis wanita dalam menghadapi menopause. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengahnya (40,4%) wanita premenopause memiliki kesiapan fisik dalam kategori cukup, dan hampir setengahnya (48,1%) wanita premenopause memiliki kesiapan psikologis dalam kategori cukup dalam menghadapi menopause. Tenaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi mengenai menopause kepada wanita premenopause, suami, dan keluarga melalui penyuluhan dan konseling sehingga dapat meningkatkan pengetahuan serta kesiapan fisik dan psikologis wanita dalam menghadapi menopause.
Penatalaksanaan Myalgia Di Masyarakat Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak Wahyu Fajar Indra Yogatama; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2386

Abstract

Latar Belakang: Myalgia (nyeri otot) merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering dialami masyarakat akibat aktivitas fisik berlebihan, kelelahan, maupun faktor pekerjaan. Prevalensi Myalgia di Kabupaten Tuban menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga penatalaksanaan yang tepat oleh masyarakat menjadi hal penting untuk diperhatikan. Tujuan: Mengetahui gambaran penatalaksanaan Myalgia di masyarakat Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien Myalgia yang periksa di Puskesmas Merakurak sejumlah 121 orang. Sampel penelitian sebanyak 93 responden dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Hampir setengah berusia 31–40 tahun, sebagian besar berpendidikan menengah, bekerja, dan memperoleh informasi dari tenaga Kesehatan, Adapun penatalaksanaan Myalgia sebagian besar masyarakat melakukan kedua jenis tindakan, hampir setengahnya melakukan satu jenis tindakan, dan sebagian kecil tidak melakukan tindakan. Berdasarkan karakteristik masyarakat, sebagian besar masyarakat usia 31–40 tahun, Sebagian besar berpendidikan menengah, sebagian besar bekerja melakukan kedua jenis tindakan, rata-rata sebagian besar Masyarakat mendapat informasi dari tenaga kesehatan dan sumber lainnya, seperti keluarga, teman, media massa, media sosial, internet, maupun pengalaman pribadi, melakukan kedua jenis tindakan. Kesimpulan: Penatalaksanaan Myalgia di masyarakat Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak sebagian besar dilakukan melalui kombinasi tindakan farmakologis dan non-farmakologis. Kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi berkelanjutan mengenai swamedikasi yang aman serta dukungan tenaga kesehatan dalam penatalaksanaan Myalgia.