Yasin Wahyurianto
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Tingkat Pengetahuan Dan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Remaja Di SMAN 1 Tambakboyo Tuban Happy Novitasari; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana N; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2349

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kematian didunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini terjadi akibat pembuluh darah koroner yang memasok oksigen dan nutrisi ke jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Penyakit ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti pola makan, kebiasaan merokok, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja dan faktor risiko penyakit jantung koroner pada remaja di SMAN 1 Tambakboyo Tuban. Desain penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Dengan jumlah sampel sebanyak 151 responden yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Sebagian besar remaja kelas X di SMAN 1 Tambakboyo Tuban berjenis kelamin perempuan berusia 16 tahun. Tingkat pengetahuan remaja tentang jantung koroner hampir seluruhnya berada pada kategori baik. Berdasarkan faktor Risiko, Sebagian besar memiliki pola makan dalam kategori baik, hampir seluruhnya tidak memiliki kebiasaan merokok, sebagian kecil remaja memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kategori obesitas, serta hampir seluruh remaja memiliki aktivitas fisik yang baik. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruhnya remaja memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai penyakit jantung koroner dan hampir seluruhnya tidak memiliki faktor risiko yang tinggi. Namun demikian, masih terdapat sebagian remaja yang memiliki faktor risiko sehingga diperlukan edukasi kesehatan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran dan membentuk perilaku hidup sehat sejak usia remaja.
Kontrol Diri Dengan Perilaku Agresif Remaja Di SMP Negeri 2 Plumpang Septia Nova Sari; Titik Sumiatin; Su’udi; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2351

Abstract

Perilaku agresif remaja telah meningkat dari tahun ke tahun. Perilaku agresif remaja telah meningkat dari tahun ke tahun. Di Jawa Timur perilaku agresif remaja menempati posisi tertinggi ke−2 setelah Jawa Barat, yaitu sebanyak 511 kasus fisik dan 415 kasus psikis. Pelaku dari kasus tersebut paling banyak dari kalangan teman sebanyak 382 kasus. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresif remaja di SMP Negeri 2 Plumpang. Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti terdiri dari 247 remaja, dengan jumlah sampel sebanyak 153 remaja yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner BSCS dan BAQ. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman-rho. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 153 remaja, sebagian besar masuk pada kategori kontrol diri sedang sebanyak 92 orang (60,1%) dan hampir seluruhnya masuk kategori perilaku agresif sedang sebanyak 121 orang (79,1%). Berdasarkan hasil uji statistik Spearman-rho, diperoleh nilai p-value < 0,001, dengan taraf signifikansi < 0,05. Oleh karena itu, dalam konteks ini, H0 ditolak dan Ha diterima. Sehingga terdapat hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresif remaja di SMP Negeri 2 Plumpang. Simpulan: Perilaku agresif sedang menunjukkan perilaku remaja yang tidak sepenuhnya negatif secara ekstrem. Kontrol diri berperan dalam membantu remaja mengendalikan perilaku negatif. Semakin tinggi tingkat kontrol diri yang dimiliki remaja, maka semakin rendah kecenderungan munculnya perilaku agresif, begitu pula sebaliknya.
Kepatuhan Diet Rendah Garam Dengan Tekanan Darah Pasien Hipertensi Peserta Prolanis Di Wilayah Kerja Puskesmas Wire Tulus Puji Ningsih; Su’udi; Titik Sumiatin; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2355

Abstract

Hipertensi masih merupakan masalah kesehatan yang cukup sering terjadi di masyarakat. Salah satu strategi untuk mengendalikan tekanan darah pada penderita hipertensi adalah dengan menerapkan diet rendah garam. Namun, kepatuhan peserta Prolanis terhadap anjuran diet rendah garam masih belum optimal sehingga tekanan darah banyak pasien belum mencapai kondisi terkontrol. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis hubungan antara kepatuhan diet rendah garam dengan tekanan darah pada pasien hipertensi peserta Prolanis di wilayah kerja Puskesmas Wire. Penelitian ini menerapkan desain analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Populasi penelitian berjumlah 120 peserta Prolanis. Sebanyak 92 responden dilibatkan dalam penelitian ini dipilih melalui teknik incidendal sampling. Data kepatuhan diet rendah garam diperoleh melalui kuesioner MMAS yang telah dimodifikasi, adapun pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar responden tidak patuh terhadap diet rendah garam, 51 orang (55,4%), dan sebagian besar memiliki tekanan darah tidak terkontrol, 53 orang (57,6%). Hasil tabulasi silang memperlihatkan bahwa hampir seluruh responden yang tidak patuh terhadap diet rendah garam mengalami tekanan darah tidak terkontrol sebanyak 45 orang (84,9%). Uji Chi-Square menghasilkan nilai p-value <0,001 (p<0,05), sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Terdapat hubungan antara kepatuhan diet rendah garam dengan pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi. Oleh karena itu, Penerapan diet rendah garam secara patuh perlu dijadikan sebagai komponen penting dalam pengelolaan hipertensi yang berkesinambungan.
Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban Dian Elok Prasasti; Wahyuningsih Triana N; Wahyu Tri Ningsih; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2363

Abstract

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan jenis penyakit yang tidak menular namun memiliki prevalensi tinggi pada usia lanjut dan berisiko menyebabkan berbagai komplikasi serius apabila tidak dilakukan pengendalian secara tepat. Kurangnya asupan buah maupun sayur serta tingginya konsumsi makanan kaya lemak dan natrium menjadi bentuk pola makan kurang sehat yang dapat memicu kejadian hipertensi. Hubungan antara pola makan warga usia lanjut dan angka kejadian hipertensi di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban ingin diketahui melalui riset ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui desain analitis korelasional dan rancangan cross-sectional dengan sebanyak 80 lansia sebagai sebagai warga yang menetap di Desa Prunggahan Kulon menjadi populasi riset, lalu dipilih 67 lansia untuk dijadikan sampel. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode simple random sampling. Kejadian hipertensi ditempatkan sebagai variabel terikat, sementara pola makan diposisikan sebagai variabel bebas. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner pola makan dan pemeriksaan tekanan darah menggunakan sphygmomanometer. Untuk mengevaluasi data yang sudah terkumpul diproses lewat analisis univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menguji keterkaitan pola makan dan hipertensi lansia. Lansia dengan penyakit hipertensi dalam penelitian ini sebagian besar punya kebiasaan konsumsi makanan kurang baik. Perhitungan statistik menghasilkan nilai p senilai 0,046 (p < 0,05), hal tersebut menandakan keterkaitan nyata antara hipertensi dan pola konsumsi lansia Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Upaya mencegah sekaligus mengontrol hipertensi lansia bisa dijalankan lewat pengaturan kebiasaan makan. Langkah ini dilakukan dengan menaikkan porsi buah serta sayur sembari membatasi konsumsi santapan yang kaya lemak juga garam.
Stres Akademik Yang Dihadapi Mahasiswa Semester 4 Di Poltekkes Kemenkes Surabaya Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban Paskalia Siska Putri Febrina; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Binti Yunariyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2364

Abstract

Stres akademik sering dialami mahasiswa keperawatan akibat tingginya tuntutan tugas, ujian, dan praktik klinik yang dapat berdampak pada prestasi belajar dan kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran stres akademik yang dihadapi mahasiswa semester 4 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban. Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti terdiri dari 82 mahasiswa, dengan jumlah sampel sebanyak 68 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner stres akademik. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 82 mahasiswa, sebagian besar mahasiswa semester 4 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban dengan kategori umur remaja (< 20 tahun) memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 18 mahasiswa (72%), hampir seluruh mahasiswa dengan jenis kelamin laki-laki memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 5 mahasiswa (83%), sebagian besar mahasiswa yang tinggal bersama orang tua memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 20 mahasiswa (71%), dan hampir seluruh mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 19 mahasiswa (79%). Simpulan: Temuan menunjukkan stres akademik mahasiswa masih dalam batas adaptif, mencerminkan kemampuan cukup baik dalam mengelola tekanan. Kondisi ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Adaptasi yang baik mendukung kelancaran akademik karena tanpa koping efektif, stres dapat meningkat. Diperlukan upaya berkelanjutan melalui dukungan sosial, manajemen waktu, dan aktivitas positif guna menjaga kesehatan mental.
Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan Lansia Dan Kejadian Penyakit Jantung Koroner Di Poli Jantung RSUD dr. R Koesma Tuban Eliya Catur Rini; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Binti Yunariyah
Jurnal Keperawatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jkmc.v5i1.2388

Abstract

Peinyakit jantung koroneir meirupakan gangguan fungsi jantung yang teirjadi kareina arteiri koroneir meingalami peinyumbatan. Peinyakit ini beirsifat “sileint killeir” yang meinyeibabkan keimatian deingan preiseintasei 30% di seiluruh dunia. Kondisi ini diseibabkan oleih pola makan buruk yang kaya akan leimak jeinuh, gula seideirhana, dan tinggi natrium. Tujuan peineilitian ini untuk meingeitahui gambaran faktor yang meimpeingaruhi pola makan lansia dan keijadian peinyakit jantung koroneir di Poli Jantung RSUD dr. R Koeisma Tuban. Deisain pada peineilitian deiskriptif deingan populasi peineilitian seiluruh pasiein peinyakit jantung yang peiriksa di poli jantung RSUD dr. R Koeisma tuban seibanyak 131. Beisar sampeil 99 reispondein meinggunakan teiknik purposivei sampling. Variabeil peineilitian ini yaitu faktor yang meimpeingaruhi pola makan lansia dan keijadian peinyakit jantung koroneir. Peingumpulan data meinggunakan kueisioneir dan dianalisis deingan analisis deiskriptif. Hasil peineilitian didapatkan seibagian beisar lansia meindeirita peinyakit jantung koroneir > 1 tahun, hampir seiteingah lansia beirumur 55-65 tahun dan seibagian beisar lansia beikeirja. Seibagian beisar lansia didiagnosis PJK. Hampir seiluruh lansia deingan tingkat peindapatan reindah dan faktor lingkungan buruk meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Seibagian beisar lansia deingan faktor sosial budaya buruk meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Hampir seiluruh lansia deingan peindidikan tinggi tidak meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Lansia deingan peinyakit jantung koroneir meimiliki keibiasaan pola makan buruk, keimudian deingan kondisi eikonomi reindah dan tingkat peindidikan reindah meimpeingaruhi pola makan lansia, diiringi deingan sosial budaya dan kondisi lingkungan buruk meimpeirsulit lansia dalam meineintukan pola makan seihat. Oleih kareina itu, dipeirlukan dukungan dari keiluarga kareina keiluarga meirupakan subsisteim untuk meinolong anggota keiluarganya yang sakit.
Persepsi Akseptor Pada Pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Di Puskesmas Tuban Tri Wahyu Setiyowati; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2367

Abstract

Secara nasional program KB di Indonesia diarahkan ke metode kontrasepsi jangka Panjang (MKJP) dibandingkan non-MKJP karena dianggap lebih efektif, efisien, aman, dan ekonomis. Namun kenyataannya penggunaan MKJP masih lebih rendah dibandingkan non-MKJP. Meskipun demikian, terdapat akseptor yang telah menggunakan MKJP dengan berbagai persepsi yang dimiliki. Persepsi tersebut dapat mempengaruhi keberlanjutan penggunaan serta kepuasan akseptor terhadap MKJP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Persepsi akseptor pada pemakaian metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Tuban. Desain penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor MKJP yang mendapatkan pelayanan KB di Puskesmas Tuban pada bulan Desember 2025 s/d Februari 2026 yaitu sebanyak 94 akseptor, dengan sampel sebanyak 76 akseptor yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan 24 pernyataan yang mencakup pengetahuan, keyakinan, sikap, sarana dan kemudahan akses, dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor memiliki persepsi yang baik terhadap pemakaian MKJP, meskipun akseptor dengan persepsi cukup hingga kurang masih ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi akseptor memiliki peranan penting dalam mendukung penerimaan serta keberlanjutan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Dapat disimpulkan bahwa persepsi akseptor pada pemakaian MKJP di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebagian besar dalam kategori baik. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan konseling secara berkelanjutan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman serta persepsi positif akseptor terhadap MKJP.
Kebiasaan Minum Teh Setelah Makan Dengan Kejadian Anemia Pada Santri Putri Di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah Tuban Muchammad Nauvas Syauqi; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2377

Abstract

Anemia gizi besi masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang dominan di Indonesia, khususnya pada kelompok remaja putri di ekosistem pesantren yang rentan akibat berbagai determinan, termasuk perilaku asupan teh postprandial yang menginhibisi absorpsi mineral besi. Pengkajian ini berorientasi untuk menguji korelasi antara habituasi konsumsi teh pascamakan terhadap insidensi anemia pada populasi santriwati di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah Tuban. Metode observasional analitik berdesain cross-sectional diterapkan dengan menempatkan habituasi minum teh pascamakan sebagai variabel bebas dan manifestasi anemia sebagai variabel terikat. Seluruh populasi santri putri sebanyak 60 subjek dilibatkan secara utuh memanfaatkan pendekatan total sampling. Evaluasi deskriptif mengidentifikasi bahwa porsi terbesar sampel (70,0%) mencatatkan habituasi konsumsi teh pada kategori adekuat, meskipun tingkat kejadian indikasi klinis anemia mencakup proporsi mayoritas (75,0%). Analisis kontingensi memperlihatkan gejala anemia dialami oleh 83,3% responden pada kelompok kebiasaan baik dan 55,6% pada kelompok kebiasaan kurang adekuat. Komputasi biostatistik memanfaatkan uji alternatif Fisher's Exact Test menghasilkan probabilitas p = 0,048 (p < 0,05), yang mengonfirmasi keberadaan korelasi signifikan secara statistik antara habituasi asupan teh sesaat setelah makan dengan risiko presipitasi anemia. Temuan ini mempertegas bahwa perilaku konsumsi teh postprandial berkontribusi nyata terhadap risiko anemia gizi besi, yang berpotensi diperberat oleh intensitas aktivitas fisik harian. Oleh sebab itu, penguatan program promosi kesehatan melalui edukasi literasi gizi terstruktur krusial diimplementasikan demi mengoptimalkan upaya preventif di lingkungan pesantren.
Paparan Debu Industri Batu Giling Dan Kejadian Ispa Pada Balita Di Desa Sumurgung Wilayah Kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Tuban Bilqis Naila Salsabila; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2378

Abstract

Balita merupakan kelompok yang rentan terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat belum matangnya sistem imunologis dan anatomis saluran pernapasan secara sempurna. Polusi partikulat di kawasan industri batu giling disinyalir menjadi salah satu determinan utama pemicu gangguan respirasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran paparan debu industri batu giling dan Kejadian ISPA pada balita di Desa Sumurgung wilayah kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Tuban. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi studi mencakup seluruh ibu yang memiliki anak balita sebanyak 134 orang, dengan penarikan sampel sebanyak 100 responden melalui teknik probability random sampling. Variabel yang diukur meliputi tingkat paparan debu industri batu giling dan kejadian ISPA pada balita. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur serta lembar observasi rekam medis, yang selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Sebagian besar ibu berusia 31 – 45 tahun,hampir setengah ibu berpendidikan SMA, sebagian besar ibu tidak bekerja. Hampir setengah balita berada di lingkungan paparan debu dengan kategori tinggi, sebagian besar balita mengalami ISPA, sebagian besar balita dengan paparan debu tinggi mengalami ISPA. Secara spesifik, mayoritas kasus ISPA ditemukan pada klaster balita yang menghadapi paparan debu tingkat tinggi. Pajanan partikulat dalam proksimitas yang dekat dengan pusat industri memperbesar risiko ISPA pada balita akibat keterbatasan proteksi imunitas tubuh. Berdasarkan temuan ini, masyarakat di sekitar area industri diimbau untuk mengeskalasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melakukan pemantauan kesehatan berkala ke fasilitas medis, serta mengoptimalkan pemenuhan nutrisi balita guna meningkatkan daya tahan tubuh anak.
Gambaran Kepatuhan Dalam Penerapan Prinsip Diet 3J Pada Pasien Diabetes Melitus Di Puskesmas Wire Aprilia Linda Wati Putri; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2382

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat gangguan sekresi insulin, penurunan sensitivitas sel tubuh terhadap insulin, atau kombinasi keduanya. Ketidakpatuhan pasien terhadap pengaturan pola makan, khususnya prinsip diet 3J (jumlah, jenis, dan jadwal makan), masih menjadi masalah yang signifikan dalam pengelolaan diabetes melitus dan dapat meningkatkan risiko komplikasi akut maupun kronis. Data Puskesmas Wire Kabupaten Tuban tahun 2025 mencatat 125 pasien diabetes melitus, namun belum tersedia data mengenai tingkat kepatuhan pasien terhadap penerapan prinsip diet 3J. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran kepatuhan dalam penerapan prinsip diet 3J pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Wire Kabupaten Tuban. Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Wire Kabupaten Tuban pada bulan Mei 2026. Populasi penelitian adalah seluruh pasien diabetes melitus yang berobat di Puskesmas Wire sejumlah 125 orang. Besar sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 5%, diperoleh 95 responden yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Variabel penelitian meliputi kepatuhan prinsip diet 3J serta karakteristik responden (usia, jenis kelamin, pendidikan, dan lama menderita diabetes melitus). Pengumpulan data menggunakan kuesioner, dan data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruhnya responden (83,2%) berada pada rentang usia 36-59 tahun, sebagian besar (65,3%) berjenis kelamin perempuan, sebagian besar (53,7%) berpendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD), dan sebagian besar (53,7%) telah menderita diabetes melitus kurang dari 5 tahun. Sebagian besar responden (56,8%) tergolong patuh terhadap prinsip diet 3J, sedangkan hampir setengahnya (43,2%) tidak patuh. Berdasarkan karakteristik, kepatuhan lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 36-59 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan SD, serta lama menderita kurang dari 5 tahun. Sebagian besar pasien diabetes melitus di Puskesmas Wire telah patuh menerapkan prinsip diet 3J, namun masih terdapat proporsi pasien yang belum patuh sehingga berisiko terhadap ketidakstabilan kadar glukosa darah dan komplikasi. Diperlukan peningkatan edukasi dan pendampingan yang berkesinambungan oleh tenaga kesehatan, khususnya dalam program Prolanis, guna meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengaturan jumlah, jenis, dan jadwal makan.