Roudlotul Jannah
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Pencegahan Anemia Di MAN 1 Tuban Mila Nova Rhamadani; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana N; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2350

Abstract

Anemia merupakan kondisi yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang lebih rendah dari nilai normal berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Sebagai protein yang berfungsi mengangkut oksigen, hemoglobin berperan dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh untuk menunjang berlangsungnya proses metabolisme. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan tingkat pemahaman remaja putri terkait berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya anemia di MAN 1 Tuban. Penelitian ini menerapkan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Responden yang terlibat berjumlah 124 remaja putri, yang dipilih dari populasi penelitian menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan kuesioner sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variabel yang menjadi fokus penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa proporsi remaja putri di MAN 1 Tuban yang memiliki pengetahuan baik mengenai pencegahan anemia mencapai hampir separuh dari keseluruhan responden. Dari aspek karakteristik, sebagian besar responden berada pada status IMT normal serta memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir pada jenjang SMA. Adapun berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, mayoritas remaja putri berasal dari keluarga yang memiliki pendapatan orang tua ≤ UMR. Remaja putri yang mempunyai pengetahuan memadai mengenai pencegahan anemia umumnya lebih mampu memahami pentingnya menjaga kondisi kesehatan dan menerapkan perilaku preventif dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui penerapan pola makan bergizi seimbang, peningkatan konsumsi bahan pangan yang menjadi sumber zat besi, serta kepatuhan dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran. Pemahaman yang semakin baik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran remaja putri terhadap berbagai faktor yang berisiko menyebabkan anemia beserta dampak yang dapat ditimbulkannya.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Di Puskesmas Tuban Ananda Dwi Agustira; Wahyuningsih Triana N; Wahyu Tri Ningsih; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2358

Abstract

Diabetes melitus tergolong penyakit yang angka kejadiannya kian bertambah dari waktu ke waktu, sehingga menjadi perhatian kesehatan masyarakat di banyak negara termasuk Indonesia. Komplikasi serius dapat timbul apabila penyakit ini tidak dikendalikan dengan baik. Kejadian diabetes melitus dipengaruhi oleh faktor risiko yang tidak dapat diubah maupun yang dapat diubah, seperti aktivitas fisik, pola makan, obesitas, perilaku merokok, dan hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui keterkaitan faktor tersebut dengan kejadian diabetes melitus di Puskesmas Tuban. Desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional digunakan dalam penelitian ini. Populasi berjumlah 105 anggota Prolanis di Puskesmas Tuban, dengan 83 responden dipilih sebagai sampel melalui simple random sampling. Aktivitas fisik, pola makan, obesitas, perilaku merokok, dan hipertensi menjadi variabel independen, sedangkan kejadian diabetes melitus sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan hubungan bermakna antara aktivitas fisik (p=0,008), pola makan (p=0,007), dan hipertensi (p=0,001) dengan kejadian diabetes melitus. Sebaliknya, obesitas (p=0,934) dan perilaku merokok (p=0,784) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Pengendalian kadar glukosa darah pada anggota prolanis dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko sehingga diperlukan pengelolaan diabetes melitus secara komprehensif. Upaya pengendalian faktor risiko melalui edukasi, pemantauan rutin, serta penerapan gaya hidup sehat di pelayanan kesehatan primer berperan enjaga kestabilan glukosa darah serta menekan risiko komplikasi.
Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Dampak Cyberbullying Remaja Di SMP Negeri 2 Plumpang Widya Nurbani Aulia; Titik Sumiatin; Su’udi; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2366

Abstract

Cyberbullying merupakan bentuk perundungan yang dilakukan melalui media digital yang dapat memberikan dampak serius, baik secara psikologis, sosial, akademik, maupun fisik pada remaja. Kasus cyberbullying terus meningkat seiring tingginya penggunaan internet pada remaja di Indonesia. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai dampak cyberbullying menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya perilaku tersebut. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang dampak cyberbullying di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban. Metode: Desain pada penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi penelitian seluruh siswa kelas VII dan VIII di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban berjumlah 247 siswa. Besar sampel sebanyak 153 responden menggunakan teknik simple random sampling dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil: Hasil penelitian didapatkan hampir seluruh remaja di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 122 responden (79,7%), sebagian kecil memiliki pengetahuan cukup sebanyak 30 responden (19,6%) dan memiliki pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (0,7%). Simpulan: Remaja cenderung telah memiliki pemahaman yang baik mengenai dampak cyberbullying, namun masih terdapat sebagian kecil yang memiliki pengetahuan cukup dan kurang. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban pernah terjadi kasus perundungan yang dinilai berdampak negatif terhadap siswa dan pernah dilakukan penyuluhan mengenai bahaya perundungan. Namun, penyuluhan mengenai dampak cyberbullying belum dilakukan secara optimal, sehingga perlu adanya upaya edukasi yang berkelanjutan melalui literasi digital dan penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran serta mencegah terjadinya cyberbullying dikalangan remaja.
Persepsi Akseptor Pada Pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Di Puskesmas Tuban Tri Wahyu Setiyowati; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2367

Abstract

Secara nasional program KB di Indonesia diarahkan ke metode kontrasepsi jangka Panjang (MKJP) dibandingkan non-MKJP karena dianggap lebih efektif, efisien, aman, dan ekonomis. Namun kenyataannya penggunaan MKJP masih lebih rendah dibandingkan non-MKJP. Meskipun demikian, terdapat akseptor yang telah menggunakan MKJP dengan berbagai persepsi yang dimiliki. Persepsi tersebut dapat mempengaruhi keberlanjutan penggunaan serta kepuasan akseptor terhadap MKJP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Persepsi akseptor pada pemakaian metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Tuban. Desain penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor MKJP yang mendapatkan pelayanan KB di Puskesmas Tuban pada bulan Desember 2025 s/d Februari 2026 yaitu sebanyak 94 akseptor, dengan sampel sebanyak 76 akseptor yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan 24 pernyataan yang mencakup pengetahuan, keyakinan, sikap, sarana dan kemudahan akses, dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor memiliki persepsi yang baik terhadap pemakaian MKJP, meskipun akseptor dengan persepsi cukup hingga kurang masih ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi akseptor memiliki peranan penting dalam mendukung penerimaan serta keberlanjutan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Dapat disimpulkan bahwa persepsi akseptor pada pemakaian MKJP di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebagian besar dalam kategori baik. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan konseling secara berkelanjutan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman serta persepsi positif akseptor terhadap MKJP.
Pola Makan Dan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Peserta Prolanis Di Puskesmas Tuban Prasetyo Garuda Nusantara; Su’udi; Titik Sumiatin; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2374

Abstract

Diabetes Melitus jenis 2 adalah penyakit yang tidak dapat ditularkan dengan tingkat prevalensi yang berkembang. Di Indonesia, sekitar 70% pasien DM Tipe tidak mampu mengontrol gula darah dengan baik. Fokus Studi ini mencakup untuk menganalisis hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada pasien DM Tipe 2 peserta Prolanis di Puskesmas Tuban. Metode analitik korelasional dan cross-sectional digunakan dalam studi ini. Sampel dari 65 peserta prolanis dikumpulkan dengan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) untuk aktivitas fisik, kuesioner frekuensi makan (FFQ), dan rekam medis untuk kadar gula darah. Untuk melakukan analisis, uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 digunakan. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar (52,3%) peserta prolanis memiliki kebiasaan makan yang sehat, mengontrol gula darah, dan hampir setengah (47,7%) peserta prolanis memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat, dengan aktivitas ringan. Kadar gula darah dan pola makan berkorelasi, hasil menunjukkan bahwa seluruh (100%) peserta prolanis memiliki kadar gula darah normal dan menjaga pola makan yang sehat. Aktivitas fisik dan kadar gula darah berkorelasi positif. Makanan sehat dan aktivitas fisik yang lebih tinggi secara substansial berhubungan dengan terkendalinya kadar gula darah. Tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan edukasi gizi dan program aktivitas fisik kelompok dalam Prolanis secara berkelanjutan.
Pengetahuan Tentang Dampak Merokok Terhadap Kesehatan Jantung Di SMK Taruna Jaya Prawira Tuban Cicik Vidyanti; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2375

Abstract

Merokok dianggap sebagai salah satu penyebab utama penyakit jantung dan merupakan faktor risiko signifikan bagi penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Di Jawa Timur, jumlah remaja berusia lebih dari 15 tahun yang merokok masih cukup besar. Minimnya pemahaman remaja mengenai konsekuensi merokok bagi kesehatan jantung bisa berdampak pada sikap dan kesadaran mereka dalam merawat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan remaja terkait efek merokok terhadap kesehatan jantung di SMK Taruna Jaya Prawira Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh remaja kelas X Jurusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Komputer dan Jaringan SMK Taruna Jaya Prawira Tuban Tahun Ajaran 2025/2026 dengan jumlah sampel 152 remaja. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh remaja berjenis kelamin laki-laki sebanyak 138 remaja (91%), sedangkan remaja perempuan sebanyak 14 remaja (9%). Sebagian kecil (17%) remaja memiliki tingkat pengetahuan baik tentang dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Berdasarkan jenis kelamin, seluruh remaja perempuan (100%) memiliki tingkat pengetahuan baik tentang dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Pemahaman tentang efek merokok pada kesehatan jantung tidak hanya datang dari pengajaran di sekolah, tetapi juga harus diperkuat dengan pendidikan kesehatan yang berkelanjutan. Sekolah dapat meningkatkan program pendidikan kesehatan melalui penyuluhan tentang bahaya merokok terhadap kesehatan jantung dan pemasangan media edukasi kesehatan sehingga pemahaman remaja tentang efek merokok terhadap kesehatan jantung bisa bertambah.
Kebiasaan Minum Teh Setelah Makan Dengan Kejadian Anemia Pada Santri Putri Di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah Tuban Muchammad Nauvas Syauqi; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2377

Abstract

Anemia gizi besi masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang dominan di Indonesia, khususnya pada kelompok remaja putri di ekosistem pesantren yang rentan akibat berbagai determinan, termasuk perilaku asupan teh postprandial yang menginhibisi absorpsi mineral besi. Pengkajian ini berorientasi untuk menguji korelasi antara habituasi konsumsi teh pascamakan terhadap insidensi anemia pada populasi santriwati di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah Tuban. Metode observasional analitik berdesain cross-sectional diterapkan dengan menempatkan habituasi minum teh pascamakan sebagai variabel bebas dan manifestasi anemia sebagai variabel terikat. Seluruh populasi santri putri sebanyak 60 subjek dilibatkan secara utuh memanfaatkan pendekatan total sampling. Evaluasi deskriptif mengidentifikasi bahwa porsi terbesar sampel (70,0%) mencatatkan habituasi konsumsi teh pada kategori adekuat, meskipun tingkat kejadian indikasi klinis anemia mencakup proporsi mayoritas (75,0%). Analisis kontingensi memperlihatkan gejala anemia dialami oleh 83,3% responden pada kelompok kebiasaan baik dan 55,6% pada kelompok kebiasaan kurang adekuat. Komputasi biostatistik memanfaatkan uji alternatif Fisher's Exact Test menghasilkan probabilitas p = 0,048 (p < 0,05), yang mengonfirmasi keberadaan korelasi signifikan secara statistik antara habituasi asupan teh sesaat setelah makan dengan risiko presipitasi anemia. Temuan ini mempertegas bahwa perilaku konsumsi teh postprandial berkontribusi nyata terhadap risiko anemia gizi besi, yang berpotensi diperberat oleh intensitas aktivitas fisik harian. Oleh sebab itu, penguatan program promosi kesehatan melalui edukasi literasi gizi terstruktur krusial diimplementasikan demi mengoptimalkan upaya preventif di lingkungan pesantren.